Nonton film bareng…

<

Setuju nggak sih klo KKN tuh adalah masa-masa penuh dengan romantisme? Bagi yang menjawab setuju, mungkin pada saat KKN kita bisa menemukan True Love atau Temporary Love yang cukup berkesan. Bagi yang menjawab tidak, ya mungkin seperti saya, tidak ada cinta yang berkumandang alias biasa-biasa wae. Sudahlah, kita lewatkan romantisme itu.

Tiga bulan di desa dan jauh dari hingar bingar kota atau kampus. Mungkin bukan sesuatu yang biasa. Malah bisa dibilang luar biasa menarik (bagi yang pertama kali). Pengalaman dan kenangan banyak kita dapatkan disini. Namun tugas utamanya ialah pandai-pandai membuat program kerja yang kira-kira memang dibutuhkan oleh desa tersebut.

Tenyata, meskipun sudah menyusun program kerja sedemikian rupa. Antara satu desa dengan desa yang lainnya tidak beda jauh lah. Biasanya program kerja terbagi menjadi 4 bidang yaitu, bidang kesehatan, pendidikan, pertanian dan keorganisasian masyarakat. Mungkin disesuaikan berdasarkan keahlian fakultas/ jurusan masing-masing. Jadi wajar deh klo tampak sama.

Aku sendiri memegang bidang pendidikan (disesuaikan dengan jurusan :p). Namun untuk program kerja aku ogah kalo harus mengajar di sekolahan, seperti desa-desa lainnya. Masalahnya bukan karena tidak bisa ngajar, tapi karena jahe (jago hees). Sebagai gantinya kami mengadakan belajar bareng di basecamp. Ada juga program kerja yang hampir semua desa sama. Yaitu kunjungan sekolah dan acaranya adalah nonton film bertemakan pendidikan. Dan film yang diputar, sama juga. Kok bisa sama sih? Apa semua otak mahasiswa yang lagi KKN ada jejaringnya jadi pada sama gini.

Biar tampak beda dengan desa lainnya. Akhirnya aku mencoba untuk menayangkan film pendidikan lingkungan. Kebetulan aku dapat dari teman yang aktif di LSM lingkungan. Film animasi pendek dengan durasi sekitar 8 menit ini mempunyai judul Turtle World.

Sesuai dengan judulnya, film ini mengisahkan tentang perumpamaan sebuah dunia berupa kura-kura dan beberapa ekor monyet yang tinggal di hutan tempurung kura-kura. Fokus cerita menampilkan aktivitas monyet yang pada awal mulanya saling bersaing untuk membuat tempat tinggal yang nyaman dengan menggunakan sumber daya yang ada hingga akhirnya peradaban mereka maju. Permasalahan mulai muncul ketika peradaban yang maju tidak disertai akan kesadaran terhadap lingkungan membuat sang kura-kura menangis kesakitan. Tak tahan merasakan sakit, sang kura-kura yang dari awal cerita terbang di angkasa akhirnya jatuh dan menenggelamkan diri kembali kelaut.

Yang menarik dari film ini adalah tingkah laku para monyet yang selalu tidak puas dengan apa yang sudah mereka dapatkan. Selain itu, meskipun sang kura-kura sudah memperingatinya, monyet-monyet bersikap seolah-olah tidak mau tahu.

Film ini lebih dari cukup untuk mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga lingkungan sedini mungkin. Sebelum kita semua merasa terlambat ketika bencana datang tiba-tiba.

Selamat menonton dan menyebarkan.

A027

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s