Sebongkah feses dari Surili

Seorang bule dari Jerman datang ke kampusku. Namanya Dirk. Orangnya tinggi, seperti bule pada umumnya, hidung mancung, kulit putih, dan rambut coklat. Bahasa Indonesia-nya belum cukup fasih. Tapi ia sudah hampir keliling pulau Indonesia. Bikin iri!

Tujuannya datang ke Indonesia adalah menyelesaikan studi S3, tentang evolusi geografi primata sub suku colobinae yaitu leaf eating monkey (genus Presbytis). Bingung kan? Intinya sih dia menganalisa asal usul embah-nya Presbytis berasal darimana. Untuk itu dia membutuhkan sampel DNA tiap-tiap Presbytis yang tersebar di Indonesia.

Yang bikin lucu adalah sampel DNA yang dia butuhkan bukan dari jaringan atau sampel darah tapi berasal dari tokai (feses). Lalu kenapa dia harus repot-repot mencari feses monyet di hutan, kenapa tidak mengambil sampel yang ada di kebun binatang Bandung. Alasannya sih simpel, yaitu hewan yang ada di Bonbin kurang jelas asal usulnya. Mungkin karena ngga ada datanya kali ya…


Dia datang ke kampus untuk mencari referensi lokasi Surili yang mudah ditemukan. Berdasarkan informasi hasil penelitian yang sudah-sudah, maka dipilihlah lokasi Ciwidey, Kabupaten Bandung. Aku ditawari untuk ikut oleh Pak Dosen. Sekali-kali jadi guide modal hah heh hoh yes no yes no gapapa lah, sayang klo ditolak.

Di pulau Jawa hanya ada satu genus Presbytis yaitu Surili (Presbytis comata). Surili memiliki ciri warna bulu pada bagian belakang hitam keabuan, pada bagian kepala sampai jambul berwarna hitam. Tubuh bagian depan mulai dari bawah dagu, dada, perut, bagian dalam lengan, kaki dan ekor berwarna putih. Warna kulit muka dan telinga hitam pekat agak kemerahan. Warna iris mata coklat gelap.

Primata ini sangatlah pemalu dan berhati-hati. Surili hidup berkelompok dengan jumlah anggota antara 7-12 ekor. Setiap kelompok biasanya terdiri dari satu jantan dengan satu atau lebih betina (one male multi female troop). Surili aktif pada siang hari (diurnal) dan lebih banyak melakukan aktivitasnya pada bagian atas dan tengah dari tajuk pohon (arboreal). Kadang-kadang Surili turun ke dasar hutan untuk memakan tanah. Kebiasaan ini berkaitan dengan pola makan Surili yaitu memakan dedaunan yang tinggi akan serat, sehingga ia memerlukan unsur tambahan mineral dan juga bakteri untuk membantu proses pencernaan daun. Surili termasuk jenis primata yang banyak mengkonsumsi daun muda atau kuncup daun sebagai makanannya. Bila dilihat komposisi makanan yang dikonsumsi Surili, 64% dari makanannya adalah daun muda, 14 % buah dan biji, 7 % bunga dan sisanya berupa serangga, jamur dan tanah. Disamping itu jenis tumbuhan yang menjadi makanan Surili juga sangat beragam. Beberapa hasil penelitian memperlihatkan bahwa Surili mengkonsumsi lebih dari 75 jenis tumbuhan yang berbeda.

Surili merupakan satwa yang hanya terdapat (endemik) di Jawa Barat dan Banten. Satwa ini dilindungi oleh perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yaitu berdasarkan SK Menteri Pertanian 5 April 1979, No. 247/Kpts/Um/1979, SK Menteri Kehutanan tanggal 10 Juni 1991, No. 301/Kpts-II/1991 dan Undang-undang No. 5 Tahun 1990.

Penyusutan habitat merupakan ancaman terbesar bagi populasi Surili. Saat ini jenis primata ini hanya dapat dijumpai di kawasan lindung dan konservasi dengan jumlah yang tersisa berkisar antara 4000-6000 ekor.

Perburuan feses Surili akhirnya difokuskan di tempat Wisata Kawah Putih Ciwidey. Akses yang mudah dan sumber informasi yang tepat berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan (sigit, 2004), memudahkan pencariannya karena sudah terpetakan lokasi keberadaan tiap kelompok.

Mencari feses Surili bukanlah perkara mudah. Meskipun Surili sudah ditemukan belum tentu dia mau buang tokai seenaknya. Perlu metode khusus untuk memancingnya datang dan membuang feses. Surili sangat peka sekali dengan kehadiran manusia. Begitu melihat ada yang mencurigakan, pemimpin kelompok akan mengajak anggotanya untuk bersembunyi dan diam dibalik kerimbunan daun. Terkadang, meskipun jarak kita dengan surili sangatlah dekat, sulit sekali untuk mengetahui keberadaannya.

Selama di hutan asap selalu mengepul dari mulut si Bule. Dia itu perokok berat. Sehari bisa satu bungkus, katanya sih karena rokok disini murah jadi dia ngisep kayak lokomotif berjalan. Tapi aku tidak pernah melihatnya membuang puntung rokok di dalam hutan. Dia selalu memasukkan sisa puntung rokok ke dalam saku dan membuangnya di penginapan. Contoh yang patut ditiru dan perlu dibiasakan untuk tidak jahil asal buang puntung.

Si bule menggunakan speaker dan rekaman suara surili untuk memanggil. Rekaman suara diputar disekitar wilayah yang diperkirakan sebagai teritori surili secara berulang-ulang hingga surili datang. Jika panggilan palsu ini tepat sasaran, maka surili yang menguasai wilayah tersebut akan membalasnya. Setelah membalas dengan teriakan, pemimpin kelompok akan datang menghampiri sumber suara dan berputar-putar di sekelilingnya sambil berlompatan diantara pepohonan dan menimbulkan suara berisik ranting pohon. Sesekali ia berhenti dan mengamati. Namun karena ia tidak menemukan lawannya (hanya suara), cukup membuatnya stress kebingungan. Bila dirasa sudah aman dia akan melakukan panggilan untuk anggota kelompoknya lalu kembali berkumpul dan bergerak meninggalkan lokasi bersama anggotanya.

Setelah surili pergi kini giliran kami berkeliling mencari sisa-sisa buangan Surili. Pencarian feses dilakukan dengan menyisir jejak yang dilalui oleh surili. Cukup sulit, karena kami tidak tahu apakah surili sempet BAB atau tidak. Empat hari mencari feses belum membuahkan hasil. Tapi setidaknya aku mendapatkan pelajaran yang berharga, yaitu dapat membedakan feses hewan pemakan daging dan pemakan daun. Kalo ciri-ciri feses pemakan segala… kira-kira sama nggak yah dengan punya sendiri?

Berbagai hambatan selama pencarian tokai seringkali datang. Cuaca yang tidak bersahabat, kondisi medan yang curam dan latihan militer yang bikin jantung dag dig dug der dengan suara pelor dan dentuman meriam membuat surili enggan keluar (perlu dipertimbangkan nih).

Pada hari kelima akhirnya kami mendapatkan feses surili. Penemuan fesesnya pun terbilang konyol. Bau feses surili tidak sebau feses pemakan daging yang berbau menyengat. Sedikit harum. Aku menggiranya itu adalah wangi anggrek tanah yang sedang berbunga. Penasaran dengan wanginya aku mencium bunga anggrek tersebut. Tapi kok nggak wangi yah?? Ternyata oh ternyata dibalik daun anggrek, sebongkah feses segar hijau gelap lembab dan hangat-hangat tahi Surili menyebarkan aromanya.

Segera saja aku memanggil si bule. Begitu melihat feses yang kutemukan, dia tampak terkagum-kagum. Matanya berbinar-binar kegirangan. Setelah aral merintang, akhirnya kami menemukannya. Dengan sangat berhati-hati sekali ia memindahkan bongkahan feses tersebut ke dalam tabung khusus yang ia persiapkan. Tidak seucrit pun ia lewatkan penemuan yang berharga itu. Akhirnya… sampel ini mengakhiri petualangan kami memburu sebongkah feses Surili.

Satu bulan kemudian, aku mendapat kabar bahwa bongkahan feses surili yang kami temukan tampak sangat jelas sekali struktur DNA-nya. Mungkin karena hangat-hangat tahi Surili kali ya. Untunglah.

Pesan untuk Surili: Lain kali BAB nya di kloset aja biar gampang nyarinya.

A027

6 comments

  1. omas_witarsa · Juli 21, 2009

    saya pernah merekam perburuan surili di tepian danau patenggang , sayang tidak ada polisi hutan di sana , mereka giring dari tengah hutan dengan beberapa ekor anjing dan beberapa orang yang berteriak-teriak , sehingga surili panik ,jatuh dan langsung di sergap oleh taring anjing yang runcing .
    saya tidak tahu untuk apa mereka memburu surili ?, untuk dimakan atau untuk alasan lain seperti untuk obat kulit !…entah lah !

  2. agungsmile · Juli 21, 2009

    oh iya, terimakasih pak. saya pernah melihat video perburuan yang bapak maksud. kondisi surili di patengan memang cukup mengkhawatirkan, dan populasinya mengalami penurunan.

  3. Toto Supartono · November 13, 2011

    Maaf, kalo boleh tau, siapa bule yang melakukan penelitian tersebut? APakah punya alamat kontak: alamat kantor atau email bule tersebut? Kalo tidak keberatan, saya mohon informasinya. Kebetulan saya juga akan melakukan penelitian tentan surili. Terima kasih.

  4. vitri ludiana · Februari 29, 2012

    Good experience

  5. Caroline Magdalena · Mei 2, 2012

    lalu bagaimana hasil DNA-nya? apakah ada memaparan hasil penelitiannya? kalau bisa, diakses dimana yah? mohon bantuan karena akan adakan acara ttg satwa langka, khusunya surili jawa.
    terima kasih.

    • Ismail Agung · Mei 3, 2012

      Hai caroline, sampai saat ini saya belum tahu kabarnya. Tapi setahu saya hasil penelitiannya tentu saja sudah ada. Untuk informasi lebih lanjut mungkin bisa mencari di RISTEK atau universitas yang bekerja sama dengannya (IPB). Mudah-mudahan sedikit info ini bisa membantu.

      Terima kasih kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s