Kisah Chiko…

Namanya Chiko. Matanya bulat dan besar. Klo berjalan dia sangat lamban sekali. Tampak seperti berhati-hati dalam setiap langkahnya. Dia tidak sedang sakit flu, tapi hidungnya selalu saja basah dan dingin. Setiap siang dia demennya tidur sambil menggulung seperti bola menyembunyikan mukanya. Tapi kalo dah malam, berisiknya minta ampun, teriakannya seperti mendesis.

Chiko masih kecil. Klo makan harus disuapin. Biasanya dikasih makan pisang atau buah-buahan lain. Tiap malam dia minum susu. Bulunya lembut, kayak selimut habis laundry. Kadang dia bau pesing, jadi harus dimandiin. Dia juga manja banget.

Chiko pernah hilang. Karena lupa menyimpannya di kandang. Kolong meja, kolong kursi, dibalik lemari, chiko tidak ditemukan. Ketika malam chiko mendesis. Setelah ditelusuri, ternyata ia bersembunyi di balik jaket yang digantung. Dia memang senang bersembunyi di tempat gelap.

Resti, mahasiswa kedokteran gigi. Dia pertama kali melihat Chiko di penjual hewan depan BIP. Resti tidak tahu hewan apa sebenarnya Chiko itu. Si penjual mengatakan koala Kalimantan. Dan Resti percaya saja. Chiko kecil mungkin baru berumur sekitar 3-5 bulan. Usia yang bisa dibilang sedang lucu-lucunya. Karena kasihan, Resti membelinya seharga 150 ribu dan membawanya pulang kerumah.

Resti merawat, mengasuh dan mengajaknya bermain dengan penuh kasih sayang. Resti tidak tahu klo Chiko ternyata hewan yang dilindungi. Resti tidak tahu klo Chiko termasuk hewan yang sedang terancam punah. Resti tidak tahu klo sebenarnya Chiko sedang bersedih karena ditinggal induknya, dan Chiko tidak pernah menunjukkan kesedihannya. Hanya wajah polos dan lugu.

Tapi ini semua bukan salah Resti. Resti tidak bersalah atas ketidaktahuannya tentang Chiko. Resti tidak bersalah karena ia merasa kasihan lalu membeli dan merawat Chiko. Justru pedagang dan pemburu itulah yang salah. Tidak seharusnya mereka menangkap dan memperjualbelikan Chiko. Karena sebenarnya mereka tahu bahwa mereka dilarang untuk menangkap dan menjual Chiko.

Bersyukurlah, akhirnya Resti tahu mengenai Chiko. Siapa dan dimana seharusnya Chiko berada. Bukan dirumahnya menjadi hewan peliharaan. Tapi di alam liar, tempat yang sangat membutuhkan kehadirannya.
Dengan berat hati Resti akhirnya menyerahkan Chiko kepada mereka yang peduli terhadap kelestarian Chiko dan saudara-saudaranya. Chiko seekor Kukang yang masih mungil. Kukang kecil yang dipaksa meninggalkan induknya oleh pemburu. Kukang yang tidak seharusnya menjadi hewan peliharaan. Kukang yang dilindungi. Kukang yang terancam keberadaannya. Untuk kembali belajar menjadi satwa liar dan hidup di alam.

A027

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s