Jalan-jalan ke Sancang (bag 2)

Meskipun telah menyisakan pilu, hutan Sancang masih tetap memberikan kenangan yang berharga. 5 jenis primata yang terdapat di pulau Jawa masih dapat kita temukan semuanya di hutan ini. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Lutung Jawa (Trachypitechus auratus), Surili (Presbytis comata), Owa Jawa (Hylobtes moloch) dan Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) adalah primata-primata yang hanya terdapat di pulau Jawa (endemik). Primata-primata endemik cenderung cukup rentan terhadap ancaman yang terjadi pada habitatnya. Sehingga diperlukan juga perlindungan terhadap habitatnya.

Kecuali Kukang (primata nokturnal -aktif pada malam hari-), Monyet, Lutung, Surili dan Owa merupakan primata yang mudah untuk kita temui di Sancang. Pagi dan sore merupakan waktu terbaik untuk pengamatan, karena pada jam-jam tersebut merupakan jam makan bagi mereka.

Diantara keempat primata tersebut, yang paling menarik tuh mengamati Owa. Selain suaranya yang khas dan nyaring pada pagi hari, Owa juga pandai mempertunjukkan kemahirannya beratraksi di atas pohon seperti seorang akrobat profesional. Jumlah anggota kelompok Owa berkisar antara 2-3 individu. Sangat berbeda dengan Monyet, Surili ataupun Lutung yang jumlah anggota kelompoknya bisa mencapai 10 ekor lebih. Owa yang diidentikkan sebagai satwa setia terhadap pasangannya (monogami) ini dilindungi dengan status kritis (IUCN). Hal tersebut dikarenakan populasinya kian lama kian menyusut.

Lutung, primata dengan bulu hitam lebat sekujur tubuh ini cukup mudah ditemukan. Biasanya terlihat dipinggiran hutan. Karena jumlah anggota kelompoknya yang lumayan banyak, maka tak heran bunyi ranting atau dedaunan menandakan kehadirannya. Sama seperti monyet. Tapi lain lagi dengan Surili, primata ini sangatlah pemalu dan cukup waspada dengan kehadiran manusia ataupun satwa lainnya. Ketika merasa tidak aman, Surili biasanya diam atau bersembunyi di balik dedaunan yang rimbun.

Di tengah kondisi hutannya yang tidak lagi nyaman, para primata ini tetap bertahan. Entah sampai kapan mereka masih bisa bertahan. Bila luas area hutan makin menyempit/ berkurang, maka akan mempengaruhi stabilitas mereka untuk bertahan hidup. Bagi mereka hutan adalah sumber makanan dan sumber kehidupan. Ketiadaan hutan bagi mereka sama saja dengan mengucapkan selamat tinggal pada dunia.

A027

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s