kukang jawa

Sejatinya, Kukang adalah satwa yang tidak seharusnya dipelihara. Namun hingga kini banyak orang yang memeliharanya. Alasannya pun macam-macam, dari sekedar tertarik karena keimutannya hingga alasan ketidaktahuan si pemelihara akan jenis satwa tersebut. Namun bicara tentang potensi penyakit, saya rasa ini adalah hal yang semua orang harus tahu sebelum mereka memutuskan untuk memelihara dan membahayakan dirinya.

Kukang (bukan Kuskus) termasuk ke dalam bangsa Primata dimana satwa ini memiliki kekerabatan yang cukup dekat dengan manusia. Maka oleh karena itu, baik secara fisik maupun genetik berbagai jenis penyakit seperti bakteri, virus, dan parasit akan lebih mudah menular antara kita dan satwa primata (saya menyebutnya zoonosis).

Salah satu penyakit yang sering ditemukan pada Kukang yang dipelihara adalah cacingan. Cacingan sering dianggap hal yang sepele, padahal dalam kondisi parah dapat mengakibatkan kematian pada satwa. Stress pada Kukang dapat memicu meningkatkan potensi cacingan. Seringkali kukang peliharaan mendapat kontak fisik dengan si pemelihara, ditempatkan pada kandang yang tidak cocok untuknya, hingga berbagai macam perlakuan yang tentunya tidak sesuai dengan kondisi fisiologis dan tingkah lakunya alaminya.

Cutaneous-Larva-Migrans-CLM
strongyloides
MODE-OF-TRANSMISSION

Cacing Strongyloides adalah jenis cacing yang sering ditemukan pada Kukang. Cacing ini dapat menular antar satwa dan manusia, dan secara klinis menyebabkan bengkak gatal kemerahan pada kulit apabila larva cacing ini berpindah melalui kulit.

Jika larva cacing berpindah melewati paru-paru, maka potensi penyakit yang ditimbulkannya adalah kerusakan alveol paru-paru, pneumonia, hingga asma. Tidak hanya itu saja, diare dan kerusakan hati pun bisa disebabkan oleh cacing Strongyloides.

Dengan resiko penyakit tersebut, Kukang tidak dapat bertahan hidup lama dalam pemeliharaan manusia. Andai pun kukang bisa bertahan hidup lama, maka potensi penularan penyakit antara Kukang dan Manusia akan semakin besar. Dan tentu saja, anak-anak adalah korban yang paling mudah untuk terjangkiti.

Masih berminat untuk memelihara Kukang?
Apakah anda mau mengambil resiko tersebut?

Lebih baik urungkan niat anda untuk memelihara. Biarkan Kukang hidup bebas di alamnya. Dengan begitu anda telah turut berperan untuk menjaga kesehatan dan upaya pelestarian.

*tulisan ini dibuat berdasarkan bincang-bincang dengan dokter hewan yang selama ini menangani Kukang di pusat rehabilitasi.

Refleksi Satu Tahun Gempa

3 September 2010

Hujan, masih sama seperti tahun kemarin. Gambung Ciwidey, masih juga diguyur hujan seperti sebelum-sebelumnya. Tapi sekarang lumayan lebih baik. Apalagi rumah-rumah yang tepat september tahun lalu hancur digoyang oleh gempa 7,3 skala ritcher.

Sudah terlihat lebih baik, dan masyarakatnya pun sudah kembali mengeliat. Mungkin sudah lupa, atau mencoba untuk melupakan. Bahkan senyum-senyum anak-anak kecil yang rentan trauma itu terlihat lebih ceria dibandingkan setahun lalu.

Hari itu, Sigit dan beberapa teman yang tergabung di Rumah Pintar Gambung-Papakmanggu mengontak teman-teman lain yang dulu pernah ikut terjun langsung sebagai relawan anak gempa. Dalam rangka mengenang kembali peristiwa yang tidak untuk ditangisi dan juga silaturahmi, akhirnya kami semua berkumpul di basecamp yang dulu kami gunakan sebagai posko.

Kehadiran para eks relawan kemudian disuguhi oleh tayangan video dan slide show foto yang dulu pernah diambil. Bukan untuk nangis-nangisan lagi, tapi lebih ke kembali mengingat bahwa pada masa itu kami semua pernah menjadi bagian dari orang-orang yang memiliki rasa peduli tinggi, rasa empati, tanpa pamrih, dan termasuk orang-orang yang beruntung karena pada akhirnya kami mendapatkan kawan dan pengalaman yang hingga saat ini masih bertahan sebagai sesuatu yang baik dan jangan pernah dilupakan. Dan kami pun tertawa terbahak-bahak, karena selalu ada kejadian lucu yang tertangkap kamera yang akan terus menjadi aib tak terlupakan.

Sungguh beruntung bagi warga Gambung. Setidaknya bila dibandingkan dengan korban gempa yang berada di lokasi lainnya. Berdasarkan berita yang ada pada koran Pikiran Rakyat (2 September), di sana ditulis bahwa masih ada desa yang hingga saat ini belum mendapatkan bantuan untuk perbaikan. Entah apa yang menjadi kendala mereka, apa karena akses jaraknya yang jauh, atau dana bantuan yang tak pernah turun karena proses birokrasi yang ribet, atau ada tangan-tangan jahil yang mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain. Entahlah. Semoga saja Tuhan senantiasa memudahkan jalan bagi mereka yang beriman.

Untuk Gambung sendiri, rumah-rumah yang pada waktu itu kondisinya rusak berat (sudah tidak layak huni) kini sudah diperbaiki. Bukan sekedar diperbaiki saja, tapi digantikan dengan rumah yang baru. Dan rumah baru itu juga bukan rumah bambu yang dulu sempat digulirkan sebagai alternatif penganti. Tapi benar-benar rumah, rumah dengan tembok bata dilapis semen dan pasir lantai keramik. Tampak lebih baik bukan. Mungkin sudah rejekinya mereka mendapatkan itu semua.

Termasuk juga sekolah mereka yang kini masih dalam tahap renovasi. Lebih baik dan lebih aman dibandingkan sebelumnya.

Akhir kata, semoga bencana dan cobaan ini segera berakhir.

Tuhan Maha Pengasih.

BANDUNG, KOMPAS – Penanganan trauma bagi anak-anak korban gempa bumi di Kabupaten Bandung belum intensif. Padahal, mereka adalah pihak yang paling rentan dalam bencana dan dampaknya akan terbawa hingga dewasa.

Menurut pemantauan Kompas, Rabu (9/9), pendampingan korban anak oleh sejumlah sukarelawan memang ada di beberapa titik di Kecamatan Pangalengan. Namun, kegiatan itu tidak ditemukan di 11 kecamatan lain yang juga terkena gempa. Penanganan korban gempa di lapangan masih sebatas distribusi bantuan logistik.

"Untuk Desa Mekarsari, Kecamatan Pasirjambu, saja ada 600 orang anak yang terdata pemerintah desa. Namun, baru sekitar 100 anak yang sanggup kami dampingi," kata Ismail Agung, sukarelawan.

Dia menjelaskan, anak-anak yang menjadi korban gempa umumnya menjadi pribadi yang tertutup dan mudah ketakutan. Mereka ketakutan dengan orang asing atau ketika mendengar bunyi benda jatuh.

Pada kasus tertentu, kelompok sukarelawan tersebut menemukan dua kasus anak yang mengalami trauma berat. Gejalanya adalah sering marah-marah tanpa sebab, lebih pemurung, dan penyakit yang diderita sejak lahir, seperti asma, memburuk.

"Kasus tersebut membutuhkan penanganan psikolog yang mengerti anak-anak. Masalahnya, tidak ada dari kami yang ahli dalam penyembuhan trauma bagi anak. Kami hanya mengajak mereka bermain sehingga tidak terlalu memikirkan musibah yang menimpa keluarga mereka," ungkap Agung.

Agung bersama 14 rekannya mengaku bukan perwakilan lembaga, melainkan perseorangan. Sasaran kegiatan mereka adalah anak-anak yang menjadi korban gempa.

Sukarelawan lain, Niki Suryaman, menjelaskan, sukarelawan mengajak anak-anak bermain dan beraktivitas sehingga mereka bisa mencurahkan kegundahan hati. Pada hari pertama anak-anak masih tertutup, tetapi pada hari ketujuh sudah kembali ceria dan berani menyapa orang dewasa lain.

Hal itu dibenarkan Vina (9), anak korban gempa yang sedang bermain di Rumah Pintar Gambung. Dia masih merasa takut akibat gempa, tetapi kini sudah berani bermain dan kembali tertawa bersama teman sebaya. Tak punya data

Sebelumnya, Operations Director World Vision Indonesia Amelia Merrick, yang berkunjung ke tempat pengungsian di Desa/Kecamatan Pangalengan, berpendapat, penanganan trauma bagi anak sangat mutlak dilakukan karena kondisi kejiwaan mereka masih polos. Jika tidak ditangani dengan baik, trauma itu memengaruhi perkembangan kejiwaan dan akan terus terbawa hingga beranjak dewasa.

Masalah distribusi tenaga sukarelawan yang tidak merata itu juga diakui petugas posko bantuan Kabupaten Bandung, Tigin Pribadi. Posko sukarelawan terlalu terkonsentrasi di Kecamatan Pangalengan. "Bisa jadi karena yang selalu diliput oleh media massa atau karena Kecamatan Pangalengan merupakan wilayah yang mengalami kerusakan paling parah se-Kabupaten Bandung," kata Tigin.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Bandung juga belum memiliki data valid mengenai jumlah anak yang menjadi korban gempa dan harus tinggal di pengungsian.

Di tempat pengungsian, anak-anak juga paling rentan terserang penyakit, seperti demam, flu, gatal, dan radang tenggorokan, akibat debu dan hawa dingin yang harus dihadapi selama tinggal di sana. (eld)

Dari Tribun Jabar, 09 September 2009.

DUA anak laki-laki berjalan melintasi Lapangan Bola Gambung, Kampung Gambung, Desa Mekarsari, Kecamatan Pasirjambu Selasa (8/9) siang. Di lapangan, belasan tenda pengungsian didirikan. Di satu tenda besar, belasan anak-anak lain tengah bermain.

Dua anak laki-laki itu bernama Muhammad Ilham Saputra (9) dan Rendi Alfiantoni (12). Keduanya nampak ceria. Meski sebenarnya ada kekhawatiran yang terpendam. Kejadian gempa yang melanda tempat tinggal mereka sudah satu pekan berlalu. Namun kepanikan saat bumi bergoyang masih terus membayang.

"Waktu itu saya lagi main di Ciengang," tutur Rendi. Tiba-tiba saja tanah yang dipijaknya bergetar keras. Keasikannya bermain lodong buyar. Ia lalu berlari pulang. Namun langkahnya tak sampai ke rumah.

Karena di Lapangan Gambung, ratusan orang telah berkumpul. "Saya langsung mencari ibu," ujarnya. Tak lama kemudian ia bisa menemukan ibunya.

Lain lagi dengan Ilham. Siswa kelas 4 SDN Gambung ini saat kejadian tengah berada di rumah bersama ibunya. Ibunya lalu membawa Ilham keluar rumah. "Rumah engga rusak. Tapi piring-piring pecah. Pas keluar, kantor RK juga rusak," akunya.

Ilham bahkan sempat menangis ketika sampai di Lapangan Gambung. "Pas nyampe ke lapangan, banyak yang nangis," ujarnya. Sedangkan Rendi mengaku tak menangis meski ia melihat banyak orang yang menangis di lapangan.

Trauma diguncang gempa ternyata membekas di hati mereka. "Masih sieun. Asa inget keneh kajadian kamari (Masih takut. Masih ingat kejadian kemarin)," ucap Rendi. Hal yang sama juga dirasakan Ilham.

Beruntung ada relawan dari yang tinggal di Rumah Pintar. Relawan mencoba menghilangkan trauma di anak-anak meski dengan metode seadanya. Ilham dan Rendi misalnya, mereka diajak bernyanyi-nyanyi atau menggambar.

"Nyanyinya nyanyi ram tam-tam," ujar Ilham dan Rendi sembari menggerakan tangannya. Dengan nyanyian dan cerita yang dibawakan relawan, anak-anak sedikit demi sedikit bisa melupakan kejadian kemarin.

Apalagi anak-anak untuk sementara waktu tidak bisa bersekolah. Sebagian ruangan kelas di sekolah mereka ambruk. "Saya sih pengennya sekolah lagi," kata Rendi yang diamini Ilham.

Ketua Rumah Pintar di Kampung Gambung Maman Sulaeman mengatakan ada 10 relawan yang setiap hari mengajak anak-anak bernyanyi untuk menghilangkan trauma akibat gempa sedikit demi sedikit. Meski dengan metode seadanya, para relawan mencoba anak- anak bisa bergembira dan melupakan kejadia mengerikan yang dialami.

Ketika ditanya apakah dirinya sudah mendengar pemerintah juga akan turun tangan membantu menghilangkan trauma anak dengan menurunkan psikiater, Maman mengaku belum mendengarnya. Namun ia bergembira jika memang ada psikiater dan tenaga ahli yang bisa membantu menghilangkan trauma anak-anak.

Jumlah anak-anak di Desa Mekarsari sendiri mencapai 600 orang. Itu yang terdata dari dua sekolah dasar di Kampung Gambung. "Untuk di sekitar sini ada kurang lebih 200 anak- anak," sebut Maman.

Relawan lain Ismail Agung mengatakan, dirinya telah sempat berkeliling ke beberapa kampung. Di Kalianten, ia mendapati seorang anak yang mengalami trauma cukup berat. "Dia mengalami stress. Kalau dengan suara keras pasti menjerit. Dan efeknya kena lambung," ungkapnya.

Agung, Maman beserta relawan lain mengaku akan terus mencoba menghibur anak-anak agar anak-anak bisa melupakan kejadian gempa Rabu (2/9). "Meski engga punya basic sampai ke psikiater, kami akan terus mencoba. Caranya dengan bermain dan having fun aja," tutur Agung.(tis)

“Ternyata proses air seperti ini toh!!!”

Mungkin itu lah seruan adik-adik SD Plesiran saat berkunjung ke instalasi air PDAM Bandung yang berlokasi di Jalan Badak Singa.

Instalasi PDAM ini sebenarnya tepat di seberang Jalan Plesiran tempat sekolah mereka berada. Namun kunjungan ini bisa dikatakan adalah kunjungan pertama mereka mengetahui tentang apa sih isi dibalik bangunan-bangunan yang sejuk dengan pepohonan di dalamnya.

Tema  Asal Usul Air menjadi topik utama dalam Edukasi Kreatif Sahabat Kota di SD Plesiran. Ini adalah kali keduanya Sahabat Kota melakukan program edukasi kreatif dimana minggu sebelumnya memperkenalkan tentang membuat Peta Hijau.

Awal kegiatan terlebih dahulu dibuka seperti minggu sebelumnya yaitu dengan permainan Pemecah Es atau dikenal dengan sebutan Ice Breaking. Dipandu oleh Kak Sigit dan Kak Ung, permainan semakin meriah dengan olah tubuh yang bisa dikatakan baru pertamakali mereka temui. Dan mereka sangat ecited, exited (kagum, naon sih bahasa inggris na?) untuk mencoba melakukannya.

Dimulai dengan “Tepuk Semangat”, kemudian “Kacang Blaktuk” dan ditutup dengan “Ram Tam Tam”. Itu lah ice breaking yang biasa saya dan Sigit lakukan. Simple but happy joy joy.

Kegiatan kemudian dilanjutkan kembali di dalam kelas. Kali ini adik-adik duduk manis di kursi bersama kelompok yang sudah dibentuk minggu lalu dan menyaksikan sebuah film animasi buatan Neng Kandi yang bercerita tentang Petualangan Air.

Dalam film tersebut, adik-adik ikut terlibat berperan sebagaimana Banyu tokoh utama dalam film tersebut. Salah satu adegan tersebut mengharuskan Banyu untuk mengunakan lencana Detektif Air, dan adik-adik yang juga memiliki lencana yang sama yaitu lencana “Banyu”. Jadi begitu Banyu memasang lencananya, adik-adik pun ikut turut melakukan hal yang sama.

Petualangan Banyu membawa adik-adik untuk lebih mengenal tentang darimana asal air yang setiap harinya digunakan. Dalam film tersebut, Banyu yang sehari-harinya boros air diingatkan oleh peri Air untuk lebih peduli bahwa proses mendapatkan air bersih itu sangat panjang. Dan kondisi ini semakin diperparah dengan kerusakan yang terjadi pada alam. Air kini bukan sekedar berkah, tapi juga musibah.

Ternyata penyebab banjir yang kini seringkali melanda berasal dari Para Peri Air yang turun dari langit. Namun karena kondisi ibu bumi yang sudah tidak sehat lagi, rintik peri air tak bisa lagi ditampung dan dibendung oleh penjaga bumi yaitu para pohon, dan langsung lari menyerbu pemukiman dan menghanyutkan semua yang dilewatinya.

Dampak dari larinya peri Air berpengaruh juga pada intensitas air yang terkandung dalam Ibu Bumi. Lambat laun, ibu bumi kekurangan stok air yang biasanya diisi oleh peri air. Sungai-sungai akan semakin gersang. Bisa jadi ibu Bumi akan amblas.

Usai menonton film, dan merefleksikan apa pesan yang disampaikan. Kini para detektif air bersiap-siap untuk memulai petualangan menuju Instalasi PDAM Badak Singa.

Sesampainya di sana, para Detektif Air dipandu oleh Ibu Hesti dan Ibu Nia yang menjelaskan tentang proses pengolahan air keran atau air ledeng yang ternyata sumber airnya berasal dari Sungai Cikapundung. Bagi para Detektif, Sungai Cikapundung bukanlah nama yang asing. Mereka sering sekali melalui dan bertemu dengan yang namanya Sungai Cikapundung setiap kali hendak bersekolah.

Di PDAM para Detektif ditunjukkan dengan kolam-kolam penampungan dan pengolahan air yang ternyata melewati beberapa proses, seperti Koagulasi, Flokulasi, Sedimentasi, dan desinfektan. Pasti bingung kan? Tanya Detektif Air saja, mereka pasti tahu jawabannya.

Setelah puas berkeliling melihat proses penjernihan air yang sungguh amat panjang, para Detektif diajak untuk mencoba membuat alat penjernih air yang sederhana. Ya sederhana. Secara sederhana atau yang mudah pun bisa kok. Bahan-bahan pun disiapkan, ada kapas, arang, ijuk, kerikil dan juga pasir. Ke semua bahan tersebut disusun sedemikian rupa dan kemudian di tes hasilnya dengan menggunakan air keruh.

Bagaimana hasilnya? Tentu saja, sedikit lebih jernih hahahaha.

Praktek membuat alat penyaring sederhana adalah kegiatan akhir dari petualangan Air hari itu. Sebelum pulang, para detektif terlebih dahulu mengisi sungai rasa petualangan yang mereka lalui pada lembar kerja dan menempelkan lencana detektifnya sebagai bukti.

Sampai jumpa para Detektif Air, minggu depan kita berpetualang lagi.

edukasi kreatif (15)

Masih tentang Edukasi Kreatif Sahabat Kota.

Kali ini lokasinya adalah di SDN Neglasari pada hari Sabtu 17 April 2010, dan tema programnya adalah tentang makanan sehat.

Beda sekolah tentunya beda kakak-kakak relawannya. Kecuali saya, Mita, Kandi, Fitri dan Dimas yang senantiasa turut hadir selalu. Setiap orang memang punya peran masing-masing, dan di antara mereka semua peran aku tuh yang paling tidak jelas. Hahahahaha…. (menghibur diri karena tidak bisa banyak ikut terlibat).

Baiklah, bicara mengenai makanan sehat tentunya erat kaitannya dengan kandungan gizinya. Terkadang kita lebih sering mengindahkan tentang yang namanya kandungan gizi dan lebih menuruti selera rasa atau yang seringkali kita sebut dengan istilah “enak”, “amboi", “mak nyus”, “sedap” dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan tentang rasa makanan.

Tujuan dari makanan sehat ini tentunya adalah agar adik-adik lebih kritis terhadap makanan yang ia konsumsi, terkait dengan kandungan gizi dan zat adiktif. Selain itu pula, adik-adik memiliki pengetahuan dan keterampilan lebih dalam memilih makanan yang baik untuk dirinya.

Seperti biasa, sebelum kegiatan dimulai adik-adik berkumpul di lapangan sekolah dan bermain pemecah es (ice breaking). Baru setelah itu dibagi kelompok berdasarkan kalimat “ AKU-SUKA-MAKAN-NASI” (pembagian kelompok yang aneh). Sehabis dibagi kelompok berdasarkan kategori aku suka makan nasi, adik-adik kemudian berkumpul bersama kakak-kakak relawan yang nantinya senantiasa mendampingi mereka dalam berpetualang rasa.

Berdiskusi sejenak, adik-adik kemudian diperkenalkan dengan beberapa macam bungkus/kemasan makanan yang sudah disiapkan sebelumnya. Dari sisa-sisa kemasan tersebut adik-adik kemudian memilih salah satu kemasan makanan yang ia suka. Lalu mencari tahu apa isi yang terkandung makanannya.

edukasi kreatif (10)

Dalam diskusi kelompok ini adik-adik berperan untuk meneliti label pada kemasan makanan dan membandingkan dengan lembar daily nutritional intake anak-anak, serta mengecek kembali tanggal kadaluarsa dan zat-zat adiktif. Di sini kakak-kakak pendamping menjelaskan mengenai dampak dari zat-zat adiktif bila terlalu banyak di konsumsi.

Jadi, apa sih yang musti adik-adik perhatikan pada saat membeli makanan dalam kemasan?

Usai berdiskusi singkat dengan kakak-kakak pendamping, setiap kelompok kini harus menjalankan sebuah misi yaitu “berbelanja” atau tepatnya jajan di warung yang mereka biasanya suka beli. Eits, tapi mereka nggak bisa sembarang beli jajanan. Setidaknya, makanan yang hendak mereka beli adalah satu jenis makanan dalam kemasan untuk dimakan bersama-sama dan tentunya makanan sehat sesuai dengan yang didiskusikan sebelumnya.

Setelah uang jajan sebesar 10 ribu dibagikan untuk tiap kelompok, adik-adik kemudian berunding dan menentukan strategi tentang jenis makanan apa yang hendak mereka beli dan dimana lokasinya. Klo soal jajan sepertinya memang mereka ahlinya. Nggak butuh waktu lama, mereka langsung tahu dimana tempat jajan yang oke. Ya iya lah, tempat ini kan emang daerah jelajah mereka gitu loh.

Sekembalinya dari misi berbelanja, setiap kelompok membuat poster dan mempresentasikan hasil belanja mereka. Pada saat presentasi, setiap kelompok menjelaskan tentang produk apa saja yang mereka beli termasuk pula alasannya memilih jajanan tersebut, mereka juga menjelaskan bagaimana kandungan gizinya dan kelebihan serta kekurangannya. Setelah itu, baru deh di makan sama-sama.

Loh kok udah pada habis duluan yah..?

Jadi, lain kali kalau beli makanan dalam kemasan adik-adik pilih yang mana?

edukasi kreatif (34)

peta hijau plesiran (13)

Kamis, 15 April 2010. Hari pertama Sahabat Kota menjalankan program Edukasi Kreatifnya di salah satu Sekolah Dasar di Bandung yaitu SD Plesiran.

Dimulai dengan pagi yang cerah, kakak-kakak relawan sudah datang sedari pukul delapan pagi. Satu jam sebelum kegiatan dimulai. Dan tema untuk pertemuan pertama ini adalah membuat peta hijau di sekitaran sekolah.

Peta hijau, hm apa pula itu peta hijau. Mungkin tidak banyak orang yang tahu seperti apa itu peta hijau.

Peta hijau memang tidak seperti peta pada umumnya. Namun kurang lebih bentuknya hampir sama dengan peta wisata dimana setiap lokasi yang menarik diberikan suatu ikon khusus yang tentu saja berkaitan dengan isu lingkungan sekitarnya.

Lalu apa menariknya?

Tentu saja menarik, karena pada saat membuat peta hijau tersebut tentunya kita akan sadar akan satu sisi tentang kondisi lingkungan. Kita jadi tahu mana nih tempat yang asyik untuk bermain, mana nih tempat yang banyak sampahnya, mana nih tempat yang harus dihindari karena berbahaya, dan tempat-tempat menarik lainnya yang bisa dikatakan bagus atau tidak.

Terkait dengan hal tersebut, kegiatan dengan adik-adik yang masih kecil ini tentunya akan menumbuhkan sebuah kesadaran individu tentang kondisi nyata lingkungannya baik kondisi alamnya, sosial dan kualitas hidup sehingga mereka tergugah akan kepeduliannya akan permasalahan dan potensi lingkungan sekitarnya.

Hmmm, gitu toh. Menarik juga.

Sebelum membuat peta hijau, adik-adik SD Plesiran khususnya kelas V berkumpul terlebih dahulu di lapangan dan memulai pagi mereka dengan pemanasan berupa permainan pemecah es (ice breaking). Sebenarnya maksud dari ice breaking adalah menunggu kepulangan kakak-kakak relawan yang ternyata harus survey area sekitar dulu.

peta hijau plesiran (5)

Setelah kakak-kakak relawan pulang dari misi mengenal kawasan, perkenalan dan pembagian kelompok pun dimulai. Adik-adik kemudian kembali ke dalam kelas dan diberi penjelasan tentang apa itu Peta Hijau dan sedikit kuis tentang pengertian ikon-ikon yang baru saja dijelaskan. Setelah cukup paham, kemudian mereka bersiap-siap untuk menelusuri kawasannya dan menandai beberapa lokasi yang menurut mereka “menarik untuk diberi ikon” pada peta yang sudah disediakan.

Satu jam pun mereka lalui dalam petualangan menyusuri gang-gang sempit sekitar sekolah. Meskipun sudah dibuatkan peta butanya, ada juga dari mereka yang berinisiatif membuat petanya sendiri dengan ikon yang digambar pula. Malah lebih bagus dibanding peta yang sudah disiapkan hahaha. “Peta Hijauku” itu mungkin judul yang tepat untuk gambarnya.

Usai waktu berpetualang habis, mereka kemudian kembali lagi ke kelas. Kini giliran setiap kelompok bergantian melaporkan hasil petualangannya pada peta yang lebih besar. Hasilnya, peta hijau SDN Plesiran yang sangat luas dan ditandai dengan ikon-ikon menarik peta hijau.

Sambil melihat peta hijau yang komplit, kini adik-adik diajak untuk merenungkan tentang lingkungan sekolahnya. Lalu dari hasil perenungan itu, bagian mana yang adik-adik ingin jaga dan ingin diperbaiki. Dan terakhir, mereka membayangkan tentang kondisi lingkungan sekolah yang asyik.

Ternyata setelah saya lihat-lihat, hampir kebanyakan bagian sekolah yang ingin diperbaiki itu adalah WC sekolah. Tempat paling menyeramkan dan paling pesing.

Nah sekarang, bagaimana kondisi lingkungan sekitarmu?

peta hijau plesiran (7) peta hijau plesiran (8)
peta hijau plesiran (16) peta hijau plesiran

 

peta hijau plesiran (9)

Pernahkah kamu berpikir bahwa sebenarnya sayur-sayuran yang kamu beli di Supermarket-supermarket besar ternyata selalu menyisakan sayur-mayur yang tidak layak pajang. Ya, hanya karena alasan tidak layak pajang atau tidak menarik sehingga tidak lolos quality control, sayur-sayuran tersebut dengan terpaksa dikembalikan lagi ke distributornya. Belum lagi sayur-sayuran yang sudah lewat dari batas pemajangan pun berakhir “dibuang” dan menjadi “sampah sayuran kurang segar lagi”.

Sayuran yang dikembalikan oleh pihak supermarket ke distributor pun jumlahnya terus menumpuk hingga berkarung-karung dengan status “return”. Memang sih sisa sayuran tersebut masih bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar baik diolah menjadi makanan sehari-hari, dijual kembali bahkan menjadi pakan ternak. Namun tetap saja sisa sayuran tersebut tidak habis sepenuhnya dan lagi-lagi berakhir menjadi “sampah” sayuran segar.

Beranjak dari hal tersebut, teman-teman yang terhimpun dalam Food Not Bombs chapter Bandung (selanjutnya kita sebut saja FNBBDG) menjalankan aksi mendistribusikan makanan secara gratis dengan prinsip memanfaatkan pengumpulan makanan yang bisa diperoleh secara gratis pula. Beruntungnya, teman-teman dari FNBBDG mendapatkan akses berkenalan dengan suplier sayuran Lembang, sehingga sayur-sayuran yang tidak lolos QC tersebut didonasikan untuk kegiatan FNB.

Meski kegiatan FNB membagikan makanan, mereka enggan menyebutnya dengan kegiatan amal. Aksi yang mereka lakukan lebih tepatnya disebut sebagai media kampanye politis dengan dan salah satu bentuk perlawananan terhadap sistem dengan mempergunakan isu pangan. Aksi mendistribusikan makanan gratis ini rutin dilakukan setiap hari minggu sore di Taman Cikapayang dan depan Planet Dago.

Hari minggu kemarin saya berkesempatan untuk ikut serta kegiatan teman-teman FNB. Awalnya memang tidak sengaja saya bisa ikutan. Kebetulan teman-teman FNB ini agenda masaknya selalu dilakukan di rumah senior saya yang sudah saya anggap sebagai teteh atau tante yaitu Bu Djuni. Ya, saya sering banget datang ke rumahnya terutama pada saat jam makan malam. Entah sudah keputus urat laparnya atau kepepet lapar jadi saya sudah tidak malu-malu untuk sering berkunjung. Mbah (Ibunya Bu Djuni) pun sudah memaklumi kebiasaan saya dan tidak sungkan untuk berbagi makanannya kepada makhluk menyedihkan yang satu ini. Saya memang tidak perlu bayar, cukuplah dengan mengajak anaknya Bu Djuni si Nino bermain haha hihi.

Kesibukan teman-teman FNB dimulai pada jam tiga sore di Gang Gagak. Dari menanak nasi, mengupas dan memotong sayuran, hingga akhirnya memasak dilakukan di dapur Mbah. Setiap minggunya ada hampir satu karung atau lebih sayuran yang teman-teman FNB ambil dari Carrefour PvJ yang merupakan sisa sayuran return dan sudah dilabeli dengan tulisan FNB. Menurut Joe, salah seorang relawan FNB mengatakan bahwa satu karung itu jumlah yang kecil. Ada berkarung-karung sayuran dengan label “return” menumpuk di gudang, dan FNB hanya mampu mengolah satu karung saja dan itu pun masih bersisa.

Jenis sayurannya pun beragam. Kalau teman-teman pernah belanja sayuran di supermarket, biasanya sayur-sayuran tersebut diwadahi dengan stereofoam dan dibungkus kedap udara dengan plastik bening. Begitu pula dengan isi karung yang terdiri dari kacang buncis, brokoli, kol, mentimun jepang, kentang, bawang daun, bawang putih, paria, cabe rawit, jamur kancing, dan jamur kulit masih dalam kemasan yang menarik dan barcode yang melilit. Walhasil akhirnya sayuran tersebut diolah menjadi cap cay (menu paling cepat dan mudah).

Setelah beres memasak kini kami bersiap-siap untuk berangkat ke Taman Cikapayang. Cuaca hari itu dan hari-hari sebelumnya memang sedikit kurang bersahabat sehingga FNB lebih memilih di bawah jembatan. Tidak menunggu lama, para tunawisma yang sepertinya sudah cukup kenal langsung menghampiri dan mengambil makanan yang disediakan.

Biasanya tidak butuh waktu lama agar makanan tersebut habis. Mungkin gerimis hujan membuat aktivitas disana cukup sepi daripada biasanya. Tapi pada akhirnya makanan itu habis semua tak bersisa. Pendistribusian makanan gratis telah usai, kini kami bersiap-siap membereskan segala perlengkapan dan kembali ke Gang Gagak untuk mencuci piring sendok dan gelas kotor.

Akhirnya sisa-sisa sayuran itu bisa termanfaatkan kembali. Padahal setiap harinya dunia ini membuang banyak bahan pangan layak makan hanya demi menjaga stabilitas ekonomi, sedangkan di sisi lain dunia juga dihuni oleh mereka yang tak memiliki akses yang layak pada makanan, apa yang engkau lakukan?

Selamat tahun baru semuanya..
Semoga saja di tahun baru 2010 ini banyak hal-hal positif yang menyertai hari-hari kita semua hingga akhir tahun 2012 yang katanya hari akhir.
Mengawali tahun baru kemana nih? Kebanyakan orang pasti mencoba menghabiskan awal tahun dengan berwisata ke tempat-tempat rekreasi. Berhubung lagi liburan sekolah serta long weekend pastinya sayang klo kesempatan ini dilewatkan begitu saja.
Mengawali tahun ini saya berencana mau bersepeda ke ciwidey. Sebetulnya bukan niat pribadi sih, kebetulan kawan saya sigit mengajak saya untuk ikut kegiatan dan mengisi acaranya sebagai pemateri. Nama kegiatannya sih Pelatihan Tutor Outbound, cuman isi acaranya melebar ke arah konservasi dan sikap peduli lingkungan. Sedikit melenceng memang tapi tepat sasaran klo dilihat dari peserta yang kebanyakan adalah putra daerah ciwidey serta para siswa siswi SMA disana yang notabene mungkin jarang dapat pelatihan mengenai konservasi dan sikap peduli lingkungan.
Kegiatan yang disponsori tunggal oleh Satoe Indonesia, yaitu orang-orang yang terhimpun dan mendirikan Rumah Pintar ini diselenggarakan oleh teman-teman Rumah Pintar. Point utama kegiatan ini sebenarnya adalah silaturahmi para pengurus RUPIN Papakmanggu dan RUPIN Gambung, selain itu memberikan pelatihan-pelatihan yang bersifat penanganan anak baik permainan dan juga kegiatan-kegiatan outdoor serta pembekalan materi berupa cara-cara memasang flying fox.
Semua kegiatan itu terangkum selama dua hari sabtu minggu. Meskipun para peserta harus merelakan malam-malam menyenangkan di hari sabtu, acara ini tak kurang menyenangkan juga kok. Hampir di setiap kesempatan selalu ada ice breaking yang tentunya untuk mencairkan suasana juga memberikan contoh-contoh permainan yang bisa dan biasa dilakukan pada saat mengajak main adik-adik kecil.
Acara ini memang tidak terstruktur dengan rapi, tapi dari pelaksanaannya bisa dibilang cukup berhasil untuk mengumpulkan para pengurus RUPIN serta materi-materi dasar yang mungkin nantinya bisa diaplikasikan bila ada kegiatan-kegiatan lain yang bersinggungan dengan anak-anak atau setidaknya kegiatan-kegiatan outdoor-outbound.
Klo menurut saya pribadi sih, tampaknya perlu ada kegiatan lanjutan khususnya untuk teman-teman SMA di sana karena sepertinya mereka tertarik untuk lebih tahu mengenai aspek-aspek lingkungan lainnya yang jarang sekali mereka dapatkan di sekolah. Apapun itu, walaupun hanya sekedar menonton film pendek dan diskusi ringan.
Mungkin di lain kesempatan saya bisa melakukannya.

Kemarin lihat berita di tv tentang salah satu sekolah dasar di Pangalengan sedang direnovasi.

Jadi keingetan lagi sama SDN Cijembar yang terakhir kali saya kesana -sepeda surat- belum juga diperbaiki.

Murid-murid SD Cijembar harus saling berbesar hati membagi ruang kelasnya. Pagi untuk kelas 1, 2, 3, siang untuk kelas 4, 5, 6. Bantuan berupa tenda sebenarnya sudah diterima oleh pihak sekolah dari dinas sosial, hanya saja tenda tersebut tidak berdiri lama karena para murid mulai banyak yang mengeluh setelah muncul gangguan-gangguan ketidaknyamanan saat kegiatan belajar mengajar.

Kurang lebih hampir 4 bulan berlalu sejak gempa jabar terjadi. Tapi menurut saya, 4 bulan itu bukanlah suatu angka yang cukup baik dalam pemulihan infrastruktur penanggulangan gempa. Selama jangka waktu tersebut, belum banyak bangunan-bangunan diperbaiki. Bukan hanya memperbaiki, ternyata sampai saat ini bantuan pemerintah berupa dananya pun masih tersendat-sendat. Sedangkan proposal pengajuan kerusakan bangunan oleh tiap-tiap kepala keluarga sudah lama dilayangkan kepada instansi pemerintah -perangkat desa lalu ke kecamatan-.

Alhasil, tidak mau berharap banyak terhadap bantuan biaya renovasi, sedikit demi sedikit warga mulai menyisihkan sebagian dari penghasilan mereka untuk membeli beberapa kebutuhan bangunan. Tidak mudah memang untuk menyisihkan sebagian pendapatan mereka. Apalagi kalau pendapatannya pas-pasan.

Tanggung jawab pemerintah (dalam hal ini penanggulangan bencana) terkesan lamban. Malah katanya, bantuan yang rencananya akan diberikan masih tertahan di pusat dan sedang dalam pembahasan. Entahlah apa maksudnya.

Oke-oke, memang sulit dipahami bagaimana sistem maupun alur birokrasi dari pemerintahan kita. Oleh karena itu mari kita kesampingkan dahulu saja bantuan-bantuan renovasi rumah para warga. Tapi apakah tidak ada perkecualian atau skala prioritas. Ya setidaknya bangunan-bangunan yang punya nilai fungsi penting, khususnya bagi masyarakat lebih diutamakan perenovasiannya, misal sekolah, tempat ibadah, bahkan sumber air serta mck. Menurut saya tempat-tempat tersebut seharusnya mendapat skala prioritas utama dalam renovasi pasca bencana.

Bayangkan saja, murid-murid sekolah harus menghabiskan waktu belajarnya di bawah bangunan yang tidak aman dan tidak nyaman. Sarana dan prasarana air yang tidak memadai menimbulkan sumber-sumber penyakit dmbl -dan masih banyak lagi-.

Dan akhirnya, justru bantuan-bantuan dari pihak swasta lah yang lebih dahulu sampai. Hanya saja bantuan tersebut mungkin tidaklah merata. Hanya menjangkau sebagian dari masyarakat. Terlebih lagi jika punya link atau kenalan dengan para sumber donatur maka tak heran bantuan pihak swasta akan terus berdatangan. Yang ga gaul, gigit jari aja deh.

Jadi pesan saya untuk para instansi pemerintah, anggota DPR, para menteri, Pak Presiden yah pokoknya yang kerja di pemerintahan alias PNS. Anda semua adalah pelayan masyarakat, sudah kewajiban anda untuk melayani kami sebagai masyarakat/ rakyat. Tidaklah pantas jika kami harus menyembah-nyembah kedatangan anda. Anda bukan Tuhan, bukan pula Nabi. Anda sama seperti kami, hanya manusia biasa yang kami beri kesempatan dan kami tunjuk untuk memimpin dan membawa kami ke arah yang lebih baik.

Sesuai dengan janji yang anda obral sewaktu kampanye.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.