Galunggung 2006

5 Mei 2012

keliling priangan timur

Saya lupa tentang runutan kejadiannya. Yang jelas waktu itu saya dan beberapa kawan yang berasal dari Bandung, Tasikmalaya dan Brebes keliling-keliling Priangan Timur dengan modal satu buah mobil sejenis Apanja dan beberapa majalah.

Waktu itu mungkin ada sepuluh orang yang harus berdesak-desakan di mobil Apanja. Padahal kapasitas muat mobil, seoke-okenya adalah 8 orang. Belum lagi beberapa perlengkapan macam tenda, kompor dan prikintilan pribadi lainnya.

Meskipun cukup tersiksa selama perjalanan, tapi setidaknya kami bisa mengunjungi beberapa tempat wisata sekitaran Priangan Timur dengan biaya murah bahkan diantaranya gratis tiket masuk.

Mulai dari Pantai Cipatujah, Situ Panjalu, Galunggung, sampai Cipanas Garut. Kami jabani rame-rame. Nggak perlu sewa kamar pesan makanan, cukup mendirikan tenda di pinggir pantai dan masak-masak sekadar alanya.

Ditambah lagi dengan beberapa majalah yang kami punya dan kartu identitas jurnalis serta sedikit berbasa-baso mengenai liputan wisata, kami diijinkan masuk gratis tis tis tis.

Waktu berjalan. Kegiatan macam ini bakal susah untuk terulang lagi bagi kami. Masing-masing mulai sibuk dengan aktivitasnya. Ada yang tetep jadi jurnalis, ada yang ngajar jadi guru, ada yang ibu rumah tangga, ada yang aktivis satwa, ada yang pemburu foto, ada yang ngecek rel kereta, dan ada pula yang ngejar monyet setiap hari.

Untuk semua yang ada di foto dan yang ngejepret foto. Sukses dan selamat menikmati aktivitas masing-masing :D

Yaki goes to Trans TV

26 April 2012

trans tv interview (2)

Liputan Yaki (Macaca nigra) untuk sebuah program acara televisi memang bukan yang pertama kalinya. Sudah banyak stasiun televisi yang menyiarkan Yaki dan wisata alam Tangkoko. Mulai dari BBC, Trans7, Kompas TV, dan saya tidak tahu lagi.

Satu minggu yang lalu beberapa kawan dari program acara Jelajah di Trans TV melakukan liputan mengenai Yaki. Menurut kru, konsep yang mereka buat tidak seperti acara jalan-jalan seperti yang sudah-sudah oleh stasiun TV lain. Katanya sih mereka ingin menampilkan Yaki berdasarkan sisi penelitian yang sudah banyak dilakukan hingga saat ini. Semacam factlist gitu deh.

trans tv interview (1)Oleh karena itu, selama satu minggu kru mengikuti aktivitas Yaki seharian. Mulai dari bangun, hingga tidur. Selain dari itu, mereka juga merekam perilaku-perilaku khas Yaki, seperti mencari makan/feeding, menelisik/grooming, kawin/mating, menguap/yawning (menunjukkan gigi taring), bermain, hingga panggilan keras/loud call oleh jantan.

Pada hari terakhir kru mencoba mewawancarai salah seorang peneliti Yaki yang saat ini sedang melakukan penelitian. Bukan saya. Tapi bos saya, Pascal Marty. Pada sesi wawancara tersebut, ada beberapa pertanyaan yang tentu saja berkaitan dengan Yaki.

Kata bos saya, beberapa dari pertanyaan tersebut ada yang mudah untuk dijelaskan tapi ada juga yang cukup membingungkan untuk dijelaskan. Misal,

“How close are  Yaki to Humans?”

Apakah dekat secara kekerabatan, atau dekat secara skala jarak centimeter. Meskipun ada jawabannya, dia bingung menjelaskannya. Hehehe.

Pengen tahu jawaban dari pertanyaan di atas, atau pengen lihat Yaki itu seperti apa perilakunya. Bisa kawan-kawan saksikan liputannya di Trans TV pada program Jelajah pada tanggal 6 Mei pukul 9.00 pagi WIB (kalau nggak salah dan sewaktu-waktu jam tayang bisa berubah).

Selamat menonton Yaki :)

Saya mau nyombong sesuatu di bulan maret kemarin. Tapi sekarang sudah april. Daripada nggak nyombong samasekali, dan selagi masih sempet, jadi ya saya mau nyombong ah.

Yang mau saya sombongin adalah ini,

NGI_yaki yaki-adultmaleTilman aka Jati, Cover Model Yaki 2012.
-kiri, foto hasil jepretan fotografer NGI
-kanan, foto hasil jepretan saya

Nggak jauh dari monyet.

Di bulan maret kemarin, Yaki alias Macaca nigra terpilih menjadi cover story untuk majalah National Geographic Indonesia. Pada edisi tersebut, semua kisah Yaki yang ada di hutan Tangkoko serta Yaki secara umum dibahas detil. Tentunya secara jurnalistik ala National Geographic.

Kalau mau tahu lebih banyak tentang Yaki, monggo dibeli majalahnya. Mudah-mudahan masih tersedia di toko buku-toko buku terkemuka di kota anda. Kalau penasaran baca artikelnya, heum mungkin bisa di-googling untuk situs NG Indonesia. Kayaknya sih ada artikelnya (maaf ngga bisa ngasih link, susah akses internet).

Masuk ke tahap sombong.

Yang mau saya sombongin adalah, di artikel tentang Yaki ada satu dua paragraf yang menceritakan saya. Lebih tepatnya “ADA NAMA SAYA DI SANA”. Tidak terlalu detail tentang siapa saya, bagaimana rupa saya, apakah saya ganteng atau tidak, namun setidaknya nama saya dan pelindung hujan kuning pada tas saya diceritakan secara heroik :p.

Bener-bener ala National Geographic.

Sekian dulu sombong saya untuk bulan maret. Jangan lupa beli majalahnya, minjem juga boleh lah.

Wine & Chamberlyon

31 Maret 2012

Pasti banyak postingan yang menuliskan kesannya selama Earth Hour 2012. Maaf, untuk ke sekian kalinya saya tidak ikut merayakan Earth Hour. Maksud saya, berpartisipasi. Cuman komen doang.

Sebagai gantinya, saya (dan kawan-kawan) justru sedang berpesta. Pesta malam minggu yang sepertinya terakhir dilakukan adalah pada tahun baru lalu. Sekalian juga Welcoming Party untuk dua orang yang baru saja bergabung dan kembali bergabung di hutan Tangkoko. Caitlin dan Jerome. Selamat datang dan selamat datang kembali.

Seperti biasa, kalau ada pesta pasti ada minuman. Untuk kali ini hidangannya agak istimewa. Ada sebotol Wine dan sebotol Chamberlyon serta berbotol-botol Bir Bintang, Cap Tikus dan Coca Cola. Ditambah lagi beberapa irisan daging babi, roti dan keju.

Menarik.

IMG_1618- botol saos tomat bintang.
IMG_1607-chamberlyon
IMG_1608- anggur wine

Sayangnya saya tidak punya akses untuk menikmati itu. Bukan karena pantangan keyakinan yang saya anut. Tapi… entahlah. Saya hanya memilih tidak. Tadinya saya mau icip-icip wine, tapi setelah mencium baunya saya urung. Nggak enak.

Kayaknya lidah saya nggak nginternasional. Cocoknya lokalan, macam bandrek atau bajigur atau STMJ. Kasihan banget si gue.

Makin larut, acara berlanjut ke api unggun. Bakar-bakar marshmallow dan pisang isi coklat. Nice.

IMG_1616

Saya nggak bisa berlama-lama menikmati pesta malam minggu soalnya besok pagi musti ngejar monyet lagi. So, sampai sini aja deh. Yang masih mo pesta monggo dilanjut drink-drink-nya. Saya mau istirahat duluan.

Nite and tchus.

Pisang

25 Maret 2012

Baru baca skripsi teman saya tentang pisang. Sangat menarik. Baru baca, padahal softfile-nya udah ada di harddisk sejak satu tahun lalu. Setelah baca-baca ternyata ada hal-hal yang memang baru saya ketahui seputaran pisang.

Salah satunya yaitu, pisang adalah tumbuhan herba yang hanya berbunga sekali kemudian mati setelah berbuah. Tragis. Hidup hanya untuk berbuah saja. Lalu dimakan oleh saya, kamu, anda, mereka, dan masih banyak lagi.

Selain itu, dari tinjauan pustaka yang saya baca di dalamnya tidak disebutkan berapa banyak jumlah jenis pisang yang tersebar di muka bumi ini. Karena saking banyaknya varietas dan kultivar, sehingga sistem tata nama dari pisang menimbulkan masalah khusus.

Ahli taksonomi bernama Simmonds dan Sheperd menyarankan untuk menggunakan tatanama genome (mulai bingung) dengan menggunakan kombinasi huruf A dan B. Dimana kedua huruf tersebut mewakili gen leluhur pisang yaitu A untuk Musa acuminata yang merupakan leluhur pisang tidak berbiji, dan B untuk Musa balbisiana yang merupakan leluhur pisang berbiji.

Dari kedua spesies di atas membentuk variasi pisang ke dalam kelompok yang memiliki dua genom (diploid), tiga genom (triploid) dan empat genom (tetraploid, walau di alam tetraploid jarang sekali ditemukan). Sehingga muncullah kombinasi variasi sebagai berikut:

Musa (AA grup), subgrup ‘Sucrier’

Buahnya kecil dengan kulit buah kuning emas mencolok, daging buah lembut berwarna jingga terang, beraroma dan sangat manis. Satu tandan berisi 5 – 9 sisir.

Musa (AA grup), subgrup ‘Lakatan’

Buah medium – besar, kulit buah tipis kuning emas, daging buah lembut, kering manis dan beraroma. Satu tandang tediri atas 10 – 12 sisir.

Musa (AAA grup), subgrup ‘Gros Michael’

Buah medium – besar dengan kulit tebal berwarna kuning, daging buah putih, lembut, murni beraroma, satu tandan 8-12 sisir.

Musa (AAA grup), subgrup ‘Cavendish’ Buah kecil – besar dengan kulit buah kuning –kehijauan, daging buah putih, halus, lembut, satu tandan tediri atas 8 – 12 sisir.
Musa (AAA grup), subgrup ‘Pisang Ambon Putih’ Buah besar dengan kulit kuning yang halus, daging buah lembek agak lembut, beraroma tipis, manis, satu tandan 10-14 sisir.
Musa (AAB grup), subgrup ‘Silk’ Buah kecil medium, kulit kuning,daging putih, halus, lembut, terkadang asam, satu tandan 5 – 9 sisir.
Musa (AAB grup), subgrup ‘pisang raja’ Buah memiliki kulit yang tebal dan berwarna jingga, daging buah jingga, tekstur agak keras, rasa manis, satu tandan 6-8 sisir.
Musa (AAB grup), subgrup ‘plaintain’ Butuh pengolahan sebelum dikonsumsi. Kulit buah kuning, dagng buah jingga, lembut, bertepung, satu tandan 2 sisir.
Musa (ABB grup) Buah kecil – medium. Kulit buah kuning, kulit agak tebal, daging lembut, putih, agak kenyal, satu tandan 8 – 10 sisir.
Musa (ABB grup), subgrup ‘Bluggoe’ Selalu diolah sebelum dikonsumsi. Buah medium, kulit tebal, kulit menjadi kuning kecoklatan ketika masak. Daging jingga lembut dan bertepung. Satu tandan 7 sisir.
Musa (BBB grup) Buah medium – besar, bersudut, kulit tebal, kuning, buah putih, keras, berbiji, manis, satu tandan 10-16 sisir.

Secara sederhananya sih pisang yang memiliki karakter A cenderung berasa manis dan tekstur yang halus dan lembut. Sedangkan pisang karakter B memiliki tekstur yang kasar, buah yang tidak enak rasanya jika dimakan langsung namun harus diolah terlebih dahulu agar dapat dikonsumsi.

Jadi, kalau nanti makan pisang setidaknya bisa menebak genome-nya berdasarkan citarasa.

Satu hal yang paling sangat menarik dalam skripsi teman saya ini adalah pemanfaatan pisang oleh masyarakat lokal Sulawesi Utara sebagai bahan obat tradisional. Dalam Djoht (2002) menuturkan bahwa di Sulawesi Utara, daging buah pisang Yaki (Musa acuminata Colla var. tomentosa) yang ditumbuk  dengan sepotong kunyit digunakan untuk obat gonone, sejenis kutu.

Seharusnya saya baca ini sebelum saya tiba di sini (Tangkoko). Sudah 3 bulan ini saya berhadapan dengan kutu yang bernama gonone. Jangan ditanya rasanya bagaimana, gatal minta garuk.

Suatu saat saya akan cerita tentang si gonone ini. Makhluk ajaib penghuni hutan Tangkoko.

Yup, sekian dulu tentang pisangnya, selamat menikmati.

IMG_1575

sumber: Hehakaya, Matius Andreas. 2010. Studi Pengetahuan Penduduk Tentang Kultivar, Kegunaan, Pengolahan dan Budidaya Pisang (Musa spp.) Di Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang. Skripsi. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran.

mengejar gelar

Terima kasih untuk para pelaku yang berada di dalam gambar ini, termasuk yang ambil gambarnya. Tanpa mereka belum tentu saya jadi sarjana Smile with tongue out.

Kera-Kera Humanis

28 Januari 2012

Baru beres nonton salah satu film layar lebar yang punya judul “de Rais op de Planet op de Eps”.

Pasti bingung.

Film apaan sih ini? Itu tuh, film yang ceritanya tentang kera-kera yang mendadak jadi sepintar manusia.

Faktanya memang film ini mengisahkan tentang kera yang diperlakukan layaknya seorang anak manusia. Dari mulai berkomunikasi, berpikir, hingga bertingkahlaku diajarkan selayaknya anak manusia.

Plot ceritanya nggak bakal jauh dari kehebatan si kera yang pada akhirnya berbalik melawan manusia. Mendobrak determinasi dan dominasi. Walhasil terjadilah pertarungan antara si manusia dan si kera. Si kera ingin mendapatkan kebebasan haknya, sedangkan si manusia ingin mendapatkan keamanan dan menunjukkan superiotasnya. Karena manusia selalu merasa lebih baik.

Melihat film ini saya jadi ingat tentang orangutan yang pernah saya jumpai dulu di Kalimantan. Bukan tentang orangutan yang menjadi hebat dan pintar lalu melawan manusia, seperti di film. Tapi tentang orangutan yang kisahnya hampir sama dengan si tokoh utama film yaitu Caesar, kera yang diperlakukan humanis.

Maksudnya humanis?

Intinya sih, bayi-bayi orangutan yang pernah saya jumpai diperlakukan layaknya seperti manusia. Diperlakukan di sini bukan merujuk kepada cara penanganan. Bagaimanapun juga 97% DNA orangutan hampir sama dengan manusia, maka tentu saja penanganannya pun akan sedikit sama. Terutama pada bayi tanpa induk. Sebisa mungkin manusia yang mengasuhnya harus berperan menjadi ibu dan menangani sang bayi layaknya bayi manusia.

Menanggani tidak sama dengan memperlakukan. Inilah yang kadang menjadi miris buat saya. Orangutan adalah orangutan. Sedekat apapun kekerabatan genetik manusia dengan orangutan tetap saja saya merasa aneh jika mereka diperlakukan selayaknya manusia.

Ambil contoh, makan nasi. Dimandikan dengan sabun. Dibiasakan berjalan kaki. Ikut beraktivitas bersama manusia (mendengarkan lagu, menonton TV, merokok, dmbl).

Humanis.

Pernah juga saya mendengar sebuah ide dari kawan yang bekerja di salah satu rehabilitasi satwa. Mereka berencana untuk menempatkan sebuah peranti computer touchscreen sebagai bagian dari enrichment (pengayaan) dimana di dalamnya akan diinput sebuah program yang berisi gambar buah-buahan. Jadi bilamana orangutan merasa lapar, mereka tinggal menyentuh gambar buah, dan nantinya buah tersebut akan datang. Luar biasa Hi-tech.

Saya menyebutnya enrichment 2.0, era digitalisasi yang mengantikan peranan alam sebagai media penopang sisi liar satwa.

Perlakuan yang menghumaniskan ini mungkin setidaknya lebih baik dibandingkan dengan mereka yang memperlakukan satwa secara barbar. Seperti kasus pembantaian orangutan yang sempat marak beberapa bulan lalu. Meskipun lebih baik, belum tentu juga perlakuan menghumaniskan satwa adalah sebuah kebenaran.

Selayaknya satwa, mereka hidup dengan keliarannya.

Jika suatu hari mereka hidup seperti manusia, siapkah kita (bersaing mempertahankan hidup)?

Yang Sudah-sudah…

10 Januari 2012

Selama 2011 kemarin sudah ngapain aja ya.. (dalam susunan tak berurutan)

- Merasakan petualangan seru di ekspedisi Heart of Borneo.
- Ribut sama petugas imigrasi di kalteng. Saking keselnya saya isi botol pembersih kantornya sama air berseni. – Disebut tidak nasi.onalis sama sukro.
- Menginjak kota jogja untuk kedua,tiga, keempat dan kelima kalinya. – Pencapaian tertinggi, boker di empat propinsi kalimantan sudah terpenuhi.
- Punya teman baru orang korea, sayangnya saya ga terlalu suka lagu korea. Terutama boysband dan blueband. Sumpah, ganteng-ganteng. – Jadi aktivis orangutan. Berasa sedih klo lihat orangutan, objek sana sini.
- Pernah lewat jembatan Kutai Kartanegara sebelum runtuh. Heran juga tuh jembatan bisa rubuh. – Suka sama Ayu Ting Ting, kesana kemari mencari alamat.
- Galau-galau cinta. Patah, jatuh, patah, gamang. Sesuatu tentang “chance”, yang mana oh dimana. – Berpisah dengan Melissa. Berpisah dengan Sancang.
- Belajar memotret satwa. Lumayan. Banyak gagalnya.
- Bikin buku edukasi bergambar tentang kukang. Gambarnya udah beres, tinggal narasi. Lumayan juga buat nambah isi dompet. – Mulai berani pegang anjing dan digonggongi serta dikerumuni. – Ngerasain serunya naik kereta commuter. Bekasi-jakarta-bogor. – Tambah ponakan yang kelima. Beuh, giliran saya kapan?
- Merasa tertantang untuk ngambil master. Biar bisa jadi ahli yang ga hanya mengotori udara dengan kata-kata. Dikutip dari seseorang. Ada yang mau ngasih beasiswa ga yah buat sarjana pas-pasan macam saya ini (pas di dana, pas di otak, pasti ipk-nya jelek!). – Boker di sulawesi utara. Kesampaian juga akhirnya.
- Bertemu dengan Yaki.

Sepertinya masih banyak kejadian-kejadian di 2011, tapi lupa lagi. Namanya juga yang sudah-sudah. Ya sudahlah…

Natal 2011

30 Desember 2011

Narablog lain sepertinya tengah bersiap dengan postingan tahun baru, sedangkan saya masih dengan event seminggu lalu. Tentang Natal.

Natal, christmas, x-mas, atau apapun namanya yang selalu dirayakan setiap tanggal 25 Desember (kecuali perayaan ulang tahun mantan kecengan saya) bisa dikatakan hal baru bagi saya dimana saya terlibat dalam jarak dekat. Dan Natal 2011 ini pun adalah kali kedua saya ikut berpartisipasi.

Maksudnya “Berpartisipasi” bukan berarti saya ikut “Merayakan”, siapa tahu ada yang mengira bahwa saya termasuk kedalam genk-nya Wahid. Walaupun sebenarnya saya kurang lebih seperti mereka, mengucapkan Selamat Natal kepada mereka yang merayakan. Saya sih menganggapnya hanya sebuah tutur di lisan, bukan di hati. Ah sudahi saja sampai sini, malah jadi berdebat sendiri.

Yah pokoknya dua tahun ini saya berada di sekeliling orang-orang yang sorak-sorai menyambut Natal. Hanya saja untuk tahun ini lebih meriah karena hampir 90% masyarakat di desa merayakannya. Sedangkan tahun lalu hanya sekumpulan kecil orang yang berada di tengah hutan rimba dengan pesta makan sealakadarnya.

Sebenarnya ga alakadar juga sih, waktu itu ada empat ekor ayam yang kami sembelih. Cuman karena bule-bule yang ngerayain pengen coba masak ayam spesial, jadi tuh ayam dimasak pakai batu api dan ditimbun dalam tanah. Walhasil, stok kayu bakar untuk jatah empat hari dan satu buah panci habis hanya untuk makanan spesial yang ternyata masih cukup alot untuk dikunyah. Mereka sih Hepi, saya Heri-heri sendiri.

Nah kalo Natal yang sekarang, musti siap-siap dengan perut kosong dan celana karet. Setiap rumah penuh dengan hidangan untuk tamu yang berkunjung. Makanan, “minuman”, dan juga kue-kue. Kenyang iya, kembung juga iya.

Untungnya, saya ini termasuk peminum soft. Jadi setiap kali bertamu, sajian minuman yang dihidangkan tidak jauh dari Coca Cola Company. Kalo saya peminum hard, maka minuman botol saos, jangkar, dan cap tikus akan menghiasi meja tamu. Hidangan macam ini cukup umum bagi tamu yang sudah dewasa. Untuk anak-anak sih cukup dengan minuman rasa dalam cup.

Kemeriahan Natal sangat terasa sekali saat orang-orang saling kunjung-mengunjungi dan mengucapkan selamat satu sama lain. Lalu kemudian duduk dan makan bersama diiringi obrolan ringan. Kemeriahan yang tidak jauh berbeda dengan Hari Raya lainnya dimana setiap anggota keluarga berkumpul. Bersuka cita dalam damai.

So, I would like to say.. Happy New Year :)

Saya yakin setiap orang punya impian. Baik itu impian besar, impian kecil, bahkan impian siang bolong. Percayalah, ga ada yang salah dengan bermimpi. Selain masih gratis, tentunya kita bebas untuk memimpikan apa yang memang ingin kita impikan.

Akan tetapi, antara impian dengan realita sebisa mungkin harus disinkronkan. Boleh punya mimpi setinggi langit atau 5 centi dari jidat, tapi klo ga ada usaha mah sama aja dengan berharap Helmy Yahya datang mengetuk pintu rumah. Bahkan, terkadang kita tidak sadar bahwa apa yang saat ini sedang kita lakukan justru semakin mendekatkan kita dengan impian itu sendiri.

Tapi apakah kita sadar dengan apa yang sebenarnya kita impikan? Atau jangan-jangan kita malah lupa dengan impian itu sendiri karena kadung menikmati jebakan rutinitas. Atau mungkin karena kepasrahan hidup membuat kita terpaksa mengalihkan diri.

*****

2008-2009 adalah tahun pelarian bagi saya. Saya hidup hanya untuk mengisi hari dimana pagi membangunkan saya. Tak ada tujuan yang jelas kemana saya akan membawa diri. Hanya mengikuti mulut-mulut yang berbicara.

Perubahan dimulai di penghujung tahun 2009. Bersama kawan-kawan dari Komunitas Sahabat Kota, kami semua menulis pada secarik kertas mengenai impian yang ingin diwujudkan dalam kurun waktu lima tahun. Saya berpikir keras. Mencoba merunutkan impian, dari tanggung jawab yang harus diselesaikan, hingga buaian dan angan-angan. Lalu kami menyimpannya dalam sebuah wadah yang kami sebut kapsul waktu. Menguncinya rapat, hingga batas waktu yang sudah kami tentukan, penguhujung 2014.

Dua tahun sudah waktu berlalu. Sebagian dari impian itu telah berhasil saya wujudkan. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi saya pribadi. Mewujudkan impian kedua orangtua. Menemukan cinta yang membuat saya menyesali kepergiannya. Menemukan petualangan terhebat yang pernah saya alami. Mendapatkan tantangan yang harus saya hadapi.

Dan satu impian lagi akan segera terwujud sebelum pergantian tahun tiba. Impian yang  sangat saya dambakan. Saya tidak menyadari bahwa perjalanan yang saya lalui selama dua tahun ibarat pupuk yang saya berikan untuk kesempatan ini. Kesempatan yang tak mungkin saya lewatkan begitu saja.

Impian, saya akan datang menjemputmu.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.