Kabar dari Sancang
4 Mei 2012
Beberapa minggu yang lalu saya mendapat kabar dari kawan-kawan di Sancang (Garut Selatan) tentang Owa yang dulu pernah kami ikuti untuk diteliti. Kabar baik tersebut datang dari grup B yang terdiri dari Tono dan Tini.
Setelah satu tahun berlalu, Tini akhirnya memiliki anak lagi. Seekor bayi owa yang sedang masa lucu-lucunya. Kawan-kawan di Sancang memberinya nama “Awing”, yang punya arti ngagawing alias menempel di perut induknya. Seperti foto di bawah ini.
Kelahiran Awing untuk Tini memang bukanlah yang pertama. Berdasarkan catatan pengamatan yang sudah-sudah, diperkirakan bahwa bayi yang sekarang adalah anak kedua yang Tini lahirkan selama rentang masa hidupnya.
Lalu bagaimana dengan anak pertama Tini?
Dulu (sebelum November 2010), Tini dan Tono pernah memiliki anak. Kami memberinya nama Udin. Sayangnya, sebelum Udin menginjak masa remaja, dia tiba-tiba raib entah kemana. Berbagai spekulasi pun muncul mengenai hilangnya Udin. Dari semua spekulasi itu, kami menyimpulkan bahwa Udin hilang dimangsa oleh predator.
Klik di sini untuk membaca kisah Udin.
Berita Awing seakan menjadi penutup luka tentang Udin. Namun, lebih dari sekedar cerita Udin, kehadiran Awing justru memberi harapan baru bagi kami. Harapan akan kelestarian Owa Jawa yang ada di Sancang.
Harapan bahwa Awing bisa meneruskan generasi Owa Jawa Sancang hingga berpuluh-puluh tahun ke depan. Semoga.
-untuk Awing dan Udin-
Terima kasih kepada Muhammad Taufik atas fotonya
Mencintai Yaki Sejak Dini
26 April 2012
Di suatu pagi yang cerah, saya berkesempatan untuk berbagi cerita dan pengalaman seputar Yaki atau Macaca nigra kepada adik-adik yang masih di bangku sekolah dasar.
Kegiatan kunjungan sekolah ini merupakan bagian dari program edukasi yang diinisiasi oleh Mathilde Chanvin dalam proyek Tangkoko Conservation Education. Ada beberapa SD dan SMP di sekitar hutan Tangkoko yang dilibatkan dalam kegiatan ini. Program pendidikan konservasi ini ada yang berupa materi di dalam kelas, kunjungan ke pusat rehabilitasi satwa, hingga berjumpa langsung dengan satwa dan habitat alaminya.
Adik-adik yang notabene adalah masyarakat sekitar hutan Tangkoko tentunya tidak merasa asing untuk mengenali satwa-satwa hutan. Namun pengetahuan mereka masih terbatas pada pemahaman bahwa satwa yang mereka jumpai biasanya diburu dan dijadikan santapan.
Melalui program edukasi konservasi, adik-adik ini diajak untuk mengenal lebih dekat terutama Yaki. Mereka belajar, apa itu Yaki, seperti apa kebiasaan Yaki, bagaimana Yaki hidup, dimana Yaki tinggal, dan kenapa Yaki itu penting.
Mengingat akan pentingnya satwa dalam hutan Tangkoko, maka tentu saja bahwa pemahaman tentang berburu harus diubah dengan pemahaman mencintai, dan menjaga harta karun mereka yang sangat bernilai. Selain itu pula, pemahamam baru mereka bisa ditularkan langsung kepada orangtua atau masyarakat sekitarnya yang masih menjadikan berburu sebagai aktivitasnya.
Bagaimana dengan kamu? Apakah ada satwa liar di sekitar tempat tinggalmu?
Free Willis : Kembali Ke Alam Liar
23 November 2011
Dalam hitungan tiga detik, saya melihat Willis dibalik kegelapan malam dan rerimbunan dedaunan serta rintik-rintik hujan. Saking singkatnya, saya bahkan tak sempat untuk mengabadikan dirinya.
Selidik punya selidik, ternyata tiga detik yang saya rasakan berbanding terbalik dengan apa yang telah Willis lalui selama ini.
3 Jenis Satwa Ini Bukanlah Kukang
3 November 2011
Ternyata masih banyak orang yang salah kaprah menyebut Kukang ataupun mengenali Kukang. Dan berikut adalah nama-nama satwa yang acapkali muncul di televisi ataupun keseharian kita yang sering disalahartikan namanya menjadi Kukang dan Kukang menjadi mereka.
King Julian (Madagascar)
![]() |
King Julian XIII adalah salah satu karakter dari Madagascar. Entah kenapa dalam dubbing Indonesia beliau disebut sebagai Kukang, padahal aslinya dia adalah seekor Lemur Ekor-cincin. Untungnya, mereka masih sama-sama seekor primata. Hanya saja, Kukang hidup di Asia sedangkan Lemur hidup di Madagascar.
Syd (Ice Age)
![]() |
![]() |
Si konyol salah satu dari karakter Ice Age. Sulih suara Indonesia menyebutnya sebagai nenek moyang Kukang. Tetapi lihat dulu cakar-cakar panjangnya. Kukang tidak bercakar, tapi dia berkuku (salah satu ciri primata). Mari kita bandingkan dengan satwa di sebelahnya. Terlihat mirip bukan. Syd adalah Sloth, sejenis mammalia pemakan daun yang hidup di Amerika Selatan dan sebagian dari Amerika Utara.
Kuskus
![]() |
![]() gambar paling atas adalah Kuskus, sedangkan bagian bawah adalah Kukang Sumatera |
Banyak pedagang ilegal yang mengatakan Kukang dengan sebutan Kuskus. Sebuah pembodohan publik yang semakin lama semakin merasuk dan menjadi kebiasaan umum. Baiklah, kita perlu sebuah penegasan bahwa Kuskus bukan Kukang dan Kukang bukan Kuskus.
Kedua satwa tersebut adalah berbeda. Butuh penjelasan lebih rasional, coba saja perhatikan kedua gambar di atas. Berbeda bukan. Atau biar lebih jelasnya bisa mampir ke link berikut untuk tahu lebih banyak.
- Kuskus
Lalu, apa pentingnya untuk mengenal Kukang sebagai Kukang?
Tentu saja penting, udah ga jaman kali roman picisan Shakespeare yang mengatakan “Apalah arti sebuah nama”.
Dengan mengenal Kukang sebagai Kukang, akan membantu kita untuk lebih tahu dan mengenal apa, siapa dan bagaimana Kukang itu sebenarnya. Dengan mengenal Kukang kita akan mendapatkan intrepetasi yang tepat mengenai kondisi Kukang yang terancam dan merupakan bagian dari identitas bangsa.
Sudahkah kita berkenalan dengan Kukang?
Ayo kita berkenalan dengan Kukang!
Awas! Potensi Penyakit Pada Kukang Yang Dipelihara
3 November 2011
Sejatinya, Kukang adalah satwa yang tidak seharusnya dipelihara. Namun hingga kini banyak orang yang memeliharanya. Alasannya pun macam-macam, dari sekedar tertarik karena keimutannya hingga alasan ketidaktahuan si pemelihara akan jenis satwa tersebut. Namun bicara tentang potensi penyakit, saya rasa ini adalah hal yang semua orang harus tahu sebelum mereka memutuskan untuk memelihara dan membahayakan dirinya.
Kukang (bukan Kuskus) termasuk ke dalam bangsa Primata dimana satwa ini memiliki kekerabatan yang cukup dekat dengan manusia. Maka oleh karena itu, baik secara fisik maupun genetik berbagai jenis penyakit seperti bakteri, virus, dan parasit akan lebih mudah menular antara kita dan satwa primata (saya menyebutnya zoonosis).
Salah satu penyakit yang sering ditemukan pada Kukang yang dipelihara adalah cacingan. Cacingan sering dianggap hal yang sepele, padahal dalam kondisi parah dapat mengakibatkan kematian pada satwa. Stress pada Kukang dapat memicu meningkatkan potensi cacingan. Seringkali kukang peliharaan mendapat kontak fisik dengan si pemelihara, ditempatkan pada kandang yang tidak cocok untuknya, hingga berbagai macam perlakuan yang tentunya tidak sesuai dengan kondisi fisiologis dan tingkah lakunya alaminya.
|
|
Cacing Strongyloides adalah jenis cacing yang sering ditemukan pada Kukang. Cacing ini dapat menular antar satwa dan manusia, dan secara klinis menyebabkan bengkak gatal kemerahan pada kulit apabila larva cacing ini berpindah melalui kulit.
Jika larva cacing berpindah melewati paru-paru, maka potensi penyakit yang ditimbulkannya adalah kerusakan alveol paru-paru, pneumonia, hingga asma. Tidak hanya itu saja, diare dan kerusakan hati pun bisa disebabkan oleh cacing Strongyloides.
Dengan resiko penyakit tersebut, Kukang tidak dapat bertahan hidup lama dalam pemeliharaan manusia. Andai pun kukang bisa bertahan hidup lama, maka potensi penularan penyakit antara Kukang dan Manusia akan semakin besar. Dan tentu saja, anak-anak adalah korban yang paling mudah untuk terjangkiti.
Masih berminat untuk memelihara Kukang?
Apakah anda mau mengambil resiko tersebut?
Lebih baik urungkan niat anda untuk memelihara. Biarkan Kukang hidup bebas di alamnya. Dengan begitu anda telah turut berperan untuk menjaga kesehatan dan upaya pelestarian.
*tulisan ini dibuat berdasarkan bincang-bincang dengan dokter hewan yang selama ini menangani Kukang di pusat rehabilitasi.
Mereka Memanggilku “Willy”
16 Oktober 2011
“Pak Gendut”, dia memperkenalkan dirinya. Orang-orang di sekitar rumahnya pun memanggilnya demikian. Padahal ia tidak gendut-gendut amat. Sama seperti om-om setengah abad yang kesulitan melipatkan tubuh karena terganjal oleh perut buncitnya.
Pekerjaannya, ah sebut saja dia seorang pekerja proyek. Dia tinggal di suatu tempat yang tidak memiliki alamat resmi. Tempatnya berteduh hanyalah pondasi kayu semi permanen yang dibangun liar di tengah lahan kosong sebuah kota. Yang suatu saat bisa saja digusur tanpa harus mendapatkan ganti rugi.
“Willy”, begitu Pak Gendut memberikan nama padanya. Orangutan jantan yang sudah dipeliharanya sejak 2005 silam. Awal perjumpaan Pak Gendut dengan Willy dimulai saat beliau masih berjaya dengan proyek-proyek pembukaan lahan di kota Berau. Di sanalah, Pak Gendut melihat Willy kecil dipelihara oleh warga setempat.
World Animal Day
4 Oktober 2011
Today is
“WORLD ANIMAL DAY”
Get involved, and do something special for the animal.
see what you can do here to get involved
Orangutan Berkunjung Ke Sekolah
20 September 2011
Kampanye edukasi, mungkin ini adalah bahasa yang tepat mengenai kegiatan yang baru saja kami (saya dan teman-teman relawan orangutan) lakukan beberapa hari kemarin yaitu school visit di salah satu SMA Samarinda. Kenapa disebut kampanye, tentunya karena salah satu tujuannya adalah menyuarakan sesuatu hal kepada masyarakat umum untuk tergerak hatinya dan peduli serta turut membantu dalam upaya penyelamatan orangutan. Dan kenapa disebut edukasi, karena di dalamnya ada sebuah proses belajar yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, yang tadinya tidak paham menjadi paham, yang tadinya tidak mengerti menjadi mengerti. Begitulah. Baca entri selengkapnya »
Orang Mana?
22 Agustus 2011
Namanya Orangutan, berarti hidupnya ya di hutan dong. Sayangnya, ga semua Orangutan bisa hidup di hutan. Ada yang tinggal di rumah (dipelihara), ada yang di Kebun Binatang (dipertontonkan), ada pula yang di pusat rehabilitasi (diselamatkan).
Dari semua tempat hunian baru Orangutan sebenarnya cukup menjanjikan. Orangutan ga perlu bingung lagi untuk cari makan. Segala kebutuhannya sudah tersedia. Tinggal 5M, makan, minum, main, merem dan modol. Asyikkan?
Jelas tidak. Namanya Orangutan ya tinggal di hutan. Kalau dia tinggal di rumah, jadi Orangrumah. Tinggal di Kebun Binatang, jadi Orangbonbin. Tinggal di rehabilitasi, jadi Orangrehab. Harusnya dia bubur merah bubur putih dulu.
Hutan itu ibarat takdir hidupnya. Tidak tinggal di hutan, berarti takdir hidupnya sudah dirampas. Siapa pelakunya? Semua bisa jadi tersangka. Saya, kamu, anda, engkau, ente, elu, kami, kita, kalian, lu lu pade, semua bisa jadi tersangka.
Orangutan tinggal di hutan. Di mana hutan?
Pertanyaan yang mengelitik. Berhektar-hektar hutan di ada di Indonesia. Sayangnya, hampir semua hutan sudah ada hitam di atas putih. Yang disisakan hanya bukit-bukit gundul yang tidak jelas statusnya. Ada hutan tapi punya juragan anu. Mau dibikin anu. Untuk anu. Supaya dapat anu. Nanti jadi anu.
Lagi-lagi takdir Orangutan sudah diperkosa. Lalu ditinggalkan begitu saja. Habis nikmat, dibuang sayang saja.
Takdir Orangutan tinggal di hutan. Lebih baik di hutan. Bagusnya di hutan. Aman di hutan. Bahagia di hutan. Siapa mau ke hutan?
Orangutan (sambil ngacung).
Kemerdekaan Orangutan
20 Agustus 2011
Kemerdekaan ialah hak segala bangsa. Termasuk pula bangsa kera. Sayangnya, hingga saat ini mereka belum lah mendapatkan kemerdekaannya secara utuh. Mereka masih menjadi korban pembantaian dengan alasan konflik kepentingan manusia. Mereka masih menjadi sudut yang tak berarti karena tak ada kontribusi yang bisa mereka berikan secara langsung pada manusia. Keberadaan mereka hanyalah hama perusak pemangku bisnis. Mereka memang tidak lebih baik, selain untuk dienyahkan.
Andai mereka bisa berteriak berkata layaknya manusia. Mereka tentu menginginkan KEMERDEKAAN DI ALAM RIMBA.













