hore
15 Mei 2012
Manchester City Juara!!!
HORE
-ung the citizen-
Basic Training for Wildlife Photography (2007)
11 Mei 2012
Baru inget, ternyata dulu saya pernah jadi bagian dari perhelatan belajar memotret satwa di alam.
Pada kegiatan ini kami mengundang Bang Caca (Riza Malon) yang sudah kesohor sebagai fotografer satwa liar untuk menjadi pemateri inti.
Waktu itu saya ambil bagian sebagai panitia acara. Meski begitu, ilmunya lumayan dapat lah sedikit-sedikit mah. Walaupun saat itu belum punya kamera sendiri. Untuk hasil jepretan saya pribadi, saat ini bisa dilihat di blog satu ini. Owa Jawa.
Nggak bagus-bagus amat. Tapi lumayan aja :p
Oh ya, apa kabar peserta BTfWP 2007?
©BTfWP 2007 |
Tiba-Tiba Merenung
1 Mei 2012
Akhir-akhir ini suka merenung. Kadang merenung di kamar, kadang di pantai, kadang di hutan, lebih sering di kamar mandi. Banyak pikiran. Ah nggak juga. Cuma selintas memikirkan sesuatu.
Kadang kepikiran abah, ibu, teteh, kabogoh, babaturan, popotongan, persib bandung, manchester city, isi dompet, menikah, bisnis, masa lalu, masa depan, sampai mikirin monyet yang sedang birahi (estrus) di depan mata. Hal-hal kayak gitu kadang silih berganti masuk ke dalam otak, memberikan stimulan-stimulan yang ujung-ujungnya malah melamun.
Lamunannya juga aneh-aneh. Jadi superhero macam sepiderman, jadi bocah supergenius umur 25 udah punya gelar doktor dua bidang, jadi pemain bola luar biasa bertalenta, jadi transgender, jadi seniman, jadi promotor, jadi-jadian pada akhirnya.
Tuh kan, mulai aneh.
Kayaknya saya harus berhenti makan telur.
menyambut matahari
13 April 2012
membuka pagi
20 Februari 2012
Kegiatan yang paling saya suka setiap kali bangun tidur di pagi hari adalah membuka jendela kamar.
Setiap kali membuka jendela, ada sinar mentari, ada hijau daun, ada kicau burung, kadang ada jemuran baju-celana (serta “isiannya” :p) menjadi pemandangan yang menarik untuk mengawali pagi (kecuali “isiannya”).
Sayangnya, aktivitas pagi membuka jendela hanya bisa saya nikmati dua hari dalam seminggu. Selebihnya, pagi gulita.

balonku (memang) ada lima
8 Februari 2012
Kemarin, saya melihat seorang bocah kecil. Dia berjalan dengan sebuah balon berwarna merah hati. Besar. Lebih besar dari badannya. Bahkan kedua tangan si bocah itu tak sanggup untuk merangkulnya.
Bukan hanya si bocah. Sebenarnya, saya juga punya/pernah punya/akan punya balon juga. Ada lima balon yang sampai saat ini saya miliki/pernah miliki/akan dimiliki.
Balon pertama berwarna biru. Cukup lama sekali. Mungkin satu dekade yang lalu. Setelah satu tahun menyimpannya, saya kehilangan dia di sebuah mall di bandung.
Sedih. Tentu saja. Dia balon pertamaku.
Balon kedua, warnanya merah-muda. Warnanya terlalu feminis untuk seorang laki-laki. Tapi cukup menyenangkan memilikinya.
Entah kenapa saya tiba-tiba meninggalkannya. Di bus damri. Ketika bus mulai pergi menjauh, saya melihat balon merah-muda menyembul dari jendela. Basah ditetesi hujan malam. Lalu hilang ditelan gemerlap lampu jalanan.
Balon yang ketiga, warnanya ungu. Saya menyimpannya, tapi tidak tersimpan rapi.
Awalnya, saya mengira balon ungu mengempis. Mungkin karena sering terkena panas dan dingin. Lalu saya berinisiatif memompanya. Terlalu banyak saya memberinya angin. Ia mengembung dan “Dar”. Hanya satu potongan kecil yang tertinggal. Sebagian besar hilang.
Balon keempat, berwarna kuning. Dia terbang di langit. Terlihat seperti matahari.
Meskipun dia jauh di atas, saya memegangnya dengan seutas tali yang terbentang. Terikat di pergelangan.
Sampai kapan tali ini akan terus terbentang. Tergantung angin, tergantung tali, tergantung tangan. Tergantung cuaca saat ini.
Suatu hari mungkin saya harus menariknya. Bila petir datang.
Balon terakhir, balon kelima. Warnanya putih. Lebih tepatnya tak berwarna.
Tidak begitu yakin warnanya seperti apa. Masih tersimpan rapi di dalam etalase toko. Jika suatu hari saya memilikinya, saya akan memberikan warna padanya.
Terlihat bagus, menarik. Mungkin bukan saya seorang yang ingin memilikinya. Atau melihatnya terpajang di etalase toko.
Itulah balon-balon yang pernah/sedang/akan saya miliki. Mana yang terbaik? Semuanya bagus. Yang jelek hanyalah bagaimana saya merawat, menyimpan, dan menjaganya
sumber gambar: nyabunny605.deviantart.com/art/Balloon-Sketch-144758395

hujan tidak datang di pagi hari
8 Februari 2012
Kemarin. Saya berharap hujan akan datang di pagi hari. Sayang, dia tak kunjung datang. Terlalu jauh mungkin.
Tapi dia hadir. Dalam mimpi. Membuatku tertidur lelap. Selelap-lelapnya. Hingga kesiangan untuk mengejar monyet.
Saya pernah menulis tentang hujan di pagi hari. Menyedihkan. Menurut saya.
Sama seperti percakapan terakhir saya dengan seseorang. Pagi hari. Dan hujan.
Hanya kamera digital yang menghiburku saat itu. Dengan beberapa potret bahagia orang yang baru saja menikah. Saya tidak kenal siapa mereka. Yang jelas, mereka berbahagia. Saya tidak.
Saya tahu rasanya kesedihan di kala hujan pagi. Walaupun begitu saya rindu. Rindu berselimut hangat.
Jika hujan memang tidak akan datang pagi hari. Bangunkan saya lebih awal. Saya mau ke hutan. Mencari monyet.
a little present
7 Februari 2012
hujan pagi
5 Februari 2012
berharap esok hujan datang menyapa pagi, walau hanya dalam mimpi







