terbit dari timur laut
13 April 2012
menyambut matahari
13 April 2012
Reptil to Reptil
11 April 2012
Tarsius spectrum
6 April 2012
Akhirnya kesampaian juga majang foto Tarsius di blog. Sayangnya, lagi-lagi ini bukan hasil karya jepretan saya. Masih sumbangan foto dari saudara Irawan Halir.
Tangkasi (dalam bahasa lokal Minahasa dan mulai dilupakan) atau Spectral Tarsier (dalam bahasa Inggris) atau juga Tarsius spectrum (dalam bahasa latin) adalah salah satu primata mungil yang bisa ditemukan di hutan Tangkoko.
Primata nokturnal ini menjadi salah satu primadona bagi turis asing yang berkunjung. Hal yang selalu dijanjikan oleh para pemandu kepada turisnya bahwa mereka bisa melihat Tangkasi. Bahkan di siang hari.
Kalau ada yang bertanya, berapa jumlah populasi Tangkasi di hutan Tangkoko? Mungkin bisa dikategorikan banyak. Hampir setiap menjelang pagi atau malam saya mendengar suara cicitannya di balik rerimbunan pohon. Tapi belum pernah melihatnya secara langsung pada saat mereka sedang aktif bersosialisasi.
Namun dari sekian banyaknya suara Tangkasi yang saya dengar, hanya ada dua lokasi yang sering digunakan oleh para pemandu untuk para turis. Tangkasi di kedua lokasi tersebut cukup terhabituasi dengan kehadiran manusia. Jadi mereka sudah tidak merasa aneh jika melihat gerombolan manusia datang dalam jumlah banyak disertai kilatan cahaya lampu kamera yang mengabadikan mereka.
Walaupun tidak bisa dibenarkan caranya, tapi setidaknya itu lebih baik ketimbang mengeksploitasi seluruh isi kekayaan yang ada di hutan dengan atas nama “pariwisata”.
Tarantula
3 April 2012
Katanya sih ini adalah jenis laba-laba Tarantula. Itu tuh, jenis laba-laba yang berukuran besar (beracun nggak ya?).
Faktanya, memang laba-laba yang ada di foto ini berukuran besar. Mungkin sekitar pleus minus 20 cm. Lumayan nyeremin kalo nempel di pundak.
Laba-laba Tarantula ini bisa ditemukan di hutan Tangkoko. Tidak sembarang tempat dan waktu untuk bisa melihatnya. Mereka bersarang pada tempat-tempat tertentu dan aktif pada malam hari. Jadi kalau mau melihatnya musti berjalan gelap-gelapan di tengah hutan.
Kebetulan Tarantula di atas sedang musim beranak. Sekali beranak, jumlahnya lumayan banyak. Kebayang kalo mereka datang berbondong-bondong masuk ke kamar saya. Bisa aje gila guling-guling di kasur sambil tereak-tereak. Mudah-mudahan nggak terjadi
Kalau yang di atas ini anaknya si Tarantula. Walaupun masih kecil, tapi bulunya udah lebat. Punya saya kalah lebatnya (maksudnya bulu kumis).
Ular Viper (lagi)
30 Maret 2012
Viper Merah aka Viper Hijau
19 Maret 2012
Kemarin, kebetulan salah satu asisten lapangan, Irawan Halir menemukan dan mencoba mengabadikan gambarnya. Hasilnya, wew COOOL PISAN.

Viper Merah kalau udah gede bakal jadi hijau. Jadinya Viper Hijau. Salah satu jenis ular yang bisa ditemukan di hutan Tangkoko.
Bubble Man
18 November 2011
Jilat-Jilat Gulali
17 November 2011
Gulali Masa Kini
16 November 2011
Hampir sebagian besar saya lupa akan memori masa kecil. Entah kenapa ini bisa terjadi. Seakan kejadian-kejadian semasa kecil dulu hilang begitu saja. Bahkan nama-nama teman sekelas sewaktu SD dulu juga saya tidak ingat, kecuali satu nama. Itu juga karena kebetulan waktu kuliah bertemu lagi dan saya tidak melupakan titik hitam di atas bibirnya. Hehehe..
Tulisan ini bukan tentang si gadis titik hitam di atas bibir. Ini tentang merenda memori yang hilang. Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi pasar kaget Lapangan Sempur Bogor. Seperti semua orang tahu, pasar kaget pasti penuh pedagang. Di antara para pedagang-pedagang yang tumplek tumpah ruah saya melihat salah satu pedagang yang bisa saya katakan sudah tidak usum (musim) lagi. Siapa pedagang itu?
Inilah dia.
Mamang Gulali.
Waktu SD dulu, jajanan gulali terbilang jajanan menarik. Yang bikin menarik tentu saja warnanya yang ngejreng serta bentuk-bentuknya yang unik. Ditambah lagi dulu itu suka ada cetakan khusus dengan bentuk binatang-binatang yang lucu. Jadi bisa pilih mau bentuk yang seperti apa.
Sekarang, sepengamatan saya sih bentuknya biasa-biasa saja. Namun secara teknik pewarnaan, lebih menarik loh. Dulu cuman warna merah doang, klo sekarang udah ada warna hijaunya. Dan ga terlalu ngejreng, lebih soft…
Mengenai bentuk, saya jadi teringat sama satu bentuk yang jadi pilihan saya dan teman-teman dulu. Burung. Ga keren-keren amat sih bentuknya, tapi entah apa yang dilakukan si Mamang Gulali sehingga membuat si burung tersebut layaknya seekor burung yang pandai “berkicau”.
Masih ada ga ya si Burung Gulali Berkicau?





