Mereka Memanggilku “Willy”
16 Oktober 2011
“Pak Gendut”, dia memperkenalkan dirinya. Orang-orang di sekitar rumahnya pun memanggilnya demikian. Padahal ia tidak gendut-gendut amat. Sama seperti om-om setengah abad yang kesulitan melipatkan tubuh karena terganjal oleh perut buncitnya.
Pekerjaannya, ah sebut saja dia seorang pekerja proyek. Dia tinggal di suatu tempat yang tidak memiliki alamat resmi. Tempatnya berteduh hanyalah pondasi kayu semi permanen yang dibangun liar di tengah lahan kosong sebuah kota. Yang suatu saat bisa saja digusur tanpa harus mendapatkan ganti rugi.
“Willy”, begitu Pak Gendut memberikan nama padanya. Orangutan jantan yang sudah dipeliharanya sejak 2005 silam. Awal perjumpaan Pak Gendut dengan Willy dimulai saat beliau masih berjaya dengan proyek-proyek pembukaan lahan di kota Berau. Di sanalah, Pak Gendut melihat Willy kecil dipelihara oleh warga setempat.
Pemberontakan Hercules
13 Oktober 2011
©Ismail Agung 2011 |
Pernahkah kamu digigit oleh binatang? Semacam anjing, kucing, tokek bahkan semut.
Bagaimana perasaanmu saat mereka mengigitmu? Sakit tentu saja, kesal apalagi.
Tapi pernahkah kamu merasa sedih pada saat kamu digigit binatang?
Perasaan yang aneh bukan. Meskipun harus bercucuran air mata, tentunya itu diakibatkan oleh rasa sakit luka yang ditimbulkan. Dan saya merasakan itu.
Selain rasa sakit yang ditimbulkan ternyata kesedihan yang rasakan lebih besar ketimbang luka gigitan pada kelingking kanan dan bengkak telunjuk kiri tangan saya serta beberapa goresan pada kaki.
Setelah luka yang didapat saya duduk terdiam di depan Hercules yang terbelenggu dalam kandang sempit meraung-meraung penuh emosi (dalam jarak aman pastinya) . Ia marah ketika kami menempatkannya dalam jeruji besi. Badannya yang beranjak besar memberontak. Dibanting-bantingkan tubuhnya hingga kandangnya terguling-guling.
Saya seorang diri di sana, tidak bisa berbuat banyak. Mendekatinya sama saja dengan menambah luka yang ada. Melihatnya membentur-benturkan diri membuat saya semakin pilu. Tapi cara ini terpaksa kami tempuh.
Karena sebuah alasan Hercules dimasukkan ke dalam kandang isolasi. Semuanya demi kebaikan bersama.
Pagi itu kami berencana untuk membersihkan enclosure (taman luas dengan berbagai fasilitas yang memenuhi kebutuhan satwa) yang dihuni Hercules dan 4 orangutan lainnya. Hercules selaku jagoan kandang memiliki sifat agresivitas yang tinggi terhadap orang-orang yang baru dijumpainya dan tak segan untuk menyerang. Terutama mengigit.
Inilah yang membuat kami berpikir untuk mengisolasinya, demi keamanan. Toh semua ini semata-mata demi kenyamanannya juga kelak di enclosure.
Akan tetapi, seekor jagoan ditempatkan di kandang sempit. Mungkin ini sangat-sangat menyakiti hatinya selaku pejantan. Maka tertekanlah batinnya dengan segala kemarahan dibalik jeruji besi.
Dan saya bersedih melihat ketidakbebasannya lebih dari bengkak dan goresan-goresan kulit yang mengalirkan darah segar. Bertahanlah, tak lama lagi kau kembali bermain di tempat luas.
Gigitan Pertama
12 Oktober 2011
Sudah empat hari sejak gigitan pertama yang ditinggalkan oleh Hercules kepada saya. Namun bekas luka itu belum kering benar. Masih basah, bernanah, dan sedikit gatal yang membuat saya ingin sesekali menguyek-nguyek.
Ini adalah gigitan pertama yang orangutan berikan kepada saya. Kaget tentu saja, apalagi saya belum disuntik vaksin sama sekali. Semakin khawatir jika ternyata si Hercules menularkan zoonosis-nya kepada saya. Mengingatkan saya akan sebuh film tentang virus Ebola yang ditularkan oleh seekor monyet. Ngeri, jika itu benar-benar terjadi pada saya. Entah apa jadinya diri ini dalam hitungan beberapa jam ke depan.
Orangutan Berkunjung Ke Sekolah
20 September 2011
Kampanye edukasi, mungkin ini adalah bahasa yang tepat mengenai kegiatan yang baru saja kami (saya dan teman-teman relawan orangutan) lakukan beberapa hari kemarin yaitu school visit di salah satu SMA Samarinda. Kenapa disebut kampanye, tentunya karena salah satu tujuannya adalah menyuarakan sesuatu hal kepada masyarakat umum untuk tergerak hatinya dan peduli serta turut membantu dalam upaya penyelamatan orangutan. Dan kenapa disebut edukasi, karena di dalamnya ada sebuah proses belajar yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, yang tadinya tidak paham menjadi paham, yang tadinya tidak mengerti menjadi mengerti. Begitulah. Baca entri selengkapnya »
Pelanduk Dada-putih, Burung Yang Suka “Minta Duit”
9 September 2011
Berhubung dari kemarin isi postingannya Orangutan mulu, sekarang balik lagi ke burung. Kasian nih burung, file fotonya sudah teronggok lama di folder si Tara *nama netbook saya*.
Nama Indonesia untuk burung di atas adalah Pelanduk Dada-putih, latin Trichastoma rostratum dan nama Inggris White-chested Babbler. Berdasarkan buku panduan Mbah Kinnon, burung pelanduk masuk ke dalam suku burung pengoceh. Diklasifikasikan demikian karena burung ini cenderung berkicau layaknya sedang mengoceh (entah bagaimana saya harus mendeskripsikan suara mengoceh).
Selain itu, burung pelanduk memiliki sayap yang pendek dan bukan penerbang yang kuat. Maka tak heran jika menjumpai burung ini lebih banyak di permukaan tanah ataupun semak belukar ketimbang di tajuk pohon.
Khusus burung Pelanduk Dada-putih, burung ini hanya bisa ditemukan di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Umum di hutan rawa, hutan mangrove, hutan tepi sungai hingga ketinggian 500 meter di atas permukaan laut.
Jika anda tinggal di Samarinda, burung ini juga dapat ditemukan di sekitar kawasan Kebun Raya Unmul Samarinda. Di Kalimantan, burung suara Pelanduk Dada-putih dikenal dengan 3 bunyi nada yaitu “minta duit” *kesannya kok kayak pengemis banget nih burung*. Jadi, jika ingin mudah menemukan burung satu ini syaratnya hanya satu, sedia dompet tebal penuh isi. Hehehe..
-Ung-
David dan Claustrophobia
5 September 2011
Di dalam boks kayu yang sempit, David meraung-raung dengan suara khas orangutan jantan. Dia cukup tertekan. Setiap orang yang mendekati boks ia coba tarik dengan tangannya melalui celah-celah boks lalu mengeluarkan giginya yang besar dan mengigitnya.
David merupakan orangutan jantan remaja yang baru dievakuasi. Di dahinya terlihat jelas bekas luka yang besar. Bekas luka yang bukan berasal dari perkelahian dengan kerabatnya sendiri. Nasibnya cukup beruntung karena ia sempat diselamatkan oleh Balai Konservasi sebelum mati sia-sia karena dianggap hama.
Meskipun begitu, David belum mendapatkan rasa aman dan nyaman yang layak. Boks kayu seakan menjadi claustrophobia baginya. Balai tidak memiliki kandang yang cukup laik untuk menempatkan David.
Satu jam perjalanan kami tempuh dengan membawa kandang baru yang lebih luas dan terbuka untuk David di Balai. Sesampainya di sana kami justru berkutat memikirkan cara terbaik untuk memindahkan David dari boks ke kandang barunya.
Tidak mudah karena David cenderung agresif kepada siapa saja yang mendekatinya. Terlebih lagi, boks kayu dipaku dengan sangat kuat sehingga membuat kami kesulitan untuk membongkarnya. Butuh 4 jam pengorbanan dan perjuangan hingga kami bisa memindahkan David ke kandang barunya.
Di kandang barunya, kini David terlihat lebih tenang. Kami pun turut senang karena ia tidak lagi harus ketakutan di dalam boks kayu sempit dan gelap.
Namun David tidak tinggal lama di kandang baru. Satu minggu kemudian David kembali dipindahkan oleh Balai. Mereka sudah menemukan tempat lain untuk menitipkan David. Semoga saja di tempat barunya nanti, David mendapatkan kandang yang lebih luas atau dilepasliarkan ke habitat baru. Semoga saja.
Selamat tinggal David. Wish you luck.
Beruk atau Bankui, Sisi Liar KRUS
25 Agustus 2011
Jika sedang jalan-jalan di Kebun Raya Unmul Samarinda, sebaiknya berhati-hati bila berpapasan dengan monyet satu ini. Beruk (Macaca nemestrina) atau orang lokal Samarinda biasa menyebutnya dengan Bankui merupakan monyet yang disegani maupun ditakuti. Menurut cerita para animal keeper, Beruk di KRUS tidak segan-segan menyerang orang yang ditemuinya.
Tidak menyerang pun sebenarnya mereka sudah cukup menakutkan. Apalagi jika yang muncul ternyata satu RT yang lebih dari 10 ekor.
Beruk merupakan satwa penghuni asli yang tinggal di hutan Kebun Raya. Mereka tidak tinggal di Kebun Binatang melainkan sudah ada sebelum KRUS berdiri. Maka oleh karena itu perilakunya tentu saja sedikit berbeda dibandingkan dengan yang ada di dalam kandang.
Kabar terakhir yang saya dengar dari si Beruk ini juga bukanlah kabar yang cukup baik. Setelah sekian minggu tidak terlihat, mereka kembali terlihat pada pagi hari di sekitar areal Kebun Binatang. Parahnya, kehadiran mereka justru malah dibarengi dengan tindakan kasar brutal yang memakan korban.
Tercatat, satu ekor Burung Bangau Tongtong harus menemui ajalnya setelah dikeroyok oleh para Beruk. Lebih sedihnya lagi, sehari sebelum sang Bangau wafat, saya dan dia sempat jalan-jalan bareng sambil pengamatan burung.
Ini adalah foto terakhir sang Bangau yang sempat saya abadikan sebelum ajalnya.
Semoga kau damai wahai Bangau.
Dan kau Beruk, tetaplah liar!
Kipasan Belang (Rhipidura javanica)
24 Agustus 2011
Kipasan Belang, Rhipidura javanica (dalam bahasa inggris disebut Pied Fantail) mudah dikenali dari bentuk ekornya yang seperti kipas bila sedang dikembangkan. Burung ini termasuk jenis burung yang paling sering dijumpai di sekitar area Kebun Raya Unmul Samarinda. Hampir di setiap sudut hutan selalu terdengar siulannya dan terkadang terbang berpasangan sambil berkejar-kejaran.
Tertarik untuk melihatnya? Tidak usah repot-repot harus ke Samarinda. Burung ini cukup umum ditemukan di wilayah Sunda Besar (meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Bali) di daerah hutan terbuka. Siap-siap saja terpesona melihat hiburannya saat sedang menari mengibas-ngibaskan ekor kipasnya yang naik turun.





