orangutan willy

“Pak Gendut”, dia memperkenalkan dirinya. Orang-orang di sekitar rumahnya pun memanggilnya demikian. Padahal ia tidak gendut-gendut amat. Sama seperti om-om setengah abad yang kesulitan melipatkan tubuh karena terganjal oleh perut buncitnya.

Pekerjaannya, ah sebut saja dia seorang pekerja proyek. Dia tinggal di suatu tempat yang tidak memiliki alamat resmi. Tempatnya berteduh hanyalah pondasi kayu semi permanen yang dibangun liar di tengah lahan kosong sebuah kota. Yang suatu saat bisa saja digusur tanpa harus mendapatkan ganti rugi.

“Willy”, begitu Pak Gendut memberikan nama padanya. Orangutan jantan yang sudah dipeliharanya sejak 2005 silam. Awal perjumpaan Pak Gendut dengan Willy dimulai saat beliau masih berjaya dengan proyek-proyek pembukaan lahan di kota Berau. Di sanalah, Pak Gendut melihat Willy kecil dipelihara oleh warga setempat.

Baca entri selengkapnya »

Pemberontakan Hercules

13 Oktober 2011

hercules 1 hercules 2 hercules 3 hercules 4
©Ismail Agung 2011

Pernahkah kamu digigit oleh binatang? Semacam anjing, kucing, tokek bahkan semut.

Bagaimana perasaanmu saat mereka mengigitmu? Sakit tentu saja, kesal apalagi.

Tapi pernahkah kamu merasa sedih pada saat kamu digigit binatang?

Perasaan yang aneh bukan. Meskipun harus bercucuran air mata, tentunya itu diakibatkan oleh rasa sakit luka yang ditimbulkan. Dan saya merasakan itu.

Selain rasa sakit yang ditimbulkan ternyata kesedihan yang rasakan lebih besar ketimbang luka gigitan pada kelingking kanan dan bengkak telunjuk kiri tangan saya serta beberapa goresan pada kaki.

Setelah luka yang didapat saya duduk terdiam di depan Hercules yang terbelenggu dalam kandang sempit meraung-meraung penuh emosi (dalam jarak aman pastinya) . Ia marah ketika kami menempatkannya dalam jeruji besi. Badannya yang beranjak besar memberontak. Dibanting-bantingkan tubuhnya hingga kandangnya terguling-guling.

Saya seorang diri di sana, tidak bisa berbuat banyak. Mendekatinya sama saja dengan menambah luka yang ada. Melihatnya membentur-benturkan diri membuat saya semakin pilu. Tapi cara ini terpaksa kami tempuh.

Karena sebuah alasan Hercules dimasukkan ke dalam kandang isolasi. Semuanya demi kebaikan bersama.

Pagi itu kami berencana untuk membersihkan enclosure (taman luas dengan berbagai fasilitas yang memenuhi kebutuhan satwa) yang dihuni Hercules dan 4 orangutan lainnya. Hercules selaku jagoan kandang memiliki sifat agresivitas yang tinggi terhadap orang-orang yang baru dijumpainya dan tak segan untuk menyerang. Terutama mengigit.

Inilah yang membuat kami berpikir untuk mengisolasinya, demi keamanan. Toh semua ini semata-mata demi kenyamanannya juga kelak di enclosure.

Akan tetapi, seekor jagoan ditempatkan di kandang sempit. Mungkin ini sangat-sangat menyakiti hatinya selaku pejantan. Maka tertekanlah batinnya dengan segala kemarahan dibalik jeruji besi.

Dan saya bersedih melihat ketidakbebasannya lebih dari bengkak dan goresan-goresan kulit yang mengalirkan darah segar. Bertahanlah, tak lama lagi kau kembali bermain di tempat luas.

senja dan hercules

Gigitan Pertama

12 Oktober 2011

Image76

Sudah empat hari sejak gigitan pertama yang ditinggalkan oleh Hercules kepada saya. Namun bekas luka itu belum kering benar. Masih basah, bernanah, dan sedikit gatal yang membuat saya ingin sesekali menguyek-nguyek.

Ini adalah gigitan pertama yang orangutan berikan kepada saya. Kaget tentu saja, apalagi saya belum disuntik vaksin sama sekali. Semakin khawatir jika ternyata si Hercules menularkan zoonosis-nya kepada saya. Mengingatkan saya akan sebuh film tentang virus Ebola yang ditularkan oleh seekor monyet. Ngeri, jika itu benar-benar terjadi pada saya. Entah apa jadinya diri ini dalam hitungan beberapa jam ke depan.

Baca entri selengkapnya »

321184_2297075637229_1559267655_2400549_680259750_n

Kampanye edukasi, mungkin ini adalah bahasa yang tepat mengenai kegiatan yang baru saja kami (saya dan teman-teman relawan orangutan) lakukan beberapa hari kemarin yaitu school visit di salah satu SMA Samarinda. Kenapa disebut kampanye, tentunya karena salah satu tujuannya adalah menyuarakan sesuatu hal kepada masyarakat umum untuk tergerak hatinya dan peduli serta turut membantu dalam upaya penyelamatan orangutan. Dan kenapa disebut edukasi, karena di dalamnya ada sebuah proses belajar yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, yang tadinya tidak paham menjadi paham, yang tadinya tidak mengerti menjadi mengerti. Begitulah. Baca entri selengkapnya »

Exploring Heart of Borneo

13 September 2011

*Sebuah tulisan yang tertunda berbulan-bulan

heart of borneo

Tiga bulan berada di dalam hutan rimba adalah pengalaman luar biasa dalam hidup saya. Untuk pertamakalinya saya bisa merasakan bagaimana serunya berpetualang di hutan rimba, mengamati satwa-satwa, dan menikmati alam yang lestari. Dan semua itu terbalut menjadi satu dalam ekspedisi Murung Raya-Heart of Borneo Project.

Tidak mudah memang bagi kami untuk mencapai ke lokasi ekspedisi yang tepat berada di jantung Borneo. Perjalanan darat dan air kami tempuh. Entah berapa banyak sungai yang kami lalui, entah berapa banyak desa yang kami singgahi. Entah berapa kali muatan logistik yang beratnya mencapai 3 ton harus kami turun-naikan. Dan entah berapa kali kendala teknis menghadang perjalanan kami. Baca entri selengkapnya »

pelanduk dada-putih

Berhubung dari kemarin isi postingannya Orangutan mulu, sekarang balik lagi ke burung. Kasian nih burung, file fotonya sudah teronggok lama di folder si Tara *nama netbook saya*.

Nama Indonesia untuk burung di atas adalah Pelanduk Dada-putih, latin Trichastoma rostratum dan nama Inggris White-chested Babbler. Berdasarkan buku panduan Mbah Kinnon, burung pelanduk masuk ke dalam suku burung pengoceh. Diklasifikasikan demikian karena burung ini cenderung berkicau layaknya sedang mengoceh (entah bagaimana saya harus mendeskripsikan suara mengoceh).

Selain itu, burung pelanduk memiliki sayap yang pendek dan bukan penerbang yang kuat. Maka tak heran jika menjumpai burung ini lebih banyak di permukaan tanah ataupun semak belukar ketimbang di tajuk pohon.

Khusus burung Pelanduk Dada-putih, burung ini hanya bisa ditemukan di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Umum di hutan rawa, hutan mangrove, hutan tepi sungai hingga ketinggian 500 meter di atas permukaan laut.

Jika anda tinggal di Samarinda, burung ini juga dapat ditemukan di sekitar kawasan Kebun Raya Unmul Samarinda. Di Kalimantan, burung suara Pelanduk Dada-putih dikenal dengan 3 bunyi nada yaitu “minta duit” *kesannya kok kayak pengemis banget nih burung*. Jadi, jika ingin mudah menemukan burung satu ini syaratnya hanya satu, sedia dompet tebal penuh isi. Hehehe..

-Ung-

David dan Claustrophobia

5 September 2011

Di dalam boks kayu yang sempit, David meraung-raung dengan suara khas orangutan jantan. Dia cukup tertekan. Setiap orang yang mendekati boks ia coba tarik dengan tangannya melalui celah-celah boks lalu mengeluarkan giginya yang besar dan mengigitnya.

David merupakan orangutan jantan remaja yang baru dievakuasi. Di dahinya terlihat jelas bekas luka yang besar. Bekas luka yang bukan berasal dari perkelahian dengan kerabatnya sendiri. Nasibnya cukup beruntung karena ia sempat diselamatkan oleh Balai Konservasi sebelum mati sia-sia karena dianggap hama.

davidMeskipun begitu, David belum mendapatkan rasa aman dan nyaman yang layak. Boks kayu seakan menjadi claustrophobia baginya. Balai tidak memiliki kandang yang cukup laik untuk menempatkan David.

Satu jam perjalanan kami tempuh dengan membawa kandang baru yang lebih luas dan terbuka untuk David di Balai. Sesampainya di sana kami justru berkutat memikirkan cara terbaik untuk memindahkan David dari boks ke kandang barunya.

Tidak mudah karena David cenderung agresif kepada siapa saja yang mendekatinya. Terlebih lagi, boks kayu dipaku dengan sangat kuat sehingga membuat kami kesulitan untuk membongkarnya. Butuh 4 jam pengorbanan dan perjuangan hingga kami bisa memindahkan David ke kandang barunya.

Di kandang barunya, kini David terlihat lebih tenang. Kami pun turut senang karena ia tidak lagi harus ketakutan di dalam boks kayu sempit dan gelap.

David

Namun David tidak tinggal lama di kandang baru. Satu minggu kemudian David kembali dipindahkan oleh Balai. Mereka sudah menemukan tempat lain untuk menitipkan David. Semoga saja di tempat barunya nanti, David mendapatkan kandang yang lebih luas atau dilepasliarkan ke habitat baru. Semoga saja.

Selamat tinggal David. Wish you luck.

otanSatwa dilindungi, begitulah orang-orang mengenalnya. Tidak hanya orang Indonesia saja, akan tetapi orang-orang dari seluruh dunia pun mengakui bahwa satwa satu ini merupakan satwa yang (harus) dilindungi. Namun nyatanya, di luar dari kertas pernyataan dilindungi tersebut, nasib orangutan di alamnya justru tidak terlindungi.

Orangutan memang bukan makhluk baru bagi saya. Saya mengenalnya dari kecil sejak uang kertas limaratus rupiah masih berlaku. Namun, berbagai informasi mengenai kondisi orangutan saat ini justru banyak saya dapatkan setelah mengikuti pembekalan relawan orangutan yang diselenggarakan oleh Center for Orangutan Protection.

Beruntungnya saya, setelah pembekalan relawan selama satu minggu akhirnya saya terpilih sebagai salah satu anggota tim yang diberangkatkan ke Samarinda selama tiga bulan. Di sini (Samarinda) selama satu bulan pertama yang bertepatan dengan ramadan, saya membantu rekan-rekan yang sebelumnya ditugaskan untuk mengurus dan merawat orangutan.

Uci dan Michel

Untuk pertamakalinya dalam pengalaman hidup saya bisa menyentuh orangutan secara langsung. Saya sering melihat orangutan di kebun binatang, tapi menyentuhnya secara langsung adalah pengalaman yang berbeda. Namun bukan rasa bangga yang saya dapatkan, melainkan rasa sedih yang mendalam.

micel 008Uci dan Michel, dua bayi orangutan yang berusia kurang dari 5 bulan harus hidup dan tumbuh tanpa kehadiran induknya. Mereka diselamatkan setelah sebelumnya sempat dipelihara terlebih dahulu oleh warga. Setiap harinya, terutama Michel sering merengek dan menjerit sedih. Seringkali di tengah malam atau saat saya dan rekan-rekan sedang sahur terdengar rengekannya. Mau tak mau salah seorang dari kami menghampiri dan membuatkannya sebotol susu lalu menidurkannya kembali.

Cara itu kadang tidak berhasil. Karena bukan sebotol susu yang dia butuhkan melainkan pelukan sang induk. Tangannya akan terus menjulur keluar dari ranjang dan berusaha mengapai seseorang yang ada di depannya sambil menjerit-jerit. Ia baru tenang ketika dia bisa meraih orang yang ada di depannya dan memeluk erat menggantung di bagian perut.

Dan kamipun sahur bergantian sambil memeluk Michel dalam dekapan.

Belajar di Sekolah Hutan

Kebun Raya menjadi basecamp sementara kami selama di Samarinda. Ada 9 ekor orangutan penghuni Kebun Binatang mini yang dikelola oleh Kebun Raya. Kisah mereka cukup beragam, ada yang serahan sukarela dari warga, evakuasi dari orang yang memelihara, bahkan ada yang tidak jelas asal usulnya.

Setiap hari sabtu kami memiliki program rutin untuk orangutan yaitu sekolah hutan. Bersama perawat satwa, kami membawa orangutan masuk ke kawasan hutan yang masih ada di dalam areal Kebun Raya. Tujuan dari Sekolah Hutan adalah mengajarkan dan mempertahankan sifat liar orangutan, seperti memanjat pohon, membuat sarang, dan memilih buah liar untuk dimakan.

Di satu kesempatan, saya mendapatkan peran mengawasi Pingpong, orangutan jantan berusia 3 tahun. Pingpong memiliki asal usul yang tidak jelas. Menurut cerita, perawat satwa menemukan Pingpong di halaman parkir Kebun Raya. Seseorang mungkin dengan sengaja meninggalkannya di sana.

orangutan 051 orangutan 098
orangutan 110 orangutan 122

Saat sekolah hutan tiba, Pingpong sangat manja sekali. Dia enggan melangkahkan kakinya menuju lokasi hutan. Layaknya seorang anak kecil yang sedang merajuk, dia hanya duduk diam sambil menyilangkan kedua tangannya. Sesekali dia memalingkan mukanya. Jika sudah begini, hanya ada dua pilihan: menunggunya atau memaksanya.

Bila menunggu cukup terlalu lama, maka opsi kedua harus diambil, memaksanya berjalan. Meskipun begitu, Pingpong tetap saja malas. Ia tidak melangkahkan kakinya, ia justru bertumpu pada lengan saya dan berjalan mengayun.

Di sekolah hutan, Pingpong enggan memanjat pohon dan belajar membuat sarang. Dia hanya duduk-duduk memainkan batang kayu mati yang sudah lapuk dan mengigitinya. Sesekali dia merajuk dengan gaya khasnya.

Semua hal yang dilakukan Pingpong dicatat dalam buku harian Sekolah Hutan, baik tingkahlakunya maupun jenis makanan yang diambilnya. Setiap perubahan tingkahlaku orangutan dapat terawasi dari buku catatan tersebut.

 

Satu bulan kemarin bersama orangutan adalah pengalaman pertama bagi saya berpuasa hingga berlebaran bersama para orangutan dan juga pengalaman pertama bagi saya berlebaran jauh dari orangtua. Meskipun jauh dari sanak famili, dan tiada ketupat serta opor ayam, saya bersyukur masih diberikan ceritalebaran yang amat berharga.

beruk Macaca nemestrina

Jika sedang jalan-jalan di Kebun Raya Unmul Samarinda, sebaiknya berhati-hati bila berpapasan dengan monyet satu ini. Beruk (Macaca nemestrina) atau orang lokal Samarinda biasa menyebutnya dengan Bankui merupakan monyet yang disegani maupun ditakuti. Menurut cerita para animal keeper, Beruk di KRUS tidak segan-segan menyerang orang yang ditemuinya.

Tidak menyerang pun sebenarnya mereka sudah cukup menakutkan. Apalagi jika yang muncul ternyata satu RT yang lebih dari 10 ekor.

Beruk merupakan satwa penghuni asli yang tinggal di hutan Kebun Raya. Mereka tidak tinggal di Kebun Binatang melainkan sudah ada sebelum KRUS berdiri. Maka oleh karena itu perilakunya tentu saja sedikit berbeda dibandingkan dengan yang ada di dalam kandang.

Kabar terakhir yang saya dengar dari si Beruk ini juga bukanlah kabar yang cukup baik. Setelah sekian minggu tidak terlihat, mereka kembali terlihat pada pagi hari di sekitar areal Kebun Binatang. Parahnya, kehadiran mereka justru malah dibarengi dengan tindakan kasar brutal yang memakan korban.

Tercatat, satu ekor Burung Bangau Tongtong harus menemui ajalnya setelah dikeroyok oleh para Beruk. Lebih sedihnya lagi, sehari sebelum sang Bangau wafat, saya dan dia sempat jalan-jalan bareng sambil pengamatan burung.

Ini adalah foto terakhir sang Bangau yang sempat saya abadikan sebelum ajalnya.

bangau tongtong

Semoga kau damai wahai Bangau.

Dan kau Beruk, tetaplah liar!

kipasan belang 2

Kipasan Belang, Rhipidura javanica (dalam bahasa inggris disebut Pied Fantail) mudah dikenali dari bentuk ekornya yang seperti kipas bila sedang dikembangkan. Burung ini termasuk jenis burung yang paling sering dijumpai di sekitar area Kebun Raya Unmul Samarinda. Hampir di setiap sudut hutan selalu terdengar siulannya dan terkadang terbang berpasangan sambil berkejar-kejaran.

Tertarik untuk melihatnya? Tidak usah repot-repot harus ke Samarinda. Burung ini cukup umum ditemukan di wilayah Sunda Besar (meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Bali) di daerah hutan terbuka. Siap-siap saja terpesona melihat hiburannya saat sedang menari mengibas-ngibaskan ekor kipasnya yang naik turun.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.