Dalam hitungan tiga detik, saya melihat Willis dibalik kegelapan malam dan rerimbunan dedaunan serta rintik-rintik hujan. Saking singkatnya, saya bahkan tak sempat untuk mengabadikan dirinya.

Selidik punya selidik, ternyata tiga detik yang saya rasakan berbanding terbalik dengan apa yang telah Willis lalui selama ini.

wilis belajar survive di alam

Baca entri selengkapnya »

merbah cerukcuk merbah cerukcuk

Foto burung ini saya dapat sewaktu sedang nangkring di Jalan Malioboro. Saya pikir masih banyak burung jenis lainnya yang menghuni jalanan Malioboro karena jalanan ini masih lumayan cukup banyak pepohonan semacam beringin yang tentunya disukai oleh para burung sebagai pohon pakan.

Selain itu pula, Jalan Malioboro selalu dilalui oleh jenis burung raksasa yang tiada duanya yaitu seperti gambar di bawah ini,

welcome jogja  (32)

cikamal

Bagaimana cara membedakan Rusa betina remaja dan Rusa betina dewasa?

Pertanyaannya cukup sederhana, namun selama satu minggu pengamatan Rusa di Pangandaran ternyata tidak mudah untuk menjawabnya. Kalau hanya membedakan jantan betina mah gampang banget. Tinggal lihat "anunya" (tanduknya, hehehe).

Rusa Timur atau yang punya nama latin Rusa timorensis merupakan salah satu primadona satwa yang berada di Taman Wisata Alam Pangandaran. Padahal, berdasarkan catatan sejarah kawasan Pangandaran, rusa di sana bukanlah satwa asli daerah tersebut. Melainkan hasil introduksi yang dilakukan oleh Meneer Belanda yang punya hobi berburu.

Tidak tanggung-tanggung, untuk mendukung hobinya tersebut dibuat pula padang pengembalaan yang hingga kini masih ada di dalam kawasan Cagar Alam-nya. Badeto, Cikamal, dan Nanggorak adalah tiga lokasi padang pengembalaan yang kondisinya kini semakin penuh dengan semak-semak.

Sayangnya, kondisi padang pengembalaan yang semakin menyempit luasnya ini menjadi semakin jarang dikunjungi oleh para rusa. Seakan telah melupakan jasa para Meneer, Rusa Pangandaran justru lebih senang berkumpul dan mencari makan di sekitaran lapangan parkir hotel yang berada di luar area TWA.

Parahnya, areal di luar kawasan TWA dan CA tidak bisa dijamin bebas dari sampah. Rusa Pangandaran tidak merasakan keberatan untuk memamah sisa-sisa makanan manusia yang sudah tidak layak konsumsi. Mereka juga sudah tidak merasa aneh untuk menyodorkan moncongnya mengais rejeki di dalam tong-tong bau.

rusa timur

Maka jangan heran jika melihat isi lambung si Rusa yang penuh dengan sampah kemasan dan menjadi penyebab kematian akibat sembelit menahun.

Berdasarkan hasil penelitian yang sudah-sudah, jumlah populasi Rusa di Pangandaran berkisar lebih dari 100 ekor. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian yang baru saja saya dan teman saya lakukan di sana, ternyata hasil penghitungan menunjukkan jumlah populasi berkisar 60 ekor saja.

Lalu kemana sisanya?

Ini patut dicari tahu. Karena menurut petugas di sana, laporan kematian rusa tidak pernah mencapai angka puluhan. Dan lagi, hutan Pangandaran tidak dihuni predator besar yang doyan memangsa rusa. Jadi, kemanakah mereka?

Desa di atas Awan

15 September 2010

desa bunut ciawi

Foto di atas bukan rekayasa sotosop. Ini asli jepretan kamera di pagi hari setelah ceramah subuh di Masjid Desa Bunut Kecamatan Ciawi Tasikmalaya. Sebelah kiri foto adalah mentari yang hendak menyembul di balik gunung. Saya tegaskan, yang menyembul itu mentari, bukan gunung yang menyembul di balik… (hehehe).

Bagaimana saya bisa berada di sana?

Jadi ceritanya dimulai ketika salah seorang teman saya sekaligus mantan (eheum) namun kini statusnya sudah jadi suami orang (hiks) memohon bantuannya untuk ditemani pengambilan data tesisnya. Berhubung ia dan suaminya sekarang pisah ranjang, padahal usia pernikahannya baru dua bulan jalan. Yang satu jalan di Bandung, satunya lagi jalan di Prancis. Maka dengan penuh kesempatan saya membantunya seala kadarnya cinta yang tersisa (bah).

Penelitian yang tidak tahu waktu. Saat orang-orang tengah mempersiapkan dirinya untuk mudik lebaran, eh saya malah ikutan sibuk menambah ramai lalu lintas jalur Selatan. Demi mantan kekasih, tak apalah. Mumpung suaminya lagi ga ada juga. Biar bekas yang penting goyangannya, DAHSYAT!!! hehehe.

Hal yang harus saya lakukan selain menemani hatinya yang saat ini setengah hampa bisa dibilang cukup mudah. Saya hanya harus mewawancarai beberapa orang penduduk Desa Bunut terkait program yang tujuh tahun lalu pernah dilaksanakan di desa tersebut. Bayangkan lah, mewawancarai aki-aki (kakek-kakek) berusia 70-an untuk mengingat kembali hal yang sudah tujuh tahun berlalu.

Penelitian yang amat sungguh kejam neng! Memaksa aki-aki yang sudah cukup sulit berdiri di pagi hari untuk berpikir keras tentang hal yang sudah lama berlalu. Terang saja klo jawaban si aki adalah heum, ga tau, duh, eh, oh dan lenguhan lainnya tanda kebingungan. Jangan paksakan dirimu Ki. Anda bukan Einstein.

Puji syukur, wawancaranya bisa berjalan dengan lancar. Data bisa terkumpul meski tidak banyak yang benar (entahlah).

Sungguh saya terkesima dengan pemandangan yang disajikan oleh desa Bunut. Hampir sepanjang hari saya bisa melihat awan yang menyelimuti gunung di arah barat desa. Gunung yang tingginya tidak memaksa saya mendongakkan leher, malah ada gunung yang bentuknya segitiga lancip, persis gambarannya anak teka. Dan sepanjang malam, kerlip lampu menghiasi lembah perkotaan. Sayang kerlip bintang tidak ikutan hadir, maklum musim berawan, tapi cukup terhibur sama parade kembang api oleh anak-anak desa.

Semoga saja lain kesempatan saya masih bisa ke sana lagi, dan berkesempatan pula bertemu dengan neng Emilia. Gadis manis mahasiswa kebidanan yang dulu pernah KKN di desa Bunut.

“Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi.

Jikalau ada umur panjang, bolehlah kita mandi bareng.”

bambu desa bunut

Ah judulnya emang ga nyambung.

Yang jelas mah, judul di atas adalah sebait lirik yang sering saya dengar selama berpetualang mengambil data bersama kawan-kawan penikmat Alam Ciwidey.

Entah berapa puluh kali lagu tersebut didendangkan. Baik sebelum berangkat, sedang berada di puncak gunung, ataupun sekembali dari perantauan. Bosan, tentu saja tidak. Makin lama saya dengarkan akhirnya saya paham betul bahwa lagu tersebut sebenarnya menyindir, atau lebih tepatnya sebuah kekhawatiran akan mereka yang bangga menamakan dirinya pendaki gunung.

Sebuah kekhawatiran bahwa ketika seorang pendaki datang ke gunung. Ia tidak hanya membawa kebanggaan diri. Tapi juga tanda mata berupa coretan-coretan luka bekas belati yang dibenamkan dan digoreskan pada pohon-pohon. Uh… damn.

Kebanggaan yang tidak patut dibanggakan.

Gaya-gaya pendakian semacam itu harus mulai ditinggalkan. Sudah nggak jaman. Lagipula, masa ngaku-ngaku anak PA (pecinta alam atau pencinta alam, mana yang bener hayo?) yang jelas-jelas ada unsur “cinta” malah dengan seenaknya merusak.

Maka oleh karena itu, marilah kita berubah menjadi pendaki yang lebih peduli lagi pada alamnya dengan tidak meninggalkan jejak selain tapak kaki saja.

NB: berjuta terima kasih saya sampaikan kepada

Sigit mantan pacarku yang kini sama-sama sudah normal.

Uus yang seyogyanya semoga disediakan sepetak tanah di surga karena GPS-nya.

Indra dengan kekalemannya bisa membuka wacana dengan pertanyaan-pertanyaan yang berbobot dan berguna untuk membuka pikiran bersama.

Buat kalian bertiga, salut karena alam telah berbagi ilmu pengetahuan dengan kalian.

cerita bermula ketika perjalanan turun gunung tersendat di sebuah kota wisata.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.