welcome aboard Captain Jack
15 Mei 2012
Tersingkir sudah Eros dari grup. Para pejantan grup tidak menghendaki keberadaan Eros di dalam grup.
Eros yang tengah cedera meradang harus meninggalkan grup. Jika tidak ia akan mengalami cedera yang jauh lebih parah akibat dikeroyok oleh jantan-jantan grup yang sudah mengkudetanya dari kemarin.
Tampuk kepemimpinan grup untuk sementara diambil alih oleh Fatman. Fatman yang sebelumnya merupakan jantan beta secara langsung naik peringkat ke posisi alfa. Tapi Fatman sudah terlalu tua untuk menjadi jantan alfa di dalam grup. Sudah enam tahun lebih Fatman menjadi bagian dari grupnya saat ini.
Fatman merupakan salah satu dari dua pejantan yang setia berada di dalam grupnya tanpa pernah berpindah ke grup lain. Hampir semua pejantan dewasa yang ada di grup Fatman merupakan pejantan-pejantan yang telah melakukan migrasi ke grup lain. Ada yang berhasil, ada yang kembali lagi, ada pula yang tidak jelas keberadaannya.
Ketidakstabilan sistem hierarki di dalam grup ternyata dimanfaatkan pula oleh pejantan asing. Salah satunya adalah Jack.
Jack. Captain Jack. Jack si mata satu. Jack yang berasal dari grup Rambo I. Jack yang sempat sial karena terjebak perangkap babi. Cerita tentang Jack bisa dibaca di sini.
Sungguh beruntung bagi Jack. Kehadirannya di tengah grup telah mencuri perhatian. Tanpa perlu bersusah payah Jack memposisikan dirinya sebagai jantan alfa baru di grup.
Fatman sebagai jantan alfa sementara seakan tidak memberikan perlawanan kepada Jack. Ia membiarkan begitu saja posisi tertinggi diambil oleh Jack. Sepertinya Fatman tidak keberatan menjadi jantan beta selama akses terhadap betina masih bisa dia nikmati. Atau mungkin dia terlalu bijaksana untuk memberikan posisi tertinggi pada pejantan muda.
Siapa sangka jika Jack bisa mendapatkan posisi tertinggi. Padahal di grup sebelumnya, Jack hanya menempati posisi tengah dalam hierarki.
Walau begitu, puncak kekuasaan Jack saat ini masih belum bisa dikatakan pasti. Kemungkinan-kemungkinan pengkudetaan bisa saja terjadi di kemudian hari. Dan semua itu tergantung dari Jack sendiri untuk mempertahankannya.
Jadi, sampai sejauh mana Captain Jack bisa mempertahankan posisi alfanya?
Kudeta
12 Mei 2012
Sudah dua hari berlalu sejak cedera yang dialami Eros. Dan kini, Eros tak lagi istimewa di grupnya.
Dia bukan lagi jantan alfa, jantan yang memiliki kuasa tertinggi dalam akses seekor penjantan. Padahal baru satu bulan Eros menikmati puncak hierarki. Pastinya belum banyak akses yang bisa dinikmati selama rentang tersebut.
Jantan-jantan dewasa yang posisinya berada di bawah Eros mulai bertindak mengambil alih. Jantan beta secara langsung menjadi alfa berikutnya, jantan gamma menempati posisi beta, sedangkan jantan yang sebelumnya menempati urutan paling bawah bertukar posisi dengan Eros yang kini menempati kasta terendah dalam grup.
Sistem hierarki baru ini belum sepenuhnya stabil. Peralihan tampuk kepemimpinan jantan alfa membuka peluang bagi jantan-jantan lain untuk meningkatkan posisinya lebih tinggi dari sebelumnya.
Meskipun posisi alfa kini digantikan oleh jantan beta sebelumnya, belum bisa dijadikan jaminan bahwa si jantan alfa yang baru bisa mempertahankannya. Malah bisa saja terjadi pengkudetaan dari jantan lain yang berhasrat untuk menjadi alfa.
Bukan hanya itu saja, ketidakstabilan sistem hierarki juga memberikan peluang kepada jantan-jantan asing di luar dari grup untuk masuk menjadi anggota grup dan bisa jadi mengincar posisi alfa. Dengan kondisi seperti ini, pintu persaingan untuk menjadi no 1 terbuka lebar bagi siapa saja.
Kalau sudah begini, maka hukum seleksi alam berlaku bagi setiap monyet,
“Yang kuat, bertahan. Yang lemah, tersingkir”
Hukum Rimba
10 Mei 2012
Tertatih-tatih Eros berjalan. Lengan kanannya menopang berat tubuhnya setiap kali ia melangkahkan kaki. Lengan kirinya terangkat, tanpa sedikitpun ia jejakkan ke permukaan tanah. Pergelangan tangannya ditekuk, seakan tak berdaya untuk menggerakannya.
Sesekali Eros berhenti sejenak. Terduduk. Dipandanginya pergelangan tangan kirinya, lalu dijilat. Luka sobek menganga panjang dan dalam menyentuh sebagian dari tulang pergelangannya dan mungkin merobek otot nadi.
###
Tiga puluh menit sebelumnya, sebuah pertarungan tak terhindarkan antara Eros dan pejantan tidak dikenal di atas sebuah pohon. Pertarungan sengit yang mengetarkan ranting dan cabang disertai dengan raungan-raungan keras.
Tidak lama kemudian, kedua petarung tersebut melayang selama 7 meter. Terjatuh menghujam tanah dan batu karang pantai.
Pertarungan belum usai. Keduanya masih bergulat, berguling-guling. Mencari kesempatan, menerkam satu sama lain dengan gigi taringnya yang tajam.
Pejantan tak dikenal lari, meringis seperti menangis ketakutan. Eros memenangkan pertarungan. Mengusir si pejantan tak dikenal jauh-jauh dari wilayahnya. Namun pertarungan Eros tidak selesai begitu saja.
Pertarungan tadi telah mencederainya. Eros bisa dikatakan sebagai pemenang, tapi sesungguhnya dia merugi. Cedera pada pergelangan Eros adalah sebuah kerugian besar. Mematikan satu sendi lengannya.
Eros sebagai jantan alfa tak lagi bisa menunjukkan kekuatannya. Ia kini tak ubahnya seperti jantan lemah. Setiap saat ia bisa saja dikudeta oleh pejantan lain. Bahkan oleh jantan yang hierarkinya paling rendah sekalipun.
Tampuk kepemimpinan dan kekuasaan Eros berakhir saat itu juga. Hanya soal waktu hingga pejantan lain menyadarinya.
H.omo.seks.ual
10 Mei 2012
Selepas seharian mengejar monyet-monyet Yaki, saya bertemu kembali dengan sepasang peneliti dari kehutanan. Suami istri. Saya pernah berkenalan dengan mereka berbulan-bulan yang lalu, tapi sudah lupa siapa namanya. Kita sebut saja Bunga dan Kumbang (bukan nama sebenarnya).
Melepas penat seharian, saya duduk-duduk di kursi meja makan. Bunga dan Kumbang duduk di meja yang sama, tengah sibuk dengan laptopnya yang entah sedang mengetik apaan. Mungkin laporan.
Tetiba, Bunga memulai pembicaraan setelah sebelumnya kami berucap halo-hai.
“Apakah di sini ada monyet yang Homo”? tanya Bunga.
“Gay, maksudnya”? tanya saya balik untuk memperjelas maksud dari pertanyaannya.
“Iya”.
Menunggang. Penggunaan foto atas izin pemilik.
***
Monyet gay a.k.a homoseksual. Saya jadi teringat beribu-ribu hari yang lalu ketika saya masih duduk di bangku kuliah mengambil kelas Primatologi. Teringat dosen saya waktu itu bercerita mengenai kemungkinan terjadinya monyet yang gay.
Cerita beliau dulu adalah tentang bagaimana para jantan pecundang yang frustasi karena tidak bisa mendapatkan akses terhadap betina (akses reproduksi) berkumpul menjadi kelompok jantan semuanya. Karena tidak bisa memenuhi hasrat alamiahnya, akhirnya monyet-monyet tersebut saling mengisi kekosongan.
Jantan pecundang adalah jantan yang dikeluarkan dari grupnya atau jantan yang kalah dari pertarungan melawan jantan alfa (bos grup). Biasanya jantan pecundang akan hidup soliter. Atau kadang bersekongkol dengan pecundang lainnya dan berkelana bersama. Kesannya jadi kayak gay sejati sehati.
Karena dulu saya masih polos-polosnya, saya mempercayai hal tersebut dan bisa jadi sebuah kemungkinan dalam alam. Namun setelah saya mempelajari tingkah laku monyet Yaki (Macaca nigra) beberapa bulan ini, saya meragukan kemungkinan tersebut.
Dalam perspektif yang lain, istilah gay/homo pada monyet merujuk pada perilaku jantan dengan jantan yang berhubungan dengan organ seksualnya. Secara visual, hal tersebut yang paling mudah dianalogikan.
Nah seandainya secara umum orang melihat monyet jantan dengan monyet jantan saling memegang kelamin satu sama lain (penis), dengan bibir mengap-mengap menghadap ke atas. Apakah mereka gay?
Atau jantan menunggangi jantan lainnya dari belakang lalu menggesek-gesek kelaminnya. Bahkan terkadang yang ditunggangi meremas-remas alat kelamin si jantan yang menunggangi. Apakah mereka gay?
Secara umum, mungkin saya akan mengatakan ‘mereka gay’.
Faktanya, itu bukanlah perilaku homo. Perilaku meremas kelamin atau menunggangi adalah sebuah perilaku pertemanan antar Yaki yang mana bisa juga disebut sebagai perilaku saling menghormati. Umpamanya, seperti manusia yang saling bersalaman ketika bertemu kawannya.
Memegang kelamin antar jantan. Penggunaan foto atas izin pemilik.
Kembali pada pertanyaan si Bunga, apakah ada monyet gay?
Saya tidak bisa memastikan. Mungkin ia, mungkin juga tidak. Secara pribadi saya belum pernah melihat monyet homo. Namun jika saya memandang perilaku homo secara umum, maka monyet-monyet yang saya kejar setiap hari hampir semuanya adalah gay :p
Akses Pejantan
7 Mei 2012
Perebutan puncak kekuasaan pada sistem sosial Yaki mengingatkan saya pada film-film kolosal yang dulu suka diputar di Indosiar tentang kisah-kisah kerajaan jaman baheula dimana sang Raja sekuat tenaga mempertahankan tahtanya dengan kekuatan yang dimilikinya dari pesaingnya.
Pesaing perebut kekuasaan ternyata bukan saja jagoan dari negeri antah berantah, tapi bisa juga berasal dari lingkungan kerajaan itu sendiri. Bahkan bisa jadi kerabat terdekatnya yang tanpa disangka malah menusuk dari belakang.
Perebutan kekuasaan merupakan sebuah pemandangan umum yang sering dijumpai dalam sistem sosial Yaki. Yaki dewasa memiliki sistem hierarki yang menunjukkan peringkat dalam kelompok. Dari yang tertinggi, hingga yang terendah. Sistem peringkat ini tidak selalu stabil, karena dalam prakteknya, tentu saja ada Yaki yang ingin naik peringkat (mengambil kekuasaan).
Tilman-Alfa |
Rawing-Beta |
Caplang-Gamma |
Kampret-Middle Rank |
Wartabone-Low Rank |
Hierarki Jantan Dewasa pada Rambo II (foto ©Ismail Agung)
Menjadi seekor Raja di kelompok Yaki adalah sebuah posisi yang sangat diidamkan oleh setiap jantan dewasa. Akan tetapi tidak mudah untuk mendapatkan posisi tersebut. Terlebih lagi mempertahankannya. Dan tentu saja resikonya pun sangat besar. Bisa-bisa nyawa melayang.
Untuk menjadi pemimpin Yaki dibutuhkan fisik yang kuat dan nyali yang besar. Fisik kuat untuk bertarung, nyali besar untuk menakuti para pesaingnya.
Lalu kenapa Yaki harus bersusah payah untuk mendapatkan posisi puncak?
Jawaban sederhananya adalah akses.
Dosen saya dulu pernah bilang, satwa liar membutuhkan tiga aspek penting dalam hidupnya.
- Sumber Makanan
- Reproduksi
- Habitat/tempat tinggal
Jadi, ketika monyet Yaki mendapatkan posisi tertinggi dalam sistem sosialnya maka akan mempermudah dirinya untuk mendapatkan akses dari ketiga aspek di atas.
Baik jantan maupun betina dewasa sama-sama membutuhkan ketiga aspek tersebut namun pada jantan, aspek reproduksi sangat menonjol sekali. Khususnya jantan alfa.
Pada saat betina memasuki masa birahi (estrus), jantan alfa memiliki akses penuh untuk melakukan perkawinan (mating). Oleh karena itu, jantan alfa akan melakukan penjagaan ketat kepada si betina agar jantan lainnya tidak memiliki kesempatan untuk kawin. Bila ada jantan lain yang coba-coba, jantan alfa tidak segan untuk mengancam dan menyerang.
Lain halnya dengan betina, sistem hierarki antar betina justru ditunjukkan pada sumber makanan. Betina alfa mendapatkan sumber makanan yang banyak dibandingkan dengan betina-betina di peringkat bawah. Sumber makanan berpengaruh kepada asupan gizi dan kebutuhan reproduksi serta bayinya. Tujuannya, tidak lain agar si anak kelak menjadi monyet yang kuat dan meneruskan silsilah peringkat.
Belajar dari sistem sosial Yaki bagi saya seakan sebuah refleksi yang nyata yang memang terjadi juga dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, ada beberapa kemiripan, yaitu
“male thinks about sex, female thinks about resources”
Tidak sepenuhnya bener sih, tapi setidaknya :p
Kabar dari Sancang
4 Mei 2012
Beberapa minggu yang lalu saya mendapat kabar dari kawan-kawan di Sancang (Garut Selatan) tentang Owa yang dulu pernah kami ikuti untuk diteliti. Kabar baik tersebut datang dari grup B yang terdiri dari Tono dan Tini.
Setelah satu tahun berlalu, Tini akhirnya memiliki anak lagi. Seekor bayi owa yang sedang masa lucu-lucunya. Kawan-kawan di Sancang memberinya nama “Awing”, yang punya arti ngagawing alias menempel di perut induknya. Seperti foto di bawah ini.
Kelahiran Awing untuk Tini memang bukanlah yang pertama. Berdasarkan catatan pengamatan yang sudah-sudah, diperkirakan bahwa bayi yang sekarang adalah anak kedua yang Tini lahirkan selama rentang masa hidupnya.
Lalu bagaimana dengan anak pertama Tini?
Dulu (sebelum November 2010), Tini dan Tono pernah memiliki anak. Kami memberinya nama Udin. Sayangnya, sebelum Udin menginjak masa remaja, dia tiba-tiba raib entah kemana. Berbagai spekulasi pun muncul mengenai hilangnya Udin. Dari semua spekulasi itu, kami menyimpulkan bahwa Udin hilang dimangsa oleh predator.
Klik di sini untuk membaca kisah Udin.
Berita Awing seakan menjadi penutup luka tentang Udin. Namun, lebih dari sekedar cerita Udin, kehadiran Awing justru memberi harapan baru bagi kami. Harapan akan kelestarian Owa Jawa yang ada di Sancang.
Harapan bahwa Awing bisa meneruskan generasi Owa Jawa Sancang hingga berpuluh-puluh tahun ke depan. Semoga.
-untuk Awing dan Udin-
Terima kasih kepada Muhammad Taufik atas fotonya
Mencintai Yaki Sejak Dini
26 April 2012
Di suatu pagi yang cerah, saya berkesempatan untuk berbagi cerita dan pengalaman seputar Yaki atau Macaca nigra kepada adik-adik yang masih di bangku sekolah dasar.
Kegiatan kunjungan sekolah ini merupakan bagian dari program edukasi yang diinisiasi oleh Mathilde Chanvin dalam proyek Tangkoko Conservation Education. Ada beberapa SD dan SMP di sekitar hutan Tangkoko yang dilibatkan dalam kegiatan ini. Program pendidikan konservasi ini ada yang berupa materi di dalam kelas, kunjungan ke pusat rehabilitasi satwa, hingga berjumpa langsung dengan satwa dan habitat alaminya.
Adik-adik yang notabene adalah masyarakat sekitar hutan Tangkoko tentunya tidak merasa asing untuk mengenali satwa-satwa hutan. Namun pengetahuan mereka masih terbatas pada pemahaman bahwa satwa yang mereka jumpai biasanya diburu dan dijadikan santapan.
Melalui program edukasi konservasi, adik-adik ini diajak untuk mengenal lebih dekat terutama Yaki. Mereka belajar, apa itu Yaki, seperti apa kebiasaan Yaki, bagaimana Yaki hidup, dimana Yaki tinggal, dan kenapa Yaki itu penting.
Mengingat akan pentingnya satwa dalam hutan Tangkoko, maka tentu saja bahwa pemahaman tentang berburu harus diubah dengan pemahaman mencintai, dan menjaga harta karun mereka yang sangat bernilai. Selain itu pula, pemahamam baru mereka bisa ditularkan langsung kepada orangtua atau masyarakat sekitarnya yang masih menjadikan berburu sebagai aktivitasnya.
Bagaimana dengan kamu? Apakah ada satwa liar di sekitar tempat tinggalmu?
Reptil to Reptil
11 April 2012
Jack
6 April 2012
Namanya Jack. Salah satu jantan dewasa di Rambo I. Sangat mudah untuk mengenali Jack. Bahkan untuk orang yang baru belajar mengenal Yaki.
Jack memiliki mata kiri yang buta. Itulah yang membedakannya dengan jantan Yaki lainnya. Selain itu, Jack sedikit takut terhadap kehadiran manusia. Dia selalu menghindar bilamana ada manusia yang mencoba mendekatinya. Termasuk peneliti yang hampir setiap hari selalu ditemuinya.
Bulan februari kemarin sepertinya menjadi bulan yang sial bagi Jack. Tanpa sengaja, Jack masuk dalam perangkap liar yang dipasang pemburu. Sebenarnya perangkap tersebut ditujukan untuk babi hutan. Tapi Yaki mana tahu jika itu adalah perangkap khusus babi.
Lagipula, memasang perangkap/jerat baik untuk babi, burung atau hewan lainnya tidak diperkenankan selama berada di dalam areal Cagar Alam. Namun ulah nakal ini tidak ada habisnya. Selalu saja ada perangkap-perangkap yang dipasang pada daerah jelajah Yaki yang juga daerah jelajah babi liar.
Jack bisa melepaskan diri dengan memutuskan tali perangkap yang terpasang. Namun simpul ikatan tali yang tersisa masih terikat erat di pergelangan kaki kanannya. Sambil berjalan tertatih-tatih Jack mengikuti anggota kelompoknya.
Beruntung, asisten lapangan melihat kondisi Jack lalu melaporkan kejadian tersebut kepada manajer riset Giyarto. Dan diputuskan untuk menyelamatkan Jack saat itu juga.
Upaya penyelamatan dilakukan dengan cara membiusnya. Cara ini lebih aman ketimbang mencoba melepaskan ikatan secara langsung yang tentu saja beresiko karena Jack bukanlah monyet kecil. Kekhawatiran sempat terjadi saat setelah jarum bius dilesakkan. Jack yang kaget karena ada sesuatu yang aneh ditubuhnya kemudian menghindar naik ke pohon. Jika reaksi obat mulai bekerja dapat dipastikan Jack yang hilang kesadaran akan terjun bebas.
Benar saja, sambil terhuyung-huyung di atas dahan, Jack melepaskan genggamannya dan terjatuh. Untungnya tim sudah bersiap siaga dengan kemungkinan tersebut dan merentangkan ponco tepat di bawahnya.
Serentak setelah Jack terjatuh, seluruh monyet Rambo I menjerit. Mereka berlari menghampiri dan mengerumuni kami serta Jack yang ditutupi ponco. Monyet-monyet menyeringai menunjukkan gigi-giginya, mengancam. Seakan mengatakan bahwa mereka tidak senang dengan apa yang kami lakukan.
Lima menit kemudian situasi mereda. Monyet-monyet yang mengerumuni kami mulai membubarkan diri dan pergi meninggalkan.
Begitu situasi tenang, tali yang terikat di pergelangan kaki Jack segera kami lepaskan. Luka-luka lecet akibat ikatan tali pun kami obati.
Jack yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri kami tinggalkan. Dari jarak 10 meter kami mengamati Jack. Lima belas menit kemudian, secara perlahan Jack mulai siuman. Ia mencoba bangun dengan kondisi badan yang masih lemas, namun gagal. Dia terkulai jatuh.
Masih butuh waktu beberapa menit lagi hingga akhirnya dia benar-benar pulih. Dalam kondisi seperti itu, kami memutuskan untuk pergi dan membiarkan satu orang dari kami untuk tetap tinggal menemani Jack sampai ia bisa kembali berjalan dan bergabung dengan anggota grupnya.
Keesokan harinya, saya melihat Jack. Dia masih berjalan tertatih-tatih mengikuti anggota grup dengan rasa takut yang sama seperti sebelumnya. Takut terhadap manusia. Setidaknya kondisi Jack sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Di Bawah Daun Woka
6 April 2012
Beginilah suasana mengamati Yaki di saat hujan di hutan Tangkoko.
Dengan ukurannya yang lebar membulat besar menyerupai payung. Daun Woka sangat pas untuk digunakan sebagai tempat berteduh yang aman dari percikan air hujan.
Meski begitu, daun Woka yang berada di kawasan CA Tangkoko-Dua Saudara tidak diperkenankan untuk ditebas/dipotong. Namun ada saja ulah nakal yang memotong daun Woka untuk peneduh hujan atau alas duduk (biasanya sebagai bentuk keramahan untuk para turis).
Secara lokal, daun Woka banyak digunakan oleh masyarakat Minahasa sebagai pembungkus alami penganan khas daerah. Seperti kue-kue atau Ikan Bakar Rica. Ikan bakarnya super pedas. Pedas banget.
Lalu apa yang dilakukan Yaki pada saat hujan turun?
Mereka berteduh, sama seperti pengamatnya. Seperti gambar di bawah ini. Berkumpul dan saling berpelukan satu sama lain.
Bagaimana dengan kamu, apa yang kamu lakukan saat hujan?








