Ngabuburit Sepanjang Rel
27 Agustus 2010
Ceritanya sih mau buka bareng di rumahnya teman. Tapi berhubung saya orangnya sok tahu dalam mencari jalan pintas terdekat menuju rumahnya, eh malah nyasar dan dengan penuh keterpaksaan harus menyusuri rel kereta.
Untung saja saya dan si Yelli (sepeda) tidak kesamber kereta yang datang tiba-tiba dari belakang. Terima kasih kepada bapak penjaga lintasan di Parakan Saat yang senantiasa berteriak-teriak mengingatkan.
Menyusuri rel kereta sambil ngabuburit, mantaps!!
10 Tips Bersepeda Saat Berpuasa
27 Agustus 2010
Puasa seharusnya tidak menjadi halangan bagi kita untuk melakukan sederet aktifitas dan rutinitas yang biasa dijalankan. Jangan hanya karena puasa kita menjadi individu yang malas-malasan. Maka oleh karena itu, bersepeda di bulan puasa bukanlah hal yang mustahil apalagi mus mujiono untuk dilaksanakan. Asal dilakukan dengan tepat, bersepeda tidak akan menyebabkan puasa batal.
Nah jika memang mau bersepeda saat berpuasa, alangkah baiknya ikuti tips-tips berikut ini.
- Rencanakan perjalanan. Tentukan akan bersepeda kemana. Bersepeda tanpa tujuan hanya akan membuat lelah perjalanan. Lebih baik jika lokasi yang hendak dituju jaraknya tidak lebih dari 20 km, misal dari kota Bandung ke Jatinangor. Ini mah cari penyakit.
- Hindari rute yang memiliki sejarah macet yang sangat kelam. Jalan macet dapat meningkatkan emosi yang berpotensi mengurangi pahala. Hindari juga “jam-jam macet” seperti jam pulang sekolah ataupun jam pulang kantor.
- Pilih waktu yang tepat. Setelah sahur atau menjelang bedug adalah waktu yang tepat untuk bersepeda. Bersepeda di kala mentari tegak berdiri akan menghabiskan banyak stamina yang harus diganti dengan seteguk air segar. Otomatis batal, kecuali pura-pura lupa.
- Ambil jalur hijau. Selain lebih segar tentunya pepohonan pinggir jalan akan senantiasa meneduhkan hati kala disinari oleh mentari. Jangan lupa juga topi dan helmnya, sinar UV A dan UV B cukup berbahaya terhadap kulit.
- Bersama teman tentu lebih seru. Ajak teman-teman yang lain untuk ikut meramaikan kegiatan bersepeda. Atau agendakan sebuah acara bertajuk “Buka Bareng Sepeda”, “Ngabuburit Sambil Sepedahan”, “Sepeda Sahur”, “Baksos featuring Sepeda” dan lain-lain. Lebih banyak teman, lebih banyak cerita dan lebih menyenangkan.
- Cek kondisi sepeda. Jangan sampai sepeda kempes atau rantai putus di tengah jalan dan terpaksa harus di dorong sampai rumah. Sediakan pula uang darurat sebagai antisipasi perjalanan.
- Sahur yang baik dan benar. Lupa sahur, lebih baik urungkan niat anda untuk bersepeda. Bahaya jika anda pingsan di tengah jalan dan sedang macet-macetnya. Sahur yang baik bisa ditanyakan kepada dr. Hembing. Yang pasti 4 sehat 5 kemahalan.
- Banyak bersabar. Sepeda menempati urutan pertama kendaraan yang sering disalip oleh kendaraan lain. Maka oleh karena itu banyak-banyaklah memanjatkan doa bagi yang menyalip (doa yang baik). Semakin banyak kesabaran, semakin banyak pahala yang didapat.
- Istirahat bila merasa lelah. Jangan paksakan fisik anda untuk mengenjot sepeda. Ambil napas yang banyak untuk mengisi kembali oksigen pada darah yang berkurang karena digunakan pada saat proses pembakaran energi. Disarankan untuk tidak beristirahat di belakang angkot apalagi bus Damri.
- Ini adalah tips ke sepuluh. Silakan anda isi sesuka dan semau anda jika masih banyak yang harus dilengkapi. Kirim tips ini pada ke sepuluh teman anda. Bagi yang mengirimkan pesan ini anda akan merasakan manfaatnya, bagi yang tidak anda juga akan merasakan manfaatnya.
Sekian 10 tips dari saya yang ada benarnya dan ada salahnya. Dicoba boleh, dibaca saja juga boleh. Pesan terakhir adalah, jangan lupa tips no 10.
Helmi Yayaya
4 Juli 2010
Yihaa, perkenalkan barang baru saya. Namanya Helmi Yayaya. Barang baru yang saya beli di Roemah Korting (Garage Sale) kemarin (3 Juli, red). Dapat bekas dari Kandi dengan harga dikorting 60% harga aslinya. Hahahay..
Dengan helm ini, setidaknya melengkapi aktivitas saya bersama si “Yelli” yang agak jarang diraba. Let’s Go Bike yehaaa!!!
NB: Buat Wahyu yang baca nih postingan, saya ikhlaskan helm kuning saya!! Sebagai kompensasinya anda saya denda karena sudah menunggak selama 3 bulan lebih.
Sepeda Kurir
29 Mei 2010
Rabu minggu depan (2 juni 2010) saya akan seminar satu skripsi saya. Mohon doa restunya. Dan semoga dilancarkan.
Kemarin saya dapat kesempatan lagi untuk menjajal jalanan bersama sepeda kuning saya “Yelli”. Bisa dibilang dah lama banget ga mengenjot jarak jauh. Selama ini paling hanya dari gedung kampus sampai jalan raya. Itu juga paling seminggu cuma dua kali.
Dikarenakan harus segera mengirimkan draft proposal kepada dosen lima hari sebelum waktu seminar dan teman-teman pada sibuk dengan urusannya masing-masing serta tidak bisa memaksakan mereka untuk mengantar saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengendarai si Yelli saja.
Nyasar. Tentu saja. Untungnya saya nyasar ga sampai tiba-tiba ada di Surabaya.
Pengalaman baru yang berbeda dalam bersepeda. Layaknya Mr. Postman. Mengirimkan surat dan paket kepada seseorang. Dari jalan mulus, jalan berdebu, jalan berkerikil, jalan macet, jalan berasap, jalan menurun, jalan menanjak, dan jalan tersesat semua dihadapi dengan gagah berani.
Tapi ada ga enaknya juga. Yaitu peluh keringat yang bercucuran. Masak bertamu ke rumah dosen kok bau keringat. Dan lagi celananya dilipat selutut. Ga sopan banget lah.
Klo dosennya apresiatif sih dia justru terkesan. Dan lagi dia jadi tertarik untuk mencoba bersepeda. Malah dia punya ide baru yaitu bersepeda sambil pengamatan burung. Seru juga tuh. Patut dicoba.
Terima kasih untuk hari yang telah mengiringi pengiriman surat kali ini dengan cuaca cerah.
Kalau Silau, Pintunya Tutup Aja
28 Mei 2010
19 hari menuju Earth Day.
Hari ini, dengan penuh semangat mencari Batagor saya mencoba keluar dari kamar dan bersepeda mencari tukang batagor keliling. Saya maunya tukang batagor yang pake gerobak, bukan batagor riri yang mahalnya yaaaa ampuuuun.
Setelah berpusing-pusing mencari gerobak, nggak nemu sama sekali tuh yang namanya tukang batagor bergerobak.
Hingga malam menjelang.
Di tengah malam minggu aku sendiri ditemani si Yelli pulang menuju peraduan, saya bertemu dengan sekelompok pengendara sepeda. Bukan pengendara sepeda biasa. Dengan instrumen lampu yang berkelap-kelip, mereka berkayuh beriringan. Karena penasaran, saya lalu menghampiri mereka.
Ternyata, mereka adalah rombongan keluarga bersepeda. Beberapa orang dewasa dan beberapa anak-anak kecil dengan menggunakan sepeda yang berukuran kecil pula. Kurang lebih jumlahnya ada berdelapan.
Semakin penasaran, saya lalu menghampiri salah satu di antara mereka dan bertanya,
“Hendak kemana?”
Jawabannya,
“Mau malam mingguan sambil makan-makan bareng keluarga di Cikapundung.”
Pertanyaan saya memang tidak banyak untuk mencari lebih tahu tentang apa yang hendak mereka lakukan malam itu. Tapi dari jawaban yang di atas, saya menemukan sebuah kehangatan keluarga yang jauh berbeda dalam menikmati sebuah suasana malam minggu.
Malam minggu, dimana kita lebih terbiasa menghabiskan waktu dalam kegiatan hura-hura. Mengepulkan asap dijalanan. Mencari yang namanya kesenangan.
Mungkin tidak semua keluarga menghabiskan malam minggu seperti apa yang keluarga di atas lakukan. Tapi kenapa tidak jika suatu saat nanti kita (anda yang membaca dan termasuk saya yang menulis) bisa meluangkan sebuah cerita di malam minggu dengan bersepeda bersama keluarga. Sekedar menghangatkan jok sepeda dan keharmonisan keluarga dengan cara yang sederhana.
Saya yakin, ada nilai-nilai keluarga yang muncul pada saat bersepeda keluarga. Kebersamaan, saling menjaga, mengawasi satu sama lain, mengarahkan, dan saling menyemangati.
Selamat bersepeda dan selamat bermalam minggu.
analogi BERSEPEDA dalam HIDUP
30 Maret 2010
Analogi ini saya dapat sewaktu acara Beswan kemarin di Saung Udjo. Salah seorang motivator yang punya nama Kang Ahmad Taufik menjelaskan pada kami-kami yang hadir di sana bahwa hidup itu seperti bersepeda.
Ada lima unsur yang melandasi kita semua untuk hidup menjalani segala sesuatu yang kita hadapi. Kelima unsur tersebut adalah,
|
See |lihat dan perhatikan| Lihat, perhatikan, bacalah. Karena pengertian adalah peta perjalanan yang baik. |
Switch |berubah dan berganti| Kemampuan menyesuaikan diri adalah kemampuan untuk tetap berdiri di atas. |
|
|
Turn |belok| Apapun kecepatan anda, anda akan gagal saat anda menolak untuk belok di tempat seharusnya anda belok. |
||
|
Gas |pacu| Yang akan jadi “pemenang” adalah dia yang tercepat di antara mereka yang “terhambat”. |
Brake |rem| Bagi pemenang. Rem bukanlah alat untuk menghentikan tapi ia adalah alat untuk mengatur kecepatan. |

Itulah kelima unsur bersepeda yang dapat dianalogikan dalam hidup untuk menjadi seorang pemenang.
Sebenarnya analogi ini bisa juga dipakai dengan menggunakan kendaraan lain selain sepeda, misal mobil atau motor. Tapi justru dengan bersepeda atau becak atau kendaraan lainnya yang sejenis, analogi ini justru lebih tepat bila menggunakan sepeda. Hal itu karena ada nilai usaha yang sangat berharga pada setiap kayuhan pedal untuk menjalankannya.
Punya analogi lain dalam bersepeda, mangga silakan saja berpendapat. Namanya juga analogi.
Salam Sepeda
SEPEDA SUBUH, menikmati bandung dalam hening pagi
21 Maret 2010
![]() |
![]() |
Bersepeda memang tidak mengenal waktu.
Nggak harus pagi, siang, sore atau malam. Subuh-subuh juga bisa kok.
Bersepeda subuh nggak salah loh?
Lah apa salahnya. Dingin iya, sepi iya, nikmat juga iya.
Kapan lagi coba bisa bersepeda sambil menguasai jalanan kota yang setiap harinya selalu penuh dengan hiruk pikuk mesin-mesin dengan raungan garang dan dengusan nafas hitam tak segar menyesakkan.
Sabtu subuh kemarin kami (saya dan teman-teman sahabat kota) diundang oleh Bandung Cycle Chic selaku pengagas kegiatan dan berkumpul di Taman Cikapayang tepat pukul empat pagi, ya lebih-lebih dikitlah. Maklum ada yang telat bangun gitu deh.
Jalanan kota Bandung masih menyisakan lembab dan basah hujan semalam. Lumayan menyegarkan, meskipun dingin tapi lumayan lah dinginnya nggak terlalu dingin-dingin amat.

Setelah semua personel yang mengkonfirmasi kehadiran datang kami lalu memulai perjalanan menuju Masjid terdekat untuk shalat Subuh Berjamaah terlebih dahulu di Masjid Salman ITB. Barulah sehabis shalat kami menuju titik pagi yang pertama yaitu Jembatan Cikapayang.
Cukup mengidam-idamkan bagaimana suasana jembatan di kala subuh. Melihat lampu-lampu pemukiman yang baru membuka mata dan sepinya kendaraan-kendaraan yang biasa melintas dengan kecepatan tinggi. Karena jalanan sepi, kami pikir ini adalah kesempatan yang lumayan untuk berfoto “gila-gilaan” di tengah jalan dan di antara tiang-tiang pancang jembatan.
Puas menjadi foto model, kami lalu bergerak ke selatan ke arah Stasiun Bandung. Mengejar kereta. Sungguh beruntung, kami bisa bertemu dan melihat kereta memulai perjalanan dan melihat kesibukan pengawai kereta memutar lokomotif agar bisa berbalik arah.
Disela-sela stasiun kami mencoba untuk mencicipi cakueh dan odading atau orang Jakarte bileng Kue guling dan Kue bantal yang masih panas-panas hangat. Untuk kedua kue ini saya beri nilai 8 karena suasana hangatnya.

Kehangatan Odading Cakueh harus kami tinggal karena perjalanan menuju ST 12 sudah menanti. Kami mengitari jalan Stasiun Timur bermaksud bertemu dengan Charlie van Houten (wo wo jangan jangan kau lakukan itu….). Namun sayang kami bingung dimanakah no 12 berada. Ya sudahlah akhirnya kami bertemu dengan Patung Pejuang Laswi di sekitaran via Duct, yang telah kehilangan pistolnya karena patung itu ternyata suka sembarangan tidur kalo dingin menyelimuti Kota Bandung.
Eh asal tahu ya, Patung Pejuang Laswi itu dulunya dibikin oleh Bapak Sunaryo dan model patungnya itu adalah Nenek Tuti Amir veteran Laswi. Kok hapal sih? Ya iya lah wong hari sebelumnya saya ketemu dengan beliau (Oma Tuti, red).
Mentari sudah mentereng di timur, waktunya menyudahi perjalanan di titik pagi yang terakhir yaitu sarapan di Roti Gempol. Mantap Bos rotinya, apalagi mayonaise-nya… wiw.. saya kasih nilai 8 juga ah karena suasana tokonya yang cozy. Cocok sebagai destinasi terakhir setelah bersepeda pagi.
Klo ada sepeda subuh yang berikutnya, musti berangkat lebih sangat subuh sekali. Minimal jam 3 pagi sudah go to. Okeh brother and sister, let’s go wes…

SEPEDA JUGA BISA IKUTAN MACET
12 Maret 2010
Wuih dah lama nih nggak posting tentang bersepeda… (najos! padahal baru minggu kemarin posting Almost Stolen).
Hehehe, maksudnya cerita tentang perjalanan bersepeda. Tanpa berpanjang lebar di kali tinggi sama dengan isi jadi kemaren Rabu teh ceritanya saya bersepeda seperti rabu-rabu biasanya untuk menghadiri Rabu Belajar Sahabat Kota.
Cuman berhubung cuaca yang selalu tidak bersahabat khususnya bagi pengendara yang tidak punya alat pelindung maka dengan sungguh terpaksa saya harus menambah peranti bersepeda untuk melindungi diri saya dari terpaan hujan angin dor dar gelap.
Dengan isi dompet yang terbatas saya pun memaksakan untuk membeli “jas hujan”. Kali ini jas hujan beneran, bukan jas hujan abal-abal yang saya pakai sebelumnya. Jas hujan berbahan dasar plastik yang bunyinya kresak kresek gampang sobek. Sebenarnya jas hujan plastik abal-abal itu masih layak dipakai meski beberapa bagian sobek karena terkait benda-benda yang runcing. Hanya saja gara-gara pindahan dan angkut-angkut barang, benda satu itu raib entah dimana oleh siapa.
Okeh saya akhirnya berhasil membeli jas hujan baru di Giant Progo. Harganya, lumayan buat nguras biaya hidup selama tiga hari. So sad so sad.
Beres beli JH (saya kasih dia nama JH {baca: Gi Eight}) saya pun meluncur ke DU 65 Pav.
Entah angin apa yang tiba-tiba berhembus. Jalanan kota Bandung tiba-tiba mendadak macet. Padahal hujan belum turun dan waktu belum menunjukkan jam pulang sekolah apalagi jam pulang pegawai PNS Gedung Sate.
Dan sialnya, macetnya mengimbas kepada saya si pengguna sepeda yang padahal mah bisa menggunakan akses trotoar.
Beuh, jangan harap bisa menggunakan trotoar! Tak ada trotoar yang layak untuk digowes di sekitar Jalan Cimandiri (belakang gedung sate). Jangankan sepeda, pejalan kaki pun sedikit kesulitan untuk menggunakan trotoar di sekitar jalan tersebut yang habis oleh pavingblok dengan isi tanaman yang nggak jelas tumbuhnya. Belum lagi saya terjebak tepat di tengah badan jalan di antara kerumunan kendaraan yang sesekali membuang gas kotornya dengan semena-mena.
Hosh!!! Emosi jiwa!!!
Tumben-tumbenan Bandung macet di hari Rabu! Biasanya juga malam minggu. Duh mana panas, gerah dan saya dikejar waktu.
Heu heu heu heu heu!!!
Saat ada kesempatan saya coba untuk menyeberang ke arah gedung sate. Dan memaksakan diri menggunakan akses trotoarnya yang tingginya 1,5 meter dari aspal. Sedikit lebih baiklah meskipun harus ngangkut-ngangkut sepeda.
Setelah berjibaku mengangkut sepeda, akhirnya saya tahu penyebab dari semua ini. Ada acara besar di depan Gedung Sate. Belakangan saya baru tahu klo acara ini namanya GASS (Gabungan Artis Sunda Sejabar).
Kemacetan tidak berhenti sampai Jalan Cimandiri saja. Ternyata Jalan Diponegoro hingga DU juga macet.
Sial Mon-mon deh.
Mengejar waktu yang tak pernah berhenti berdetik. Sepeda terus ku kayuh sambil tetap waspada terhadap kendaraan-kendaraan yang bisa saja berhenti mendadak, seketika.
Pukul tiga lewat beberapa menit. Lumayan terlambat dari waktu yang bisa kujanjikan.Maaf teman, bukan maksudku mengingkari tapi keadaan berkata lain.
Cih, macet bukan hanya milik besi-besi kaku yang menebar panas! Tapi milik siapapun yang kena imbas dari dari tingkah polah si besi-besi beroda yang semakin menjejali ruang hidup manusia.
ALMOST STOLEN hampir kapaok
4 Maret 2010
Syukur Alhamdulillah…
Sapedah sim kuring teu janten kapaok (Puji syukur, sepedaku hampir saja tercuri).
Di kamis pagi yang lumayan cukup cerah, saya ada janji ketemuan dengan seorang teman baru. Sebut saja namanya Hanna, mahasiswi S2 Itebeh. Hanna yang butuh informasi mengenai hewan-hewanan mengajakku berdiskusi dan bertemu di Salman ITB.
Singkat cerita, kami pun bertemu sesuai waktu dan lokasi yang ditentukan. Perkenalan dan diskusi tentang hewan taman kota pun bergulir.
Tengah asyik berdiskusi (jieh), tiba-tiba seorang bapak-bapak menyapa saya dari belakang. Perawakannya lumayan gendut, buncit, pendek, berkumis, menggunakan baju batik, membawa map plastik biru dengan isinya berupa kertas-kertas yang tampak penting.
“Permisi Dek,” sapanya.
“Ya Pak,” balasku kaget (sok-sok drama gini).
“Sepeda itu punya Adek?” tanyanya sambil menunjuk si Yelli yang tengah berbaring dipasung pada tiang listrik.
“Iya Pak, ada apa?” tanyaku membalas.
“Ini… motor saya kuncinya ketinggalan di fotokopian,” kata si bapak buncit itu mencoba menjelaskan.
“Saya mau ngambil kuncinya di fotokopian deket kebun binatang,” lanjut si bapak sambil menyimpan map-nya di tembok.
“Motor Bapak yang mana?” tanyaku kepengen tahu.
“Ituh, diparkir di sana,” sambil menunjuk tidak jelas entah dimana.
Oh, oke si Bapak Buncit ini mungkin butuh pertolongan untuk mengambilkan kuncinya yang tertinggal di fotokopian. Eit, Agung kamu salah, bukan itu maksud si bapak buncit. Si bapak bermaksud meminjam sepeda saya yang sedang diparkir untuk sekedar mengambil kunci motornya yang tertinggal. Gitu loh maksudnya
Ooooh….
“Saya boleh pinjam sebentar sepedanya,” pintanya memelas (tampangnya waktu itu memang memelas).
Untungnya si Agung kebal rayuan manis dan hipnotis (emang dasarnya aja otaknya dongo, bisikan hipnotisnya lambat terserap).
Ngahuleung (ngelamun) sebentar. “Oh, bapak mau pinjam sepeda?” tanyaku memastikan.
“Ia, deket kok cuman ke fotokopian yang deket jalan ke bawah kebun binatang!” terangnya sungguh-sungguh mencoba meyakinkanku.
“Adek ngerokok nggak?” tanyanya.
“Tidak pak.”
“Nanti saya belikan minuman,” bujuk rayu nih yeee…
Wah mulai nggak beres nih.
Agung baik hati suka menolong dan mudah bersimpati sedikit waspada. Ujug-ujug dipikiranku melintas sebuah solusi lain yaitu.
“Biar saya saja yang ke tukang fotokopiannya,” pintaku.
Si Bapak buncit hening sejenak. Krik krik krik. Kriuk….
“Ah jangan nanti merepotkan, biar saya saja sendiri,” balasnya.
“Nggak usah Pak, biar saya saja yang cari fotokopiannya. Bapak tunggu di sini. Fotokopian yang mau jalan ke bawah bonbin kan Pak?” sambil mendekati si Bapak dan berjalan menuju si Yelli.
Si Bapak mengambil kembali map-nya yang disimpan di tembok dan berjalan mengikuti saya. Di depan si Yelli yang sedang saya buka gemboknya si Bapak Buncit tetep keukeuh tidak mau merepotkan saya. Dan saya keukeuh tak mau kesucian si Yelli ternoda oleh PANTAT LAIN (selain saya dan bapak saya tentunya).
“Nggak usahlah nggak usah!” seru si Bapak.
Berhubung posisi pantat saya sudah bersetubuh dengan jok si Yelli, saya anggeur (tetap) keukeuh untuk menolong si Bapak mengambilkan kunci motornya yang tertinggal. Berdasarkan informasi sealakadarnya berkayuhlah saya meninggalkan si Bapak Buncit yang berjalan di belakang saya. Tiba fotokopian yang dia maksud, deket rumah makan soto madura. Fotokopian yang di daerah sini cuman ada satu. Yo weis saya coba tanya deh.
“A a, ada yang nemu kunci motor yang ketinggalan nggak?” tanya saya ke si aa fotokopian.
Hulang-huleung sambil tanya-tanya ke staff lainnya (gaya benar, staff gitu loh) yang sama-sama nggak tahu, akhirnya si Aa fotokopian menjawab,
“Wah nggak ada Kang.”
“Terimakasih A.”
Baiklah, bergeser ke toko di sebelahnya yang jual aksesoris printer. Kayaknya si Bapak nggak menunjuk tempat ini deh. Memperhatikan wilayah sekitarnya dengan saksama dan dengan tempo waktu sesingkat-singkatnya. Musti balik dan nanya ke si Bapak Buncit deh, tapi sebelumnya sms si Hanna dulu.
Send: Si Bapak tadi masih ada di situ nggak?
Receive: Ga ada, cuman ada botol minum doang di tembok.
Di perjalanan menuju Salman kembali, saya sama sekali tidak berpapasan dengan batang hidungnya si Bapak Buncit. Kemanakah ia gerangan?
Klo saya boleh suudzon, ini bener-bener ada yang nggak beres. Almost almost…
Didedikasikan untuk sepeda Yandi yang sudah kapaok di parkiran Itebeh dan hanya tersisa gemboknya doang.








