Tidak sepenuhnya saya adalah orang Bandung. Meski ada sedikit berbau kata Bandung-nya, yaitu Kabupaten Bandung hehehe, tapi hampir kebanyakan waktu saya dihabiskan di Kota satu ini. Kota yang banyak julukannya, dari yang paling bagus hingga julukan yang amit-amit baunya ini kiprahnya sudah mencapai angka 200.

200 tahun bandung

Perjalanan yang sangat panjang buat Bandung.

Di usianya yang sekarang pun, Bandung masih tidak bisa lepas dari segala problematika yang ada. Dari tata kota yang semarawut, pembangunan yang nggak jelas kemana arahnya, hingga kondisi lingkungan yang kian hari kian buruk.

Bade kamana atuh Bandung?

Beberapa menit yang lalu saya membaca sebuah notes FB teman saya yang berisi curhatannya terhadap kota Bandung. Menurut saya, tulisannya layak untuk dibaca dan disebarluaskan bagi mereka yang ngerasa menjadi warga Bandung, pernah tinggal di Bandung, jatuh hati di Bandung, diputusin di Bandung dan lain-lain sebagainya di Bandung.

Berikut adalah rangkaian kata dari Dimas Sandya tentang Bandung,

Di bawah pemerintahan kolonial, Bandung pernah mahsyur dengan julukan Parisj Van Java. Sebuah citra yang kini tampak usang. Untuk mengembalikan identitasnya Bandung pun berbenah. Jalan Braga sebagai ikon klasik Kota Bandung, dirombak total. Tak tanggung-tanggung, Pemkot Bandung rela merogoh kocek hingga miliaran rupiah untuk ‘sekedar’ mengganti aspal dengan kepingan batu andesit. Lampu-lampu berornamen klasik kemudian ditancapkan. Pohon-pohon karet yang harganya jutaan ditanam. Semua demi harapan bahwa Bandung masih bisa menampilkan sekeping potongan masa lalunya.

Sayang belum genap dua tahun berjalan, usaha ini belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan. Jalanan batu itu tak pernah benar-benar jadi pedestrian. Dan pohon-pohon karet pun berganti karena mahalnya perawatan dan rawan pencurian. Meski batu-batu itu pecah belah karena beratnya kendaraan, Pemkot masih keukeuh agar lapisan batu di Braga tetap dipertahankan. Padahal sejatinya sebuah usaha revitalisasi kawasan yang tidak disertai penelitian dan konsultasi dengan ahli sejarah, arsitektur, maupun budayawan hanya akan memberikan hasil yang sia-sia. Kali ini, giliran Braga yang jadi korban.

Dulu, Bandung juga sudah dipersiapkan menjadi calon ibu kota Hindia Belanda sehingga ditata dengan sangat apik agar nyaman ditinggali. Puluhan taman pun dibangun. Dari yang sekedar jalur hijau seperti Tjilaki Plein, taman kota yang rindang seperti Molluken Park, sampai hutan kota yang dilengkapi taman hewan seperti Jubileum Park. Apalagi udara Bandung yang sejuk, membuat suasana Bandung terasa semakin segar. Tak heran jika Bandung kemudian disebut-sebut sebagai Kota Kembang. Semua berkat taman-taman nan elok dengan pemandangan bunga-bunga yang cantik.

Tapi lihatlah nasib taman kota kini. Kusam dan berpagar, nyaris tak bernyawa. Hanya beberapa yang masih tampak cantik terpelihara. Itu pun karena tangan-tangan sponsor yang berjasa, sehingga namanya bisa dipajang. Untunglah masih ada taman-taman mobile yang jadi penyejuk di persimpangan. Meski terkesan dipaksakan, setidaknya taman itu masih bisa menyajikan warna-warni bunga dan tanaman. Sekedar untuk mengingatkan kalau Bandung ‘pernah’ jadi Kota Kembang.

Jika bicara tentang Bandung, rasanya memang sulit untuk lepas dari kisah-kisah romantisme masa lalunya. Padahal kondisi Bandung saat ini sangat jauh berbeda dengan suasana Bandung tempo dulu.  Jejak-jejak kejayaan Bandung di masa silam hanya dapat kita temui di beberapa sudut jalan. Itu pun dalam kondisi yang memprihatinkan. Beberapa diantaranya banyak yang rusak dan tidak terawat atau malah berubah menjadi bangunan-bangunan modern yang tidak mempunyai nilai sejarah. Jadi untuk sementara lupakan Bandung sebagai Kota Kembang, apalagi Paris-nya Jawa!!

Hal ini memang sangat disayangkan. Kota yang pernah disebut-sebut sebagai Kota Arsitektur dunia karena kecantikan gedung-gedung art deco-nya, kini malah semakin kehilangan identitas. Bangunan-bangunan heritage dirobohkan. Berganti bangunan-bangunan baru yang menampilkan keangkuhan. Para pengelola dan warga kotanya lebih menyukai pembangunan mal-mal dan pusat pusat keramaian lainnya dibanding pemugaran dan pelestarian bangunan bersejarah.

Perlahan tapi pasti, citra Parisj van Java berangsur memudar dan gambaran Kota Kembang hanya tinggal kenangan. Sebuah kota yang indah dengan tata letak yang teratur hanya tersisa dalam cerita. Julukan Bandung kini adalah Parit Van Java, dengan banjir cileuncang dimana-mana. Dari mulai sistem drainase kota, hingga revitalisasi kawasan, gagal dilakukan pemerintah kota. Dalam pembangunannya, Bandung berkembang semakin cepat dan bahkan kurang terkendali.

Saat ini, relasi antara pengelola kota dan warganya kurang terbina dengan baik. Pihak pengelola kota seakan enggan membeberkan rencananya ke publik dan membiarkan warga kotanya untuk memilih sekian alternatif cara membangun kotanya. Ruang yang diberikan bagi mesyarakat untuk berpartisipasi secara efektif dan efisien dalam pengambilan kebijakan yang menyangkut kepentingan publik sangatlah minim. Alhasil, jadilah Bandung yang semakin semrawut dari hari ke hari. Di usianya yang semakin senja, kota ini tampak letih menanggung bebannya sendiri. Bahkan pada saat hari libur atau akhir pekan, Bandung seringkali hampir ‘pingsan’ karena tak kuat lagi menahan derasnya arus pendatang.

Apa yang terjadi di Bandung hanyalah potret yang mewakili kondisi kota-kota besar lainnya di Indonesia. Ketidakselarasan para pengelola kota dengan para perencana membuat penataan kota-kota Indonesia ‘nyaris’ tak ada yang beres. Rendahnya interaksi dan koordinasi tergambarkan ke dalam kondisi kota yang begitu carut marut dan tampak kurang terencana.

Kita amati saja perbedaan antara wilayah Bandung inti dan Bandung perluasan. Lihatlah, betapa terstrukturnya kota yang direncanakan oleh pemerintah kolonial. Mereka begitu apik dalam menata jalan dengan pohon peneduh di kedua sisinya. Mereka juga begitu manusiawi dalam menyediakan ruang-ruang terbuka hijau dalam kota. Namun, jika kita berjalan sedikit ke arah timur. Lihatlah betapa gersang, berantakan, dan kurang indahnya daerah tersebut. Adakah ruang-ruang terbuka hijau di sana yang menjadi tempat bagi publik untuk berolahraga atau sekedar berekreasi? Kalau pun ada, sepertinya masih bisa dihitung dengan jari.

Hal lain yang menjadi sorotan ialah mengenai masalah penggunaan lahan di kota ini. Banyak orang yang bilang kalau di Bandung, kita bisa membangun apa saja dan dimana saja. Lho, kok gitu? Memang itulah kenyatannya, selama yang dipikirkan oleh pengelola kota ini hanya konsep kota “maruk” jasa. Lihat saja kondisi di sepanjang jalan Dago yang dulunya diperuntukkan untuk kawasan perumahan. Saat ini, sebagian besar lahan yang ada di sana telah berubah fungsi. Ada yang jadi plaza, kantor, factory outlet dan sebagainya.

Itu baru satu jalan. Kasus-kasus yang terjadi di daerah-daerah lainnya juga hampir serupa. Belum lagi persoalan Babakan Siliwangi yang masih menjadi pro-kontra. Intinya setiap lahan benar-benar dilihat sebagai peluang bisnis tanpa diantisipasi dampak jangka panjangnya. Kalau sudah begini lantas orang sering bertanya,” Kamana atuh insinyur planologina?”.

Bandungku dulu dan kini memang telah banyak berubah. Kota taman yang dulunya penuh dengan pepohonan yang rindang serta bunga-bunga yang bermekaran, kini telah menjadi sebuah kota metropolitan yang ramai dengan segala fenomenanya. Kemacetan, polusi, dan banjir ‘cileuncang’ telah menjadi bagian dari keseharian kota ini.

Tapi Bandung tetaplah Bandung. Sejak dulu hingga kini, kota ini senantiasa menawarkan nuansa yang berbeda hingga membuat orang betah untuk berlama-lama melancong. Meski kini kondisinya kurang nyaman, pesona yang dihadirkannya tetap mampu menjadi magnet yang menarik banyak orang untuk datang dan singgah di kota ini. Tidak terkecuali, bagi mereka yang rela jauh-jauh datang dari negeri singa atau negeri jiran.

Di usianya yang ke-200, ingin rasanya membuat daftar 200 hal yang membuat saya bangga jadi orang Bandung. Sayangnya, hal ini terusik juga dengan adanya 200 kerusakan yang ada di Bandung. Lalu seperti apakah kondisi Bandung nanti? Akankah ada Bandung yang lebih baik di tengah kekiniannya yang begitu semrawut? Mudah-mudahan saja masih ada secercah harapan untuk Bandung.

Dengan segala potensi yang ada, Bandung harus segera menetapkan pilihan dan visinya ke depan. Tidak perlu jadi metropolis, tapi sakit-sakitan. Toh, kemajuan suatu kota bukan melulu soal kemodernan. Sudah saatnya kualitas hidup dan kenyamanan warga menjadi prioritas utama. Kalau tidak, nasib Bandung mungkin akan seperti DKI Jakarta yang menanggung peran terlalu banyak hingga transportasinya nyaris lumpuh. Semua karena aglomerasi penduduk dan pemusatan kegiatan yang berlebihan. Akibatnya gelar Ibu Kota pun terancam dipindahkan.

Semoga saja ke depannya para pengelola dan warga kota ini mampu bersikap lebih arif dan bijak dalam membangun dan menjaga kota ini. Kita perlu bekerja sama untuk mengembalikan pesona Bandung agar tak lekas hilang ditelan masa. Agar kecantikannya bisa tampak kembali dan senantiasa terjaga. Agar Bandungku dulu, kini, dan nanti bisa tetap dipuja. Selamat ulang tahun Bandung!!

 

Sekali lagi, selamat Ulang Tahun Bandung!!!

Orang sakit emang cocoknya makan bubur ayam. Apalagi klo bubur Ayam Pak Otong yang suka mangkal di jalan Sudirman pasar Andir Bandung. Let me tell the taste..

Seharian nangkring di depan komputer. Di tambah kondisi tubuh yang semakin tidak membaik. Batuk aku makin menjadi-jadi, kayak singa meraung-raung minta  dikelonin (bingung kan?). Untunglah malam itu si Bos ngajak makan-makan di luar, dan dia milih makan bubur ayam. Pas banget nih buat orang sakit, kebetulan di kantor ada dua orang yang lagi kena gejala penyakit ga jelas. Yang satu batuk-batuk, yang satunya lagi gejala darah rendah sampe nge-jengkang gara-gara senam pagi yang terlalu diforsir.

Dari Jalan A. A Martanegara kami bertolak ke arah Jalan Sudirman dimana tukang bubur ini biasa mangkal. Cuaca agak-agak gerimis linci-linci gitu, tapi suasana di jalan Sudirman menurut aku tetep hingar bingar, maklum aja sepanjang jalan ini banyak banget tempat karaoke dan pub serta tempat mass mass di pijat (biasa disebut massage).

Setelah melewati Alun-alun Bandung yang mulai mengeliat menjajakan daging mentah dan pasar Andir yang menjajakan sayuran akhirnya kami tiba. Sebuah spanduk hijau besar yang terpampang di tembok menyambut kedatangan kami dengan tulisan jelas tertangkap mata BUBUR AYAM PA’ OTONG.

pak otong

Segera saja kami memesan Bubur Ayam Ati Ampela yang satu porsi harganya Rp. 12.000. Sambil menunggu pesanan kami pun ngobrol-ngobrol. Cerita-ceritanya sih nih tukang bubur udah ada sejak 60 tahunan yang lalu. Seumuran lah sama jaman-jaman Indonesia Merdeka. Yang lebih mencengangkan lagi, ternyata pernah ada artis yang syuting di tempat ini. Mau tahu siapakah artis tersebut? Artis itu adalah Kang Darso, hehehehe…

bubur ayam pa otong “I like that, yehaa”
                   \

Hidangan akhirnya tiba. Dilihat dari penampakannya nih bubur klo dibalik pasti bakal tumpah. Tapi justru bagus kok buat suasana tenggorokan aku yang suka dehem-dehem ini. Uniknya nih tukang bubur adalah mereka tidak menyediakan kerupuk dan juga kecap manis, hanya kecap asin dan sambel cabe. Padahal saya adalah tipe doyan kecap klo makan bubur. Tak apalah, mari kita coba rasanya.

Gurih saudara-saudara. Rasanya seperti nasi yang sudah jadi bubur. Tanpa tambahan kecap dan kerupuk, rasa bubur ini tidak berkurang sedikit pun. Pas banget buat orang yang sedang sakit karena tidak banyak mengandung yang berminyak-minyak, udah gitu rasanya asinnya juga cukup terasa jadi klo ada yang nambahin tuh kecap asin berarti yang makan nih bubur pengen kawin kali ya.

Namun sayangnya, bubur pa’ otong kok malah ngasih minum air putih biasa aja. Padahal klo cuaca hujan dan dingin pastinya lebih enak klo ada teh hangat.

Bagi yang mau mampir juga, bubur Pa’ Otong buka setiap hari dari jam 18.00 hingga pukul 01.00 dini hari. Jangan lupa bawa uang lebih, siapa tahu mau belanja sayur di pasar Andir atau daging mentah di Alun-alun Bandung, hehehe.

makan bubur

“Meknyus Rasanyo”

-ismail agung-

Lingkar Hijau Bandung

15 September 2010

Kemana lingkar hijau selama ini?

Mungkin pegiat komunitas di Bandung pernah mendengar yang namanya lingkar hijau yang dulu berdiri pada tahun 2006 silam. Sayup mayup, keeksisan lingkar hijau yang acap kali muncul pada saat perayaan Hari Bumi ditelan oleh bumi itu sendiri dalam 2 tahun ke belakang. Kemanakah mereka?

Jawaban yang bisa disimpulkan cukup sederhana, SIBUK! Ya sibuk. Para penggagas lingkar hijau tengah sibuk pada dua tahun kemarin. Dan itu wajar, karena lingkar hijau bukan lah komunitas tersendiri yang mana di dalamnya ada suatu struktur kepenggurusan hingga ke program dan markas besar. Lingkar hijau ibarat JARINGAN yang terdiri dari kumpulan sel-sel yang tak lain adalah komunitas-komunitas yang ada di Bandung, maka tak lain lingkar hijau adalah komunitas-komunitas itu sendiri.

Keberadaan lingkar hijau justru mempertemukan orang-orang yang berkegiatan di komunitasnya masing-masing untuk setidaknya mengenal tentang keberadaan komunitas lainnya yang tentu saja berdomisili di KOTA BANDUNG.

Tak kenal maka tak wauh, tak wauh maka ta’aruf , ta’aruf maka wauh. (wauh= kenal, sunda; ta’aruf: kenalan, arab). Ini mungkin landasan yang ingin dibangun (menurut saya, mohon koreksi mun salah).

Karena ada bau-bau hijaunya, mungkin sebagian orang mikirnya “wah ieu mah kumpulan komunitas anu peduli lingkungan” (terjemahan, “wah ini kumpulan komunitas yang peduli lingkungan”). Sulit juga untuk menampiknya, padahal ga semua yang tergabung di lingkar hijau adalah anak-anak yang sok HIJAU. Ada kok rekan-rekan komunitas lainnya yang bergerak di bidang sosial, edukasi dan akademisi. Tapi bisa juga pernyataan itu muncul karena aksi yang muncul dan dilakukan oleh lingkar hijau selalu pada saat peringatan Hari Bumi.

Memang sih kesannya seperti itu, tapi tetap saja meskipun beraksi pada hari bumi namun isu yang dibawa tiap-tiap komunitas tentunya yang berkaitan dengan aktifitas dari mereka masing-masing. Misal si komunitas anu sedang menyoroti masalah anu, komunitas inu mengkaji hal inu, atau kumpulan ono ngikut-ngikut aja meh rame (meh=biar, sunda).

Lagian juga klo namanya lingkaran BIRU, ntar disangkanya kumpulan orang-orang yang mendukung gerakan Keluarga Berencana. Makin lieur deui (makin pusing lagi).

Jadi, keberadaan lingkar hijau adalah untuk memberikan ruang apresiasi bagi tiap-tiap komunitas di Bandung dalam satu wadah bersama-sama (klo bingung berarti sama).

Nah harapan ke depan, pasca kembalinya para penggagas dari medan perang. Mudah-mudahan lingkar hijau bisa kembali melakukan hal-hal yang seperti dulu lagi. Sama-sama bikin kegiatan apa yang ga harus ribet dengan segala struktural dan proposal akan tetapi bisa menunjukkan satu bentuk kepedulian bersama bagi kota bandung tentunya, mengenalkan satu sama lain komunitas, memperkaya jaringan yang ada dan neang jodoh meureun (cari jodoh kali). Kita tunggu saja aksinya di Jembatan Cikapayang Bandung.

 

Ciawi, Tasikmalaya 2010.

Ditulis setelah beberapa hari lalu ikutan

buka bareng lingkar hijau di Jalan Pasang no.18

Ngabuburit Sepanjang Rel

27 Agustus 2010

rel kereta

Ceritanya sih mau buka bareng di rumahnya teman. Tapi berhubung saya orangnya sok tahu dalam mencari jalan pintas terdekat menuju rumahnya, eh malah nyasar dan dengan penuh keterpaksaan harus menyusuri rel kereta.

Untung saja saya dan si Yelli (sepeda) tidak kesamber kereta yang datang tiba-tiba dari belakang. Terima kasih kepada bapak penjaga lintasan di Parakan Saat yang senantiasa berteriak-teriak mengingatkan.

Menyusuri rel kereta sambil ngabuburit, mantaps!!

Puasa seharusnya tidak menjadi halangan bagi kita untuk melakukan sederet aktifitas dan rutinitas yang biasa dijalankan. Jangan hanya karena puasa kita menjadi individu yang malas-malasan. Maka oleh karena itu, bersepeda di bulan puasa bukanlah hal yang mustahil apalagi mus mujiono untuk dilaksanakan. Asal dilakukan dengan tepat, bersepeda tidak akan menyebabkan puasa batal.

Nah jika memang mau bersepeda saat berpuasa, alangkah baiknya ikuti tips-tips berikut ini.

  1. Rencanakan perjalanan. Tentukan akan bersepeda kemana. Bersepeda tanpa tujuan hanya akan membuat lelah perjalanan. Lebih baik jika lokasi yang hendak dituju jaraknya tidak lebih dari 20 km, misal dari kota Bandung ke Jatinangor. Ini mah cari penyakit.
  2. Hindari rute yang memiliki sejarah macet yang sangat kelam. Jalan macet dapat meningkatkan emosi yang berpotensi mengurangi pahala. Hindari juga “jam-jam macet” seperti jam pulang sekolah ataupun jam pulang kantor.
  3. Pilih waktu yang tepat. Setelah sahur atau menjelang bedug adalah waktu yang tepat untuk bersepeda. Bersepeda di kala mentari tegak berdiri akan menghabiskan banyak stamina yang harus diganti dengan seteguk air segar. Otomatis batal, kecuali pura-pura lupa.
  4. Ambil jalur hijau. Selain lebih segar tentunya pepohonan pinggir jalan akan senantiasa meneduhkan hati kala disinari oleh mentari. Jangan lupa juga topi dan helmnya, sinar UV A dan UV B cukup berbahaya terhadap kulit.
  5. Bersama teman tentu lebih seru. Ajak teman-teman yang lain untuk ikut meramaikan kegiatan bersepeda. Atau agendakan sebuah acara bertajuk “Buka Bareng Sepeda”, “Ngabuburit Sambil Sepedahan”, “Sepeda Sahur”, “Baksos featuring Sepeda” dan lain-lain. Lebih banyak teman, lebih banyak cerita dan lebih menyenangkan.
  6. Cek kondisi sepeda. Jangan sampai sepeda kempes atau rantai putus di tengah jalan dan terpaksa harus di dorong sampai rumah. Sediakan pula uang darurat sebagai antisipasi perjalanan.
  7. Sahur yang baik dan benar. Lupa sahur, lebih baik urungkan niat anda untuk bersepeda. Bahaya jika anda pingsan di tengah jalan dan sedang macet-macetnya. Sahur yang baik bisa ditanyakan kepada dr. Hembing. Yang pasti 4 sehat 5 kemahalan.
  8. Banyak bersabar. Sepeda menempati urutan pertama kendaraan yang sering disalip oleh kendaraan lain. Maka oleh karena itu banyak-banyaklah memanjatkan doa bagi yang menyalip (doa yang baik). Semakin banyak kesabaran, semakin banyak pahala yang didapat.
  9. Istirahat bila merasa lelah. Jangan paksakan fisik anda untuk mengenjot sepeda. Ambil napas yang banyak untuk mengisi kembali oksigen pada darah yang berkurang karena digunakan pada saat proses pembakaran energi. Disarankan untuk tidak beristirahat di belakang angkot apalagi bus Damri.
  10. Ini adalah tips ke sepuluh. Silakan anda isi sesuka dan semau anda jika masih banyak yang harus dilengkapi. Kirim tips ini pada ke sepuluh teman anda. Bagi yang mengirimkan pesan ini anda akan merasakan manfaatnya, bagi yang tidak anda juga akan merasakan manfaatnya.

Sekian 10 tips dari saya yang ada benarnya dan ada salahnya. Dicoba boleh, dibaca saja juga boleh. Pesan terakhir adalah, jangan lupa tips no 10.

Helmi Yayaya

4 Juli 2010

Picture 044 Picture 046
Picture 045 Picture 047

Yihaa, perkenalkan barang baru saya. Namanya Helmi Yayaya. Barang baru yang saya beli di Roemah Korting (Garage Sale) kemarin (3 Juli, red). Dapat bekas dari Kandi dengan harga dikorting 60% harga aslinya. Hahahay..

Dengan helm ini, setidaknya melengkapi aktivitas saya bersama si “Yelli” yang agak jarang diraba. Let’s Go Bike yehaaa!!!

NB: Buat Wahyu yang baca nih postingan, saya ikhlaskan helm kuning saya!! Sebagai kompensasinya anda saya denda karena sudah menunggak selama 3 bulan lebih.

Sepeda Kurir

29 Mei 2010

Rabu minggu depan (2 juni 2010) saya akan seminar satu skripsi saya. Mohon doa restunya. Dan semoga dilancarkan.

Kemarin saya dapat kesempatan lagi untuk menjajal jalanan bersama sepeda kuning saya “Yelli”. Bisa dibilang dah lama banget ga mengenjot jarak jauh. Selama ini paling hanya dari gedung kampus sampai jalan raya. Itu juga paling seminggu cuma dua kali.

Dikarenakan harus segera mengirimkan draft proposal kepada dosen lima hari sebelum waktu seminar dan teman-teman pada sibuk dengan urusannya masing-masing serta tidak bisa memaksakan mereka untuk mengantar saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengendarai si Yelli saja.

 Picture 015

Nyasar. Tentu saja. Untungnya saya nyasar ga sampai tiba-tiba ada di Surabaya.

Pengalaman baru yang berbeda dalam bersepeda. Layaknya Mr. Postman. Mengirimkan surat dan paket kepada seseorang. Dari jalan mulus, jalan berdebu, jalan berkerikil, jalan macet, jalan berasap, jalan menurun, jalan menanjak, dan jalan tersesat semua dihadapi dengan gagah berani.

Tapi ada ga enaknya juga. Yaitu peluh keringat yang bercucuran. Masak bertamu ke rumah dosen kok bau keringat. Dan lagi celananya dilipat selutut. Ga sopan banget lah.

Klo dosennya apresiatif sih dia justru terkesan. Dan lagi dia jadi tertarik untuk mencoba bersepeda. Malah dia punya ide baru yaitu bersepeda sambil pengamatan burung. Seru juga tuh. Patut dicoba.

Terima kasih untuk hari yang telah mengiringi pengiriman surat kali ini dengan cuaca cerah.

Mei01

Saking silaunya mentari di sore hari, si Bapak niat bawa pintu untuk melindunginya dari UVA dan UVB.

Foto diambil pada saat saya sedang bersepeda. Sambil bersepeda. Sambil gowes sepeda. Kapan-kapan pengen coba lagi ah. Menangkap momen pada saat bersepeda. Seru kayaknya. (menggunakan hp nokia 6300)

Mei01 Mei05 Mei04  Mei05

Liputan Nonton Bareng dan Ngobrol tentang Listrik dan Mikro Hidro

Oleh: Dedy Herdiana, wartawan Tribun Jabar

ADA yang menarik pada acara yang digelar Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jabar dan Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB), belum lama ini. Mereka menggelar nonton bareng dan diskusi. Judulnya, "Nonton Bareng dan Ngobrol tentang Listrik dan Mikro Hidro, Sebagai Salah Satu Teknologi Energi Listrik yang Ramah Lingkungan."

Berbeda dengan umumnya acara-acara nonton bareng, acara nonton bareng di Sekretariat Walhi Jabar, Jumat (9/4) ini jauh dari susana yang hiruk-pikuk. Suasana nonton terasa begitu tenang. Hanya sesekali saja diselingi canda ria, namun kembali tenang.

Komunitas pencinta lingkungan yang hadir di acara ini memang terlihat berusaha untuk mendapat informasi tambahan sebanyakbanyaknya, baik dari film-film yang ditayangkan, maupun dari rekan-rekan lain yang hadir.

Ismail Agung salah seorang peserta yang kerap mengikuti kegiatan YPBB atau Walhi, mengatakan seringnya ikut itu karena selain menambah teman yang sama-sama peduli lingkungan, juga dalam kegiatan itu biasanya banyak mendapatkan informasi-informasi baru baik soal teknik atau cara berbuat ramah lingkungan maupun informasi fakta soal kondisi lingkungan sekarang ini.

"Saya tahu adanya YPBB sejak tahun 2005. Sejak itu sering ikut hadir dalam kegiatannya terutama kalau kegiatannya tentang Zerowaste seperti saat membahas soal plastik. Meski tidak menjadi anggota atau relawan, kita bisa saling bertukar pikiran dan utamanya kita banyak mendapat info atau fakta baru soal kondisi lingkungan," tutur Agung.

Kesukaannya mengikuti kegiatan-kegiatan yang beretamakan lingkungan, dikatakan Agung karena sebelumnya pun sudah menyukai kegiatan-kegiatan yang bertemakan kepedulian terhadap lingkungan.

"Dengan seringnya ikut kegiatan yang bertemakan lingkungan ini, kita merasa menjadi ada teman seperjuangan. Dan kita merasa ada teman yang bisa saling menjaga dan mengoreksi sikap kita, karena dalam kegiatan Zerowaste khususnya kita sering membuat komitmen-komitmen bersama untuk dilaksanakan oleh masing-masing individu dan setiap waktu tertentu kita berkumpul lagi untuk saling mengevaluasi," paparnya. (dedy herdiana)

Sedikit eksis di koran euy hihihi…

earth day event 

Barusan dapat tag facebook dari seorang kawan. Penasaran nih, se EARTH apa sih EARTH DAY besok?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.