Kapsul Waktu dan Impian 2009
4 Desember 2011
Saya yakin setiap orang punya impian. Baik itu impian besar, impian kecil, bahkan impian siang bolong. Percayalah, ga ada yang salah dengan bermimpi. Selain masih gratis, tentunya kita bebas untuk memimpikan apa yang memang ingin kita impikan.
Akan tetapi, antara impian dengan realita sebisa mungkin harus disinkronkan. Boleh punya mimpi setinggi langit atau 5 centi dari jidat, tapi klo ga ada usaha mah sama aja dengan berharap Helmy Yahya datang mengetuk pintu rumah. Bahkan, terkadang kita tidak sadar bahwa apa yang saat ini sedang kita lakukan justru semakin mendekatkan kita dengan impian itu sendiri.
Tapi apakah kita sadar dengan apa yang sebenarnya kita impikan? Atau jangan-jangan kita malah lupa dengan impian itu sendiri karena kadung menikmati jebakan rutinitas. Atau mungkin karena kepasrahan hidup membuat kita terpaksa mengalihkan diri.
*****
2008-2009 adalah tahun pelarian bagi saya. Saya hidup hanya untuk mengisi hari dimana pagi membangunkan saya. Tak ada tujuan yang jelas kemana saya akan membawa diri. Hanya mengikuti mulut-mulut yang berbicara.
Perubahan dimulai di penghujung tahun 2009. Bersama kawan-kawan dari Komunitas Sahabat Kota, kami semua menulis pada secarik kertas mengenai impian yang ingin diwujudkan dalam kurun waktu lima tahun. Saya berpikir keras. Mencoba merunutkan impian, dari tanggung jawab yang harus diselesaikan, hingga buaian dan angan-angan. Lalu kami menyimpannya dalam sebuah wadah yang kami sebut kapsul waktu. Menguncinya rapat, hingga batas waktu yang sudah kami tentukan, penguhujung 2014.
Dua tahun sudah waktu berlalu. Sebagian dari impian itu telah berhasil saya wujudkan. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi saya pribadi. Mewujudkan impian kedua orangtua. Menemukan cinta yang membuat saya menyesali kepergiannya. Menemukan petualangan terhebat yang pernah saya alami. Mendapatkan tantangan yang harus saya hadapi.
Dan satu impian lagi akan segera terwujud sebelum pergantian tahun tiba. Impian yang sangat saya dambakan. Saya tidak menyadari bahwa perjalanan yang saya lalui selama dua tahun ibarat pupuk yang saya berikan untuk kesempatan ini. Kesempatan yang tak mungkin saya lewatkan begitu saja.
Impian, saya akan datang menjemputmu.






4 Desember 2011 at 10:16 am
setuju dengan kata2nya, impian tak akan terwujud bila tak ada usaha~
semangat kak~
5 Desember 2011 at 7:34 pm
Semangat semangat semangat pantang kendur…
4 Desember 2011 at 8:55 pm
Yang penting mau berjuang untuk mewujudkannya
5 Desember 2011 at 7:33 pm
Yoi, setuju Bung \m/
5 Desember 2011 at 12:57 pm
saya bermimpi, maka saya hidup…
saya hidup untuk mewujudkan semua mimpi-mimpi…
salam…
5 Desember 2011 at 7:33 pm
Boleh juga quote-nya
5 Desember 2011 at 10:04 pm
Saya punya kapsul waktu tahun 2006, tapi…yah saking bulukannya, sampe lupa di mana naruhnya. Hahaha
6 Desember 2011 at 11:44 am
asal jangan mimpi basah aja mas wkwkw..
insya allah 2 bulan lagi impian saya mendapatkan si kecil buah hati akan segera terwujud insya allah..
semoga impiannya cepat terwujud mas..aamiin
8 Desember 2011 at 1:16 pm
Mimpi basah jangan dilarang mas, itu mah natural dan biologis hehehe.
Good luck buat impiannya
11 Desember 2011 at 6:36 pm
mantap. semoga kecapai sampe yang 2014, bahkan impian2 selanjutnya.. amiin
hehehe.
mimpi = motivasi…
tapi jangan lupa untuk bangkit ketika banyak bermimpi lalu berusaha menggapai mimpinya…
hidup mimpi.. ^0^
16 Desember 2011 at 3:25 pm
nice gan